PERINGATAN hari kelahiran Sang Proklamator Mohammad Hatta tiap 12 Agustus, kembali membawa pesan krusial mengenai darurat integritas dan kejujuran di tengah krisis keteladanan yang melanda bangsa.
Penegasan Gubernur Sumbar Mahyeldi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kesederhanaan dan keteguhan prinsip Bung Hatta merupakan langkah moral yang sangat relevan.
Di saat ruang publik kerap diwarnai oleh praktik korupsi, kompromi niretika, dan pergeseran nilai moral, warisan pemikiran tokoh besar asal Ranah Minang ini harus dijadikan kompas utama dalam membentuk karakter kepemimpinan masa depan.
Krisis moral yang dialami generasi muda saat ini bersumber dari menguatnya budaya serba instan dan minimnya figur teladan di tingkat kepemimpinan.
Pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah sering kali hanya menyajikan angka tahun dan fakta permukaan tanpa membedah kedalaman etika serta konsistensi antara perkataan dan perbuatan dari para pendiri bangsa.

Ketidakmampuan ekosistem pendidikan dan birokrasi dalam menginternalisasi keteladanan nyata membuat ajaran moral sekadar menjadi hafalan akademis yang asing dari praktik kehidupan sehari-hari.
Pengabaian keteladanan ini sangat berbahaya bagi masa depan Ranah Minang dan Indonesia secara keseluruhan. Lunturnya nilai integritas memicu maraknya perilaku curang, perundungan, hingga krisis kepercayaan generasi muda terhadap tata kelola pemerintahan.
Jika generasi penerus dibiarkan tumbuh tanpa fondasi kejujuran dan keteguhan prinsip yang kuat, daerah ini akan kehilangan calon pimpinan yang berdedikasi serta rawan terjerat dalam lingkaran korupsi yang merusak tatanan sosial.
Sikap tegas harus ditunjukkan oleh pemerintah daerah dengan memastikan bahwa peneladanan integritas Bung Hatta tidak berhenti pada seremoni rutin tahunan atau diskusi formalitas semata.
Komitmen moral yang digaungkan di panggung acara harus dibuktikan secara nyata dalam praktik tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.
Para pejabat publik dan pemangku kebijakan wajib memberikan contoh konkret melalui pola hidup sederhana serta kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.
Jalur pendidikan formal dan informal di seluruh Sumbar harus dirancang ulang untuk memfasilitasi penanaman karakter berbasis literasi sejarah yang mendalam.
Pengajaran mengenai sosok Bung Hatta wajib melampaui teks sejarah konvensional dengan membedah rekam jejak keputusan politik, kejujuran finansial, serta keteguhannya membela keadilan.
Keterlibatan aktif sekolah, komunitas literasi, dan lembaga adat di tingkat nagari sangat diperlukan untuk menghidupkan kembali ruang-ruang diskusi kritis yang membentuk jiwa kepemimpinan remaja.
Sudah saatnya Pemprov Sumbar bersama dinas pendidikan wajib menyusun modul pengayaan lokal tengang karakter kebangsaan yang mengintegrasikan pemikiran etika Bung Hatta ke dalam pembelajaran di semua jenjang sekolah.
Evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan karakter harus fokus pada perubahan perilaku harian siswa serta penciptaan lingkungan sekolah yang ramah dan bebas dari praktik kecurangan.
Mewariskan kejujuran dan kesederhanaan secara konsisten adalah kunci utama melahirkan generasi masa depan Ranah Minang yang berintegritas dan berwibawa. *



