Beranda / Peristiwa / Hukum & Kriminal / Kronologi Lengkap Kematian Serda Ahmad: Bukan karena Salah Pesan Mie Goreng, tapi Gara-gara Telepon

Kronologi Lengkap Kematian Serda Ahmad: Bukan karena Salah Pesan Mie Goreng, tapi Gara-gara Telepon

Redaksi
A+A-
Reset
Serda Ahmad Muzammil Farisa

Jakarta, Sumbarpro — Kasus kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa, prajurit TNI AU yang bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma, akhirnya terungkap.

Pusat Polisi Militer TNI AU (Puspom TNI AU) merilis kronologi lengkap peristiwa dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Danpuspomau Marsekal Muda TNI Daan Sulfi mengungkap bahwa rangkaian peristiwa bermula dari hal yang tampak sepele, yaitu panggilan telepon yang ditutup secara mendadak.

Peristiwa bermula pada Selasa (8/9/2026) ketika Serda MTS (Serda Mayzard Try Surya Anggara) menghubungi Serda RP, juniornya, melalui telepon untuk meminta bantuan.

Serda MTS bermaksud meminta Serda RP membantu memasukkan namanya ke dalam daftar penerbangan pesawat TNI AU karena akan menjalankan tugas ke luar kota.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

Namun, di tengah percakapan, Serda RP tiba-tiba menutup telepon. Hal ini membuat Serda MTS merasa kesal, tersinggung, dan marah.

“Harapannya mungkin senior itu, menutup sopan atau bagaimana. Dia ada ketersinggungan di sana,” jelas Daan Sulfi.

Keesokan harinya, Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 21.10 WIB, Serda MTS mengumpulkan tiga juniornya, Serda Ahmad Muzammil Farisa, Serda ZN, dan Serda RP, di belakang Mess Galaksi.

Serda RP diberi hukuman berupa push up dan sit up masing-masing 100 kali oleh Serda MTS. Dalam proses tersebut, Serda ZN juga dipukul oleh Serda MTS.

Sekitar pukul 21.40 WIB, tiga prajurit lainnya, Serda Jordan Martua (Serda JM), Serda Muh Aldhi D (Serda MAD), dan Serda Andri Hiskia (Serda AH) tiba di tempat kejadian dan bergabung dengan Serda MTS.

Kehadiran mereka menandai eskalasi situasi yang berujung fatal.

Setelah Serda Jordan menyampaikan teguran kepada Serda Ahmad yang merupakan prajurit paling senior di antara tiga korban, situasi berubah menjadi penganiayaan.

Menurut Daan Sulfi, Serda Jordan meminta Serda Ahmad mengingatkan juniornya sebagai bagian dari tanggung jawab seorang senior.

“(Wejangannya kepada Serda Ahmad) Jadi intinya bahwa ‘kamu harus kasih tahu ke adik-adikmu, itu adalah tanggung jawab adik-adikmu’,” kata Daan.

Namun, peringatan itu justru berujung pada penganiayaan. Sekitar pukul 23.05 WIB, Serda Jordan memukul Serda Ahmad sebanyak tiga kali dengan tangan kosong yang terkepal ke bagian dada.

Setelah dilakukan penanganan oleh pihak IGD, Serda Ahmad Muzammil Farisa dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (10/9/2026) dini hari.

Jenazah Ahmad kemudian dibawa ke kampung halamannya di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, Jawa Timur, dan dimakamkan tanpa upacara militer di tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah duka pada Kamis (10/9/2026) malam.

Penyelidikan dan Terungkapnya Kasus

Awalnya, kematian Serda Ahmad disebut sebagai kecelakaan. Namun, keluarga yang melihat kondisi jenazah dengan wajah miring dan lebam meminta dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian.

Ayah Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengatakan keluarga kemudian meminta agar dilakukan otopsi.

TNI AU melalui Puspom AU kemudian melakukan penyelidikan mendalam.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI I Nyoman Suadnyana menyatakan TNI AU berkomitmen mengusut tuntas dugaan pembinaan berlebihan yang menyebabkan Serda AMF meninggal pada Kamis (10/9/2026) secara transparan.

Empat prajurit yang diduga terlibat ditahan di Puspom AU. Setelah penyidikan intensif, Puspom TNI AU resmi menetapkan empat tersangka pada Rabu (16/9/2026).

Bantahan Isu Mi Goreng

Dalam konferensi pers, Danpuspomau juga membantah isu yang beredar bahwa penganiayaan dipicu oleh persoalan mi kuah dan mi goreng.

“Kenapa terjadinya itu, sebenarnya si seniornya meminta tolong, dia akan dinas, dinasnya akan tugas ke luar kota, untuk memasukkan data namanya ke pesawat Angkatan Udara,” jelas Daan Sulfi, menegaskan bahwa motif sebenarnya adalah ketersinggungan akibat telepon yang ditutup. (ak/*)

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690