Sumbarpro — Tepat di atas keramaian Pasar Raya Padang, ada satu sudut yang suasananya berbeda.
Orang-orang naik lewat tangga tua menuju lantai dua.
Di sana, bukan lagi hiruk pikuk jual beli yang menyambut.
Yang terdengar justru lantunan ayat suci dan suara jemaah yang bersiap menunaikan salat.
Tempat itu adalah Musala Keluarga Besar Pedagang Kaki Lima Pasar Raya Padang. Letaknya di bekas kawasan Padang Teater.

Dulu, lantai dua gedung ini punya reputasi yang jauh dari kata baik. Masyarakat mengenalnya sebagai tempat hiburan malam.
Bahkan, sebagian orang menyebutnya sarang maksiat. Salon-salon yang beroperasi di sana kerap dikaitkan dengan praktik prostitusi.
Namun wajahnya kini berubah total.
Setiap kali azan Salat Dzuhur berkumandang, jemaah datang dari berbagai arah.
Ada pedagang yang menutup lapaknya sebentar. Ada pengunjung pasar yang menyempatkan diri beribadah.
Ada juga warga sekitar yang memang rutin datang ke musala ini.
Fasilitasnya cukup lengkap. Ada tempat wudu, mukena, dan ruang salat yang nyaman.
Ketua Keluarga Besar Pedagang Kaki Lima Pasar Raya Padang, Idman, bercerita tentang perubahan itu. Menurutnya, tempat ini dulunya adalah salon dengan reputasi buruk.
Dengan dukungan para pedagang, tokoh masyarakat, serta donatur dari Malaysia dan Jakarta, musala ini akhirnya berdiri dan terus berkembang.
“Kami ingin meninggalkan sejarah dengan menghadirkan rumah ibadah di tempat ini. Alhamdulillah, jemaah terus bertambah,” ujarnya.
Bukan hanya untuk salat. Musala ini juga menjadi pusat pendidikan agama.
Setiap sore, tempat ini dipakai untuk belajar baca tulis Al-Qur’an.
Pesertanya bukan hanya anak-anak. Orang dewasa yang belum mahir membaca Al-Qur’an juga ikut belajar di sini.
Bahkan, sudah berdiri Pondok Tahfiz Quran yang dibina oleh Ustadz Jelita Donal.
Idman berharap musala ini suatu hari bisa berkembang menjadi masjid dengan dukungan pemerintah.
Dari Bioskop hingga Surga Buku
Padang Teater bukan nama yang asing bagi warga Kota Padang. Kawasan ini menyimpan sejarah panjang.
Pada 1980-an, tempat ini dikenal sebagai pusat hiburan. Ada bioskop di lantai dua.
Nama Padang Teater melekat karena gedung pertunjukan yang dulu berdiri di sana.
Orang datang bukan hanya untuk menonton film, tetapi juga untuk melihat pertunjukan teater dan musik.
Seiring waktu, fungsi bangunan berubah. Lantai dua menjelma menjadi pusat toko buku bekas sejak era 1990-an.
Kawasan ini kemudian menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mencari buku murah.
Buku pelajaran sekolah. Buku kuliah. Novel. Buku agama. Semua ada.
Harganya jauh lebih terjangkau dibanding toko buku baru.
Mahasiswa dari berbagai kampus di Padang rutin datang ke sini. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam memilah buku, membandingkan harga, lalu pulang dengan tas penuh buku.
Selain toko buku, kompleks Padang Teater juga punya pasar burung yang legendaris.
Dulu, banyak pedagang burung berjualan di sana.
Ada juga penjahit yang membuka lapak di lorong-lorong sempit. Ada tukang setrika arang. Ada penjual pakaian bekas.
Kawasan ini hidup selama puluhan tahun.
Namun kejayaan itu perlahan memudar. Gempa bumi 30 September 2009 menjadi titik balik.
Struktur bangunan rusak. Lantai atas yang dulu menjadi pusat toko buku tidak lagi difungsikan.
Sejumlah bagian gedung memperlihatkan kerusakan yang memprihatinkan.
Plafon runtuh. Dinding berlumut. Pencahayaan minim. Kawasan ini pun perlahan berubah sepi.
Mereka yang Masih Bertahan
Di tengah sepinya pengunjung, masih ada orang-orang yang bertahan.
Erian (64 tahun), adalah salah satunya. Ia sudah berjualan buku di Padang Teater selama 35 tahun.
Dulu, ia memulai usaha di lantai satu pada era 1990-an. Kini, tokonya masih berdiri meski pembeli kian jarang.
Ada juga Pak Har, penjahit yang sudah lama menggantungkan hidup di gedung itu.
Ia mengaku kesejukan alami bangunan tua itu menjadi alasan banyak orang singgah, terutama saat siang hari.
“Kawasan Padang Teater ini memang cukup sejuk untuk berteduh dari teriknya cuaca Kota Padang,” ujarnya.
Namun ia prihatin dengan kondisi bangunan yang terus menurun.
“Jual beli semakin sepi. Kami yang bertahan di sini hanya mengandalkan pelanggan lama. Saya sangat berharap kawasan ini bisa bangkit lagi,” kata Pak Har.
Di sudut lain, ada Pak Mon. Pria asal Nagari Pauh Kambar, Padang Pariaman itu mulai berdagang burung di Padang Teater sejak 2020.
Sebelumnya, ia merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pengrajin emas sejak 1988.
Kini, ia menjadi satu-satunya penjual burung yang masih bertahan di lokasi yang dahulu dikenal sebagai sentra jual beli burung paling legendaris di Kota Padang.
“Padang Teater ini dari dulu sudah terkenal dengan pasar burungnya. Sekarang hanya saya yang masih bertahan,” ujarnya.
Pak Mon mengaku banyak pedagang burung lain gulung tikar.
Penyebabnya beragam. Biaya perawatan burung tinggi. Pembeli sepi. Risiko kematian burung juga besar.
Ia sendiri bisa bertahan karena lapaknya tidak dikenakan biaya retribusi. Omzetnya rata-rata Rp500 ribu per hari, dan bisa naik hingga Rp700 ribu saat akhir pekan.
Namun, tak jarang dalam sehari ia sama sekali tidak melakukan transaksi.
Rencana Besar yang Sedang Disiapkan
Pemerintah Kota Padang tidak tinggal diam. Kawasan Padang Teater masuk dalam rencana revitalisasi Pasar Raya Fase VII.
Program ini diharapkan menghadirkan wajah pasar yang lebih modern, bersih, dan aman.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Fizlan Setiawan, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melangkah ke tahap awal realisasi rencana besar tersebut.
Salah satu fokus utama penataan adalah mengalihfungsikan Gedung Padang Teater menjadi pusat kuliner terpadu.
Gedung Blok C IWAPI di sekitarnya juga akan dialihfungsikan menjadi terminal angkutan kota.
“Kita ada rencana menjadikan Padang Teater menjadi pusat kuliner, dan gedung Blok C IWAPI menjadi terminal angkot,” ujar Fizlan.
Tim Monitoring Dinas Perdagangan telah memasang spanduk pemberitahuan di lokasi.
Para pemegang hak pemakaian toko diminta melapor untuk pendataan dan mengikuti tahapan selanjutnya.
Antara Kuliner dan Literasi
Rencana itu menuai beragam respons. Sebagian pedagang berharap Padang Teater kembali hidup sebagai pusat literasi.
Emil, salah satu pedagang buku, mengatakan kawasan ini punya sejarah panjang bagi dunia literasi Padang.
“Kalau kawasan ini ditata ulang, direnovasi, mungkin bisa hidup lagi seperti dulu,” tuturnya.
Namun ada juga yang melihat peluang baru. Jika Padang Teater menjadi pusat kuliner, kawasan ini bisa kembali ramai.
Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bernostalgia. Melihat gedung tua yang menyimpan cerita.
Mungkin, sambil menunggu pesanan, mereka bisa mampir ke toko buku yang tersisa. Membeli satu dua buku. Menghidupkan kembali denyut literasi yang hampir padam.
Padang Teater adalah cermin Kota Padang. Ia pernah berjaya. Ia pernah jatuh.
Kini, ia menunggu tangan-tangan yang mau merawatnya kembali. Bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai bagian dari ingatan kolektif warga.
Sebuah tempat di mana buku dan cerita pernah menjadi raja.
Dan di lantai duanya, suara azan kini menggantikan gemuruh musik malam yang dulu pernah menggema. (Dirangkum dari berbagai sumber dan rujukan)



