Beranda / Peristiwa / Dampak Letusan Gunung Anak Krakatau Kian Meluas, Sebaran Abu Vulkanik Capai Sumbar

Dampak Letusan Gunung Anak Krakatau Kian Meluas, Sebaran Abu Vulkanik Capai Sumbar

Ahmad Kharisma
A+A-
Reset

Padang, Sumbarpro — Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) sampai Sabtu malam ini (5/2026) membawa dampak nyata bagi masyarakat.

Abu vulkanik hasil erupsi dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026 ini telah menyebar luas ke sejumlah daerah di Pulau Sumatra dan Jawa, memicu kepanikan sekaligus keresahan yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan sebaran abu vulkanik GAK berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada Sabtu (5/9/2026) pukul 19.00 WIB.

BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran.

Klaster pertama, dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki, bergerak ke arah tenggara-selatan mencakup sebagian Banten dan Jawa Barat.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

Klaster kedua, dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki (sekitar 15 km), bergerak ke arah barat daya-barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Dengan kata lain, abu vulkanik telah menyebar ke 5 provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Barat.

Di Banten, langit pesisir Anyer hingga Cinangka dilaporkan gelap dan berkabut.

Dampak paling parah dirasakan warga Lampung.

Abu vulkanik dilaporkan sampai ke Bandar Lampung, Pesawaran, Lampung Selatan, Tanggamus, hingga Pesisir Barat.

Debu hitam menyelimuti permukiman dan mengganggu jarak pandang pengendara.

Warga mulai mengeluhkan sesak napas, tenggorokan tidak nyaman, dan mata perih.

“Tadi terasa seperti ada debu masuk waktu bawa kendaraan. Napas jadi agak sesak dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Mata juga jadi perih,” kata Desi, warga Bandar Lampung.

Keluhan senada disampaikan Krisno, warga Lampung Selatan, yang menemukan tumpukan abu hitam di halaman rumah serta kendaraannya.

“Abunya terasa sekali. Di teras dan kendaraan ada seperti debu hitam. Kalau menghirup udara di luar terasa tidak enak di tenggorokan. Mata langsung terasa pedih,” kata Krisno.

Kondisi serupa terjadi di Pesisir Barat dan tiga kecamatan di Tanggamus, yaitu Pematang Sawa, Kelumbayan, serta Cukuh Balak.

Peristiwa ini juga memicu keriuhan di media sosial melalui rekaman video lava pijar yang dibagikan masyarakat.

Seorang nelayan sempat menyiarkan kondisi erupsi dari atas perahunya saat material vulkanik mulai turun.

​”Anak Krakatau erupsi malam ini, ini asli ya bukan AI. Ini jam 23.30 WIB,” kata nelayan tersebut dalam siaran langsungnya.

Di Instagram, unggahan akun @lampuung menunjukkan kepanikan warga.

“Tak menyangka debu vulkanik sudah sejauh ini dan banyak sekali, sehat-sehat pernapasan masyarakat krui,” tulisnya.

Warga pun berbagi foto rumah, sekolah, dan tempat ibadah yang tertutup abu hitam.

Video lain memperlihatkan nelayan nekat mencari ikan di sekitar gunung meski kapalnya dihujani material vulkanik.

Pemerintah daerah melalui badan penanggulangan bencana mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker dan mengurangi kegiatan di luar ruangan.

Kepala PVMBG, Rita Susilawati, menegaskan status GAK tetap Level III (Siaga) dengan radius larangan 3 kilometer dari kawah.

Hingga Sabtu malam (5/9/2026), erupsi masih berlangsung dengan amplitudo 70 mm dan durasi 21.600 detik.

Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak panik, dan hanya mengakses informasi dari sumber resmi seperti PVMBG, BMKG, dan BPBD. (ak/*)

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690