Daftar Isi
DI usia kemerdekaan yang ke-81, Indonesia mencatat sejumlah pencapaian ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen dan semester I sebesar 5,45 persen, tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Jumlah penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total populasi, berkurang 430 ribu orang dibanding September 2025.
Presiden Prabowo Subianto optimistis ekonomi RI akan tumbuh 6 persen pada akhir tahun.
Namun di balik deretan angka makro yang menggembirakan itu, ada tiga kelompok masyarakat yang merasakan getirnya ekonomi dengan cara yang sangat berbeda dan sangat nyata.

Kelas menengah yang ‘jungkir balik’ memikul beban, warga miskin yang garis kemiskinannya terus merangkak naik, dan ‘generasi sandwich’ (sandwich generation) yang terhimpit dari dua arah.
Inilah tiga wajah ekonomi Indonesia menjelang HUT ke-81 RI.
Kelas Menengah yang Jungkir Balik
“Status sosial ekonomi yang serba tanggung, alias tidak miskin tetapi sulit kaya, membuat kelas menengah terjepit,” demikian tulis sebuah refleksi menjelang HUT ke-81.
Kelas menengah berada di posisi paling paradoks. Mereka diandalkan sebagai motor penggerak konsumsi dan penopang utama ekonomi, tetapi hidup dengan gaji pas-pasan dan pendapatan stagnan.
Mereka tidak menerima bantuan sosial, namun rentan turun kelas jika terjadi guncangan ekonomi.
Data menunjukkan fenomena downward mobility yang mengkhawatirkan. Studi LPEM FEB UI mencatat jumlah kelas menengah Indonesia pada 2018 mencapai sekitar 60 juta orang atau 23 persen dari populasi.
Namun pada 2023, jumlah itu menyusut menjadi sekitar 52 juta orang atau 18,8 persen. Artinya sekitar 8,5 juta orang keluar dari kelompok kelas menengah.
Ekonom senior Indef, Prof Didik J Rachbini, menyebut pemerintahan Prabowo mewarisi penurunan kesejahteraan golongan masyarakat yang sudah naik kelas, kemudian anjlok lagi.
Lebih parah lagi, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan kelompok penabung paling bawah dengan saldo di bawah Rp100 juta semakin banyak jumlahnya.
Pada 2019, jumlah rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta tercatat 292 juta dengan rata-rata tabungan Rp2,9 juta. Kini menjadi 666 juta rekening dengan rata-rata Rp2,7 juta.
Sementara kelompok atas justru makin kaya. Pemilik tabungan di atas Rp5 miliar meningkat dari 8.500 orang menjadi 129.000 orang, dengan rata-rata tabungan melonjak dari Rp24 miliar menjadi Rp35 miliar. Kesenjangan ini menggambarkan jurang yang semakin lebar.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa yang terjadi bukan sekadar perlambatan ekonomi biasa, melainkan erosi daya tahan kelompok yang selama ini menjadi penopang konsumsi nasional.
Jumlah kelas menengah terus menyusut, dari 59,5 juta pada 2018 menjadi 47,9 juta pada 2024, lalu 46,7 juta pada 2025.
Konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 hanya tumbuh 5,06 persen, melambat dibanding kuartal sebelumnya.
Kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah memang menyumbang lebih dari 80 persen konsumsi nasional, namun pola belanja mereka semakin defensif.
Mereka menunda pembelian barang tahan lama, memilih produk lebih murah, dan memprioritaskan kebutuhan pokok.
Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan bahkan menyoroti bahwa stimulus pemerintah selama ini cenderung bias kepada kelas atas, bukan memberikan kemudahan bagi kelas menengah untuk menjaga daya belinya.
“Kelas menengah kita itu tidak kuat, rapuh karena kelas menengah kita itu baru dipahami sebagai kontribusi konsumsi, belum pada bagaimana kelas menengah kita itu bisa digerakkan untuk produksi,” tegasnya.
Warga Miskin, Bukan Sekadar Penurunan Jumlah
Kabar baik datang dari data BPS. Jumlah penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026.
Namun di balik angka itu, tersimpan fakta lain yang tak kalah penting. Menjadi “tidak miskin” ternyata membutuhkan biaya hidup yang semakin tinggi.
BPS mencatat Garis Kemiskinan (GK) yang merupakan batas minimum pengeluaran agar seseorang tidak dikategorikan miskin, naik menjadi Rp669.235 per kapita per bulan pada Maret 2026.
Nilai ini meningkat 4,33 persen dibanding September 2025 dan melonjak 9,86 persen dibanding Maret tahun lalu.
Dalam setahun, garis kemiskinan naik hampir Rp60.000 per kapita.
Bagi rumah tangga miskin, konsekuensinya lebih nyata lagi. BPS menghitung rata-rata sebuah rumah tangga miskin pada Maret 2026 membutuhkan pengeluaran minimal Rp3.091.866 per bulan agar tidak lagi masuk kategori miskin.
Angka tersebut naik dibanding September 2025 yang sebesar Rp3.053.269 per bulan.
Dengan kata lain, meski jumlah penduduk miskin terus menyusut, ambang pengeluaran yang harus dipenuhi masyarakat untuk keluar dari kemiskinan justru semakin tinggi.
Tantangan pengentasan kemiskinan bukan hanya mengurangi jumlah orang miskin, tetapi juga memastikan pendapatan masyarakat mampu mengejar kenaikan biaya hidup.
Di sinilah letak ironi kemerdekaan ke-81. Angka kemiskinan turun, tetapi beban untuk keluar dari kemiskinan semakin berat.
Sandwich Generation yang Terjepit di Antara Dua Generasi
Fenomena sandwich generation mungkin menjadi cermin paling nyata dari rapuhnya ekonomi rumah tangga Indonesia.
Data Prudential Indonesia mencatat sekitar 41 juta penduduk Indonesia berada dalam kategori ini, dengan dominasi generasi milenial (53 persen) dan Gen Z (26 persen).
Bahkan survei Sun Life menyebut 90 persen pekerja Indonesia terjebak dalam kondisi sandwich generation.
Generasi sandwich adalah kelompok usia produktif yang harus menanggung kebutuhan hidup anak-anak sekaligus membantu memenuhi kebutuhan orang tua, sehingga menghadapi tekanan ekonomi dari dua generasi secara bersamaan.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, menyatakan keprihatinannya.
“Beban finansial yang harus ditanggung makin lama makin tinggi. Bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga ada beban mental karena tanggung jawab yang luar biasa itu,” ulasnya.
Dr. Rince Tambunan, Dosen STIE 66 Kendari, menjelaskan bahwa penyebab fenomena ini disebabkan meningkatnya biaya hidup, kebutuhan pendidikan yang semakin tinggi, serta terbatasnya kesiapan finansial menghadapi masa pensiun.
Akibatnya, generasi produktif harus mengambil peran lebih besar dalam mendukung ekonomi keluarga.
“Banyak anggota sandwich generation yang harus mengutamakan kebutuhan keluarga sehingga perencanaan keuangan jangka panjang sering kali tertunda,” tuturnya.
Dampaknya tidak hanya finansial tetapi juga mental. Tekanan ekonomi yang dialami sandwich generation dapat memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas.
Survei internal Prudential menunjukkan sekitar 82 persen anak muda Indonesia sudah mulai memikirkan rencana keuangan, namun masih kebingungan menentukan titik awal perencanaan jangka panjang.
Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini menciptakan siklus yang sulit diputus. Banyak pensiunan yang menghadapi kesulitan ekonomi dan tetap bergantung pada anggota keluarga, atau membentuk generasi sandwich baru.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan meluncurkan peta jalan dana pensiun sebagai salah satu solusi untuk memutus rantai sandwich generation.
Refleksi di Usia 81 Tahun RI
Di tengah gegap gempita perayaan HUT ke-81, pengamat mengingatkan agar peringatan kemerdekaan digelar khidmat dan menunjukkan empati kepada masyarakat yang menghadapi PHK, turunnya daya beli, serta biaya hidup tinggi.
Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraannya menegaskan, “Bagi saya pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan kita adalah kesejahteraan rakyat kita”.
Pertanyaan besarnya, apakah kesejahteraan itu sudah dirasakan oleh kelas menengah yang kian tergerus tabungannya, warga miskin yang garis kemiskinannya terus merangkak, dan generasi sandwich yang terhimpit dari dua arah?
Indonesia di usia 81 telah menunjukkan banyak capaian ekonomi. Namun tiga wajah ekonomi ini mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya tentang angka pertumbuhan, tetapi tentang bagaimana setiap warga negara dapat merasakan buah dari 81 tahun kemerdekaan.
Dari kelas menengah yang terjepit, warga miskin yang berjuang di atas garis kemiskinan yang terus naik, hingga generasi sandwich yang memikul beban dua generasi. Merekalah mayoritas penduduk republik ini. *



