Beranda / Peristiwa / Kasus Dugaan Keracunan MBG di Pariaman: Denyut Nadi dan Tensi Menurun, Dua Siswi Dirujuk ke RSUP M Djamil

Kasus Dugaan Keracunan MBG di Pariaman: Denyut Nadi dan Tensi Menurun, Dua Siswi Dirujuk ke RSUP M Djamil

Ahmad Kharisma
A+A-
Reset
Wali Kota Pariaman Yota Balad saat meninjau kondisi siswa korban dugaan keracunan MBG. Dua siswi harus dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang karena kondisi denyut nadi dan tekanan darah menurun.

PADANG, Sumbarpro – Kondisi dua siswi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pariaman memburuk hingga harus dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang, Rabu (16/9/2026).

Keduanya mengalami penurunan denyut nadi dan tekanan darah sehingga membutuhkan alat picu yang hanya tersedia di rumah sakit tipe A.

Dua siswi itu adalah CDH (15 tahun) kelas IX.3 dan LL (14 tahun) kelas VIII.2. Keduanya merupakan bagian dari ratusan pelajar MTsN 1 Pariaman dan SMPN 1 Pariaman yang diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG pada Senin lalu (14/9/2026).

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Rudy Reprenaldi Rilis mengatakan, kedua siswa tidak menunjukkan perbaikan signifikan selama dirawat di RSUD Dr. Sadikin Pariaman.

CDH mengalami sesak, denyut nadi lemah, tekanan darah rendah, serta mual dan muntah. Sedangkan LL juga mengalami sesak disertai denyut nadi dan jantung yang melemah.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

“Akibatnya perlu tindakan medis dengan menggunakan metode PICU untuk memaksimalkan nadi dan tensi korban. Alat PICU ini cuma ada di rumah sakit tipe A, makanya kami rujuk ke sana,” jelas Rudy.

Informasi dari pihak keluarga menyebutkan kedua siswa harus menjalani perawatan khusus di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) karena RSUD Sadikin Pariaman belum memiliki fasilitas tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, keduanya masih menjalani perawatan intensif di RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Pemerintah Kota Pariaman telah menghentikan sementara operasional SPPG Pasir Pauh sejak Selasa (15/9/2026). Dapur itu memasok menu MBG untuk MTsN 1 Pariaman dan lima sekolah lainnya.

“Dapur ditutup sementara sampai masalah ini clear. Sampel makanan sudah diambil untuk dicek di laboratorium BPOM Padang. Hasilnya diperkirakan keluar sekitar enam hari ke depan,” ungkap Rudy.

Kasus ini bermula pada Senin (14/9/2026) ketika siswa menyantap menu MBG berupa nasi putih, ayam crispy dengan saus lada hitam, tahu goreng, tumis kacang panjang campur jagung, serta sepotong melon.

Makanan didistribusikan SPPG Pasir Pauh sekitar pukul 09.20 WIB dan dikonsumsi siswa pukul 10.00 WIB saat jam istirahat.

Sekitar 1 jam kemudian, sejumlah siswa mulai mengalami keluhan kesehatan. Gejala yang muncul beragam, mulai dari mual, muntah, pusing, nyeri perut, sesak napas, hingga gatal-gatal.

Dugaan awal mengarah pada olahan ayam dalam menu tersebut. Rudy mengungkapkan pihak sekolah sempat melaporkan adanya indikasi ketidaklayakan pada komponen makanan.

“Ayamnya yang berbau, kata gurunya tadi memang agak bau,” ungkapnya.

Sebelum insiden di MTsN 1 terjadi, sebuah taman kanak-kanak (TK) di Pariaman sempat menolak MBG dari SPPG Pasir Pauh karena ayam dinilai sudah tidak enak.

Kepala SPPG Pasir Pauh, Mutiara Ihsani, membenarkan pihaknya selalu menyertakan satu porsi ompreng khusus untuk dicicipi penanggung jawab (person in charge/PIC) di setiap sekolah.

Namun, untuk MTsN 1 Kota Pariaman, PIC sekolah tidak melakukan uji organoleptik sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

“Untuk MTsN 1 semua omprengan sudah dikirim. Cuma PIC dari MTsN tidak melakukan uji organoleptik. Mereka tidak mencoba omprengan untuk guru,” kata Mutiara.

Data korban terus diperbarui. Dari laporan awal 86 siswa pada Senin (14/9/2026), jumlahnya meningkat menjadi 126 siswa pada Selasa (15/9/2026) berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Kota Pariaman.

Rinciannya adalah 125 siswa MTsN 1 Pariaman dan 1 siswa SMPN 1 Pariaman.

Hingga hari ketiga pasca-kejadian, tersisa lima siswa yang masih menjalani perawatan dari total ratusan korban.

Tiga pasien dirawat di RSUD Sadikin dan dua pasien berada di RSUD M Yamin sebelum akhirnya dua di antaranya dirujuk ke Padang.

Wali Kota Pariaman Yota Balad menegaskan pihaknya terus mengawal kesehatan para pelajar yang masih menjalani perawatan.

Ia memastikan penanganan medis menjadi prioritas hingga korban pulih.

“Prioritas pemerintah saat ini memastikan pelajar yang masih menjalani perawatan mendapatkan pelayanan kesehatan maksimal hingga proses pemulihan,” ujarnya. (edt/*)

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690