SAAT editorial ini ditulis, Dinas Pendidikan Kota Padang resmi memutuskan tidak memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap karhutla.
Seluruh siswa PAUD/TK, SD, hingga SMP negeri dan swasta di Kota Padang kembali masuk sekolah mulai Senin besok (14/9/2026). Alasannya, siswa akan menghadapi Ujian Tengah Semester dalam waktu dekat sehingga butuh persiapan.
Alasan itu terdengar masuk akal. Tapi mari kita lihat kondisi udara Padang saat keputusan ini diambil. Pada Minggu malam (13/9/2026), platform IQAir mencatat Indeks Kualitas Udara Kota Padang mencapai 307.
Kategori apa itu? Sangat tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 terpantau 251,7 mikrogram per meter kubik, atau 50,3 kali lipat dari panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia. Menurut aturan, angka itu sudah masuk kategori berbahaya.
Yang lebih mengkhawatirkan, kasus ISPA di Padang sudah melonjak tajam sejak beberapa waktu terakhir. Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat kunjungan pasien baru ISPA melonjak dari 4.700 kasus pada periode 17 hingga 23 Agustus menjadi 6.800 kasus pada periode 24 Agustus hingga 2 September.

Artinya, ada penambahan sekitar 2.000 pasien hanya dalam sepekan. Sekitar 600 kasus di antaranya muncul dalam beberapa hari terakhir saja.
Kita paham Ujian Tengah Semester itu penting. Tapi ada hal yang lebih penting dari nilai ujian, yaitu kesehatan dan keselamatan anak.
Anak yang sesak napas karena ISPA tidak akan bisa mengerjakan ujian dengan baik. Anak yang dirawat di rumah sakit tidak akan bisa mengikuti pelajaran apa pun.
Bahkan, ada risiko yang lebih buruk dari sekadar absen ujian. Paparan PM2.5 dalam jangka panjang dapat merusak paru-paru anak secara permanen. Dampaknya tidak berhenti di minggu ini atau bulan ini, tetapi bisa dirasakan seumur hidup.
Keputusan untuk tidak memperpanjang PJJ tampaknya lebih mendahulukan jadwal akademik daripada keselamatan siswa.
Padahal, UTS bisa dijadwalkan ulang. Bisa diganti dengan penilaian lain yang tidak memaksa anak datang ke sekolah saat udara masih buruk. Bisa juga dilakukan secara daring.
Tapi kesehatan paru-paru anak tidak bisa dijadwalkan ulang. Tidak ada cara untuk mengganti kerusakan yang sudah terjadi.
Dinas Pendidikan Kota Padang hendaknya meninjau ulang keputusan ini. Jika indeks kualitas udara masih berada di atas 200, kategori sangat tidak sehat, sekolah tatap muka sebaiknya ditunda kembali.
PJJ diperpanjang sampai kondisi udara benar-benar membaik.
Jika memang harus tetap masuk, pastikan Dinas Pendidikan menyediakan masker gratis bagi seluruh siswa tanpa kecuali. Bukan hanya mewajibkan, tapi juga menyediakan. Pastikan juga ruang kelas memiliki penyaring udara yang memadai.
Jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban dari keputusan yang terburu-burui.
Anak-anak adalah masa depan Padang. Mereka berhak tumbuh di lingkungan yang sehat, bukan menghirup udara beracun setiap pagi demi mengejar nilai dan jadwal ujian.
Negara wajib hadir melindungi mereka. Jangan sampai ambisi akademik mengorbankan paru-paru generasi penerus kita. *



