AGAM, KP – Jalur Palupuh di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali menjadi lokasi pengungkapan peredaran ganja dari Sumatera Utara.
Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumbar menggagalkan penyelundupan hampir 30 kilogram ganja yang hendak dibawa dari Mandailing Natal menuju Padang Panjang, Selasa (15/9/2026) dini hari.
Kepala BNNP Sumbar, Toton Rasyid, menjelaskan bahwa pengungkapan berawal dari penyelidikan Tim Pemberantasan dan Intelijen BNNP Sumbar terkait rencana pengiriman ganja asal Mandailing Natal menuju Padang Panjang.
Petugas kemudian bergerak cepat melakukan penghadangan terhadap mobil pelaku di lokasi kejadian.
Saat hendak dihentikan, pengemudi mobil Toyota Rush hitam bernomor polisi T 1613 MP berinisial S nekat melakukan perlawanan.

Pelaku menabrakkan kendaraannya ke mobil petugas BNNP Sumbar hingga rusak parah demi membebaskan diri.
Meski sempat melawan, petugas berhasil meringkus pelaku S tanpa korban jiwa. Saat penggeledahan, ditemukan satu karung besar biru berisi 20 paket ganja serta 10 paket besar tambahan yang dibalut lakban cokelat dengan total berat bersih mencapai 29.853,32 gram.
Dari hasil pemeriksaan awal, S mengaku hanya bertugas mengantarkan puluhan paket ganja tersebut kepada penerima di Padang Panjang.
Petugas bergerak melakukan pengembangan hingga menangkap pria berinisial A di kawasan SPBU Ganting, Padang Panjang.
Pelaku A mengaku bergerak atas perintah Solihin, seorang narapidana yang saat ini tengah mendekam di Lapas Kelas IIB Bukittinggi.
Total barang bukti yang disita meliputi 20 paket seberat 19.494,69 gram dan 10 paket seberat 10.358,63 gram.
Jalur Palupuh, Rute Tercepat Peredaran Ganja Sumut ke Sumbar
Pengungkapan 30 kilogram ganja di Simpang Pasar Koto Baru ini hanyalah episode terbaru dari panjangnya daftar operasi di jalur Palupuh.
BNNP Sumbar sendiri telah memetakan tiga jalur utama yang kerap digunakan jaringan pengedar untuk menyelundupkan ganja dari Sumatera Utara ke Sumbar.
Dari ketiga rute tersebut, jalur Palupuh di Kabupaten Agam tercatat sebagai rute yang paling sering dimanfaatkan.
Kepala BNNP Sumbar sebelumnya, Brigjen Pol Ricky Yanuarfi, mengungkapkan efisiensi waktu menjadi alasan utama mengapa jalur Palupuh begitu diminati.
Menurutnya, ganja berasal dari dua provinsi penghasil utama, yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Untuk yang masuk ke Sumbar, banyak berasal dari Mandailing Natal.
Karena itu, penangkapan sering dilakukan di kawasan Palupuh, Kabupaten Agam.
Madina merupakan salah satu daerah penghasil ganja terbesar di Pulau Sumatera selain Aceh.
Jalur Palupuh pun menjadi primadona karena merupakan akses tercepat dan paling dekat dari arah Sumut menuju wilayah tengah Sumbar.
Jalur Palupuh telah menjadi lokasi pengungkapan berulang sepanjang tahun 2026. Pada Mei 2026, BNNP Sumbar menggagalkan penyelundupan 150 kilogram ganja yang dikemas dalam tujuh karung di jalur Bukittinggi-Medan.
Empat tersangka yang diamankan seluruhnya merupakan warga Kota Bukittinggi. Barang bukti tersebut kemudian dimusnahkan pada Juni 2026.
Kemudian pada Desember 2025, 100 paket ganja diamankan di lokasi yang sama. Dua kurir, Andrey Pratama Putra (35) dan Andi Saputra (38), mengaku diperintahkan oleh Solihin untuk menjemput ganja dari Panyabungan.
Solihin pun ditangkap di rumahnya di Kampung Ladang Hutan, Kenagarian Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.
Jalur Alternatif
Jaringan pengedar di Sumbar dikenal dinamis. Ketika merasa pergerakan mereka mulai terendus petugas, para pelaku langsung mengubah rute perjalanan.
BNNP Sumbar memetakan dua jalur alternatif yang biasa digunakan ketika Palupuh dirasa tidak aman.
Jalur pertama adalah Dumai/Pekanbaru–Limapuluh Kota.
Barang haram dari Sumut dibawa terlebih dahulu menuju Dumai atau Pekanbaru, kemudian diselundupkan ke Sumbar melalui Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh.
Jalur ini menjadi pilihan utama saat pengedar menghindari pemeriksaan ketat di kawasan Agam.
Jalur kedua adalah Air Molek–Kiliran Jao.
Rute ini melewati Air Molek di Riau, lalu masuk ke Sumbar melalui Kiliran Jao hingga bermuara di Kabupaten Sijunjung.
Namun, jalur ini relatif jarang digunakan karena jaraknya yang cukup jauh.
Untuk mengantisipasi strategi kucing-kucingan ini, BNNP Sumbar terus memperkuat koordinasi dengan Kepolisian, Badan Intelijen Negara Daerah, serta berbagai unsur intelijen lainnya guna memperketat pengawasan di kawasan perbatasan. (ak/*)



