Daftar Isi
ANGKA Rp700 ribu per kilogram mendadak viral di lini massa media sosial. Nominal itu disebut-sebut sebagai upah mengupas bawang.
Sebuah angka yang fantastis untuk pekerjaan mengupas bawang. Bahkan lebih mahal dari harga bawang itu sendiri yang di pasaran hanya sekitar Rp42 ribu per kilogram.
Warganet pun ramai-ramai menghitung. Jika bisa mengupas 10 kilogram sehari, cuan yang didapat bisa mencapai Rp7 juta per hari.
Namun, di balik riuh ‘Rp700 ribu per kilogram’, ada realitas yang jauh berbeda yang dialami oleh ribuan buruh pengupas bawang di seluruh Indonesia.
Kompas.com, Detik.com, Tribunnews.com, dan berbagai media mainstream lainnya segera turun ke lapangan. Apa yang mereka temukan sungguh kontras.

Senyum Getir di Lorong Sungai Lumpur
Di Lorong Sungai Lumpur Laut, Kelurahan 11 Ulu, Palembang, Kms Basri (63) tersenyum getir ketika mendengar kabar tentang upah Rp700 ribu per kilogram.
Basri, yang sehari-hari bekerja bersama istrinya, Raden Yulia (54), mengupas bawang putih dengan upah Rp6.000 per karung.
Satu karung berisi sekitar 20 kilogram bawang. Itu berarti upahnya hanya sekitar Rp300 per kilogram.
“Kalau memang itu (upahnya), bahagia nian kami,” ujar Basri.
Dari Rp400 menjadi Rp1.000 dalam 15 Tahun
Di Pasar Galiran, Klungkung, Bali, suasana berbeda. Minggu pagi, sekitar 3 ton bawang dari Bima, NTB, baru saja tiba. Puluhan buruh pengupas langsung menyambarnya.
Kadek Astiani adalah salah satu dari mereka. Perempuan ini telah 15 tahun menggantungkan hidup sebagai buruh pengupas bawang.
Ia memulai kariernya ketika upah masih Rp400 per kilogram. Kini, setelah lebih dari satu dekade, upahnya naik menjadi Rp1.000 per kilogram.
Setiap hari, Kadek dan ratusan buruh lainnya berharap pada truk-truk bawang yang datang. Jika pasokan melimpah dan mereka bekerja hingga sore, penghasilan maksimal yang bisa dibawa pulang berkisar Rp100 ribu dari mengupas 100 kilogram bawang.
“Kalau sampai sore bisa dapat Rp100 ribu. Itu pun kalau bawangnya banyak. Karena kami rebutan juga ngambilnya dari truk,” tuturnya.
Sambil bercerita, Kadek memperlihatkan jari telunjuknya yang membal dan dipenuhi bekas luka. Penggunaan sarung tangan sengaja dihindari karena dinilai memperlambat gerakan.
Wayan Indrawati, yang telah 20 tahun menjadi pengupas, mengaku upah tertinggi yang pernah diterimanya hanya Rp1.000 per kilogram.
“Paling banyak dapat 40 kilogram sehari. Ini dah saya dapat hari ini, Rp40 ribu. Ini setiap hari langsung habis buat beli beras dan kebutuhan dapur. Nggak bisa ditabung,” ungkapnya.
Tiga Karung Sehari, Rp30.000
Di Pasar Legi, Solo, Siti Amirah (72) telah mengupas bawang selama lebih dari 20 tahun. Ketika mendengar kabar upah Rp700 ribu per kilogram, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kaget kok bisa segitu. Nggak mungkin. Lha kira-kira bathine (untungnya) berapa kalau upahnya segitu. Itu keliru,” ujar Siti.
Sehari-hari, Siti menerima upah Rp2.000 hingga Rp10.000, tergantung jenis pengupasan dan jenis bawang.
Untuk bawang putih, pengupasan tahap awal seperti pemisah kulit atau pecah bonggol, para buruh diberi upah Rp10.000 per sak (karung berisi 20 kg).
Untuk pengupasan tahap akhir sampai bersih, upahnya Rp2.000 per kilogram.
“Biasane bisa kupas tiga karung sehari ya Rp10.000 kali tiga, Rp30.000 upahnya. Tapi kadang ya satu karungnya nggak penuh. Paling banter ya tiga karung nggak pernah lebih, kuatnya segitu,” ujarnya.
Sulastri dan Perjuangan di Kramat Jati
Aroma bawang yang tajam menusuk hidung saat memasuki kawasan pengupasan bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Di tengah tumpukan bawang, tangan-tangan perempuan bergerak cepat mengupas kulit demi kulit.
Sulastri (56) telah sekitar 10 tahun mengandalkan pekerjaan ini. Upahnya Rp3.000 per kilogram. Jika bekerja dari pagi hingga sore atau malam, ia bisa mengupas 15 hingga 20 kilogram dengan pendapatan sekitar Rp60.000.
Penghasilan itu digunakan untuk hal-hal sederhana, membeli gula, beli kopi, beli teh, beli beras.
Pengupas lainnya, Jumiatun (50), mengaku penghasilannya dalam sehari berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000 jika bekerja sampai sore atau malam.
Tak hanya mengupas bawang, mereka juga mengerjakan pekerjaan lain seperti memetik cabai dengan bayaran Rp2.000 per kilogram.
Di Balik Jari-Jari yang Terluka
Pekerjaan mengupas bawang bukan sekadar soal upah yang minim. Ada pula masalah kesehatan yang mengintai.
Penelitian dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) mengungkapkan bahwa gerakan repetitif yang terus-menerus dalam waktu lama dapat menimbulkan repetitive strain injuries (RSI).
Gejala yang ditimbulkan adalah keluhan atau pegal pada otot tangan. Gerakan repetitif bahkan dapat meningkatkan risiko Carpal Tunnel Syndrome pada pekerja bagian pengupasan.
Kadek Astiani di Klungkung memperlihatkan jari telunjuknya yang membal dan dipenuhi bekas luka.
Para buruh sengaja tidak memakai sarung tangan karena dinilai memperlambat gerakan saat mengupas.
Studi lain tentang konflik peran ganda ibu rumah tangga buruh pengupas bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati menemukan bahwa mereka mengalami kelelahan fisik, stres kronis, dan kecemasan berlebihan.
Para peneliti merekomendasikan agar para pekerja menjaga kesehatan fisik dan mental, mencari dukungan sosial, serta menggunakan kacamata pelindung saat mengupas bawang merah untuk mengurangi iritasi mata.
Rantai Pasok dan Hierarki yang Panjang
Mengapa upah buruh pengupas bawang serendah itu? Jawabannya terletak pada rantai pasok yang panjang dan hierarkis.
Dalam sistem rantai nilai bawang merah, terdapat banyak pelaku: petani produsen, penebas, bandar, pengolah agroindustri, hingga industri atau pasar eceran.
Bawang merah dialirkan dari petani ke tengkulak (distributor), kemudian ke peritel (pengecer).
Di setiap mata rantai, terjadi pemotongan nilai. Buruh pengupas berada di posisi paling bawah. Mereka adalah pekerja harian lepas yang tidak memiliki posisi tawar.
Upah mereka ditentukan oleh tengkulak atau pengusaha bawang, dengan sistem pembayaran langsung setelah bawang ditimbang.
Sementara itu, di media sosial, warganet terus berspekulasi.
“Rp700 ribu/kg setiap hari, seminggu udah dapet 4,9 juta,” tulis salah satu komentar.
“Kalo upahnya segitu, ngupas 100kg sehari pun gas, mayan Rp70 juta sehari, Rp2,1 miliar sebulan,” sahut yang lain.
Di sisi lain, ada Basri di Palembang yang menerima Rp6.000 per karung, Kadek di Klungkung yang upahnya naik dari Rp400 menjadi Rp1.000 dalam 15 tahun, Siti di Solo yang mengupas tiga karung sehari untuk Rp30.000, dan Sulastri di Kramat Jati yang bekerja dari pagi hingga malam untuk Rp60.000.
Mereka adalah pekerja di balik bawang yang kita konsumsi setiap hari.
Mereka bekerja dengan jari-jari yang terluka, tanpa sarung tangan, tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian penghasilan.
Dan mereka bertahan, karena bagi mereka, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjuangan hidup. (tim/*)
Artikel ini disusun dan disadur berdasarkan laporan dari Kompas.com, Detik.com, Tribunnews.com, dan berbagai sumber lainnya per 16 Agustus 2026.



