Beranda / Ragam / Harga Masker Tembus Rp1,3 Juta per Box, Warganet Ramai-ramai Kecam Penjual Nakal: Tidak Berperikemanusiaan!

Harga Masker Tembus Rp1,3 Juta per Box, Warganet Ramai-ramai Kecam Penjual Nakal: Tidak Berperikemanusiaan!

Ahmad Kharisma
A+A-
Reset

Padang, SumbarproBencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan kualitas udara jadi tidak sehat bahkan berbahaya.

Imbauan dari para pemimpin daerah, tokoh masyarakat, hingga Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan membuat permintaan alat pelindung diri ini melonjak drastis.

Fenomena panic buying pun tak terhindarkan.

Masyarakat berbondong-bondong menyerbu supermarket, minimarket, hingga platform e-commerce untuk membeli masker.

Akibatnya, kelangkaan terjadi di mana-mana, dan harga masker melambung hingga puluhan kali lipat dalam hitungan jam.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

Kondisi ini memicu kemarahan dan kecaman luas dari warganet di berbagai platform media sosial.

Lonjakan harga paling signifikan terjadi di platform e-commerce.

Berdasarkan penelusuran di berbagai marketplace seperti Shopee dan Tokopedia, harga masker, terutama jenis N95 dan KN95 yang direkomendasikan untuk menyaring partikel abu vulkanik, mengalami kenaikan yang tidak wajar.

Harga satu box masker KN95 dilaporkan melonjak dari kisaran Rp200 ribu menjadi Rp1,3 juta.

Di platform lain, masker KN95 isi 12 dijual hingga Rp169.200, sementara isi 10 mencapai Rp104.405.

Masker N95 standar medis juga ikut meroket.

Seorang warganet mengaku menemukan masker N95 medis isi 10 yang biasanya Rp25.000, tiba-tiba ditawarkan hingga Rp100.000.

Bahkan, satu box masker N95 isi 20 disebut-sebut mencapai harga Rp1,3 juta.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada masker premium.

Masker duckbill 4 ply isi 50 naik dari Rp18.990 menjadi Rp30.000, dan masker earloop isi 50 naik dari Rp17.550 menjadi Rp25.000.

Yang paling menyulut emosi publik adalah praktik curang yang dilakukan oleh sejumlah oknum penjual di marketplace.

Banyak pembeli melaporkan pesanan mereka yang sudah di-checkout pada harga normal, tiba-tiba dibatalkan secara sepihak oleh penjual.

Setelah pesanan dibatalkan, produk yang sama kembali dijual dengan harga yang telah dilipatgandakan, bahkan hingga 10 kali lipat.

Akun Threads @dr.ferrykslg menceritakan bagaimana pesanan maskernya untuk teman-teman ojek online dibatalkan, dan saat dicek ulang, harganya naik dua kali lipat.

Pengguna lain, @valenciaandita, mengaku sekitar lima toko online yang ia hubungi membatalkan pesanan dan menaikkan harga hingga 10 kali lipat.

Praktik aji mumpung ini menuai kecaman keras dari berbagai kalangan, mulai dari warganet biasa, anggota dewan, hingga publik figur.

Selebritas Nana Mirdad dengan lantang mengkritik para penjual nakal melalui akun Threads-nya.

“Agak gila juga di saat rakyat banyak yang kesusahan, liat brand penjual masker proper malah naikin harga jadi Rp180 ribu per biji. Sementara paginya masih dijual di harga Rp12 ribu aja,” tulis Nana, yang mendapati harga masker N95 melonjak dari Rp12.000 menjadi Rp180.000 per buah dalam hitungan jam.

Ia menegaskan bahwa meskipun tujuan berbisnis adalah mencari untung, tindakan mengerek harga secara ekstrem di tengah bencana dinilainya sudah melampaui batas moral.

“Memang, jualan goalnya profit. Tapi ngga usah securang ini pada saat bencana kali ya,” lanjutnya.

Nana bahkan mengungkapkan bahwa keluarganya bergerak di bisnis yang sama, sehingga ia sangat memahami struktur harga distributor yang sebenarnya.

“Mark up spontan kaya gini ngga berperikemanusiaan,” tegasnya.

Kecaman serupa datang dari Anggota DPRD Jawa Barat, Fetty Anggraenidini. Ia mengimbau para pedagang untuk tidak memanfaatkan situasi bencana.

“Kita mengimbau kepada para pedagang masker itu untuk tidak menaikkan harga secara gila-gilaan,” katanya.

Fetty sendiri merasakan sendiri lonjakan harga ini ketika ia memesan masker KN95 secara daring dengan harga Rp125.000, padahal harga biasanya hanya Rp25.000.

Kelangkaan dan kenaikan harga tidak hanya terjadi di dunia maya.

Di sejumlah gerai ritel fisik seperti Alfamart, stok masker dilaporkan kosong.

Seorang karyawan Alfamart di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengatakan stok masker telah habis sejak sehari sebelumnya dan pasokan baru pun belum datang.

Di gerai Lawson, meski masih tersedia, pilihan produk sangat terbatas.

Menanggapi situasi ini, Kementerian Kesehatan dilaporkan akan memanggil para pelaku usaha untuk membahas lonjakan harga ini.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang, tidak melakukan panic buying, dan melaporkan praktik curang kepada pihak berwenang.

Hingga berita ini diturunkan, harga masker di sejumlah platform e-commerce masih terpantau tinggi, sementara warganet terus ramai menyuarakan kekecewaan dan ajakan untuk memboikot para penjual nakal. (ak/*)

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690