Sumbarpro – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI memang luar biasa cepat. Setiap bulan selalu ada pembaruan. Mulai dari yang bisa menulis, menggambar, sampai membuat video. Semua serba mudah. Tinggal ketik perintah, dalam hitungan detik hasilnya muncul.
Teknologi ini sudah masuk ke sekolah-sekolah. Anak-anak kita sekarang akrab dengan gawai. Mereka bisa mengakses apa saja kapan saja. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa kita hindari.
Tapi ada bahaya yang mengintai. Kalau tidak hati-hati, AI bisa membuat anak malas berpikir. Mereka tinggal minta jawaban ke mesin, lalu menyalinnya tanpa memahami isinya. Kreativitas pun tergerus. Kemampuan memecahkan masalah melemah. Anak jadi terbiasa instan.
Padahal, proses berpikir itu yang paling penting. Bukan sekadar hasil akhir. Kalau anak hanya meniru jawaban AI, mereka tidak akan pernah belajar menghadapi kesulitan. Mereka tidak akan terlatih mencari solusi sendiri.
Oleh karena itu, para guru diminta untuk tetap fokus menumbuhkembangkan potensi diri siswa di era digital. Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Tapi jangan sampai bergantung padanya. Potensi yang ada dalam diri tetap harus diasah.

Guru memang punya peran sentral. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pengarah. AI harus diposisikan sebagai alat pendukung pembelajaran. Bukan pengganti nalar dan kemampuan berpikir manusia.
Guru harus bisa memandu siswa menggunakan AI secara bijak. Misalnya, AI dipakai untuk mencari referensi, lalu siswa diminta menganalisis dan menyimpulkan sendiri. Bukan sekadar menyalin mentah-mentah. Guru juga harus mendorong siswa untuk berdiskusi, bertanya, dan berargumen. Kemampuan seperti ini tidak bisa digantikan oleh mesin.
Yang kita persiapkan bukan hanya anak yang mampu menggunakan teknologi. Tetapi juga anak yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan karakter. Tiga hal ini tidak bisa dihasilkan oleh AI. Kreativitas lahir dari proses mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Orang tua juga tidak bisa lepas tangan. Penggunaan gawai sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian siswa. Karena itu, pengawasan ketat dan penguatan nilai-nilai religius harus dilakukan bersama-sama.
Jangan biarkan anak tenggelam dalam dunia maya tanpa bimbingan. Batasi waktu layar. Ajak mereka berbicara. Tanyakan apa yang mereka pelajari hari ini. Beri contoh bagaimana menggunakan teknologi untuk hal yang bermanfaat.
Pemerintah daerah juga harus hadir. Pelatihan untuk guru seperti bimtek harus diperbanyak. Jangan hanya di kota. Guru-guru di daerah terpencil juga berhak mendapat pengetahuan yang sama. Kurikulum harus disesuaikan. Literasi digital dan berpikir kritis harus masuk ke dalam pelajaran.
Sekolah juga perlu menyediakan ruang untuk eksplorasi kreatif. Jangan hanya mengejar nilai akademik semata.
Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah manusianya. AI boleh canggih, tapi ia tidak punya hati. Ia tidak bisa merasakan empati. Ia tidak bisa menginspirasi. Guru dan orang tua tetap menjadi panutan.
Mari kita jadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan pengganti peran kita. Anak-anak kita adalah masa depan bangsa. Jangan biarkan mereka tumbuh menjadi generasi yang malas berpikir. Kreativitas dan karakter adalah bekal utama menghadapi dunia yang terus berubah. *



