Beranda / Kabar Sumbar / Museum Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir Diresmikan, Fadli Zon Ingatkan Jejak Dua Tokoh Besar Asal Sumatera Barat

Museum Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir Diresmikan, Fadli Zon Ingatkan Jejak Dua Tokoh Besar Asal Sumatera Barat

Ahmad Kharisma
A+A-
Reset
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat meresmikan Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdiklat Polri, Jalan Bhayangkara, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).

Sukabumi, Sumbarpro — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Kompleks Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdiklat Polri, Jalan Bhayangkara, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).

Peresmian ini menjadi momen bersejarah yang tidak hanya menghidupkan kembali ruang ingatan bangsa, tetapi juga menegaskan posisi kedua proklamator tersebut sebagai putra terbaik Sumatera Barat yang jejak perjuangannya melampaui batas daerah.

Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir adalah dua nama yang tak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

Keduanya lahir dan besar di Sumatera Barat, tanah yang dikenal sebagai gudang cendekiawan dan pemikir bangsa.

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama Minangkabau dan dididik dengan nilai-nilai keislaman serta semangat intelektual yang kuat.

Sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan penuh integritas sebagai nilai-nilai yang sangat mencerminkan karakter masyarakat Minang.

Sementara itu, Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 5 Maret 1909.

Ia merupakan Perdana Menteri pertama Indonesia dan dikenal sebagai seorang intelektual, perintis, serta revolusioner yang pemikirannya jauh melampaui zamannya.

Sjahrir adalah sosok yang gigih memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur diplomasi dan pemikiran, bukan sekadar kekuatan fisik.

Fadli Zon, yang juga merupakan tokoh asal Sumatera Barat, menegaskan bahwa keberadaan museum ini menjadi pengingat penting bagi generasi muda tentang besarnya perjuangan para pendiri bangsa.

Jejak Pengasingan di Sukabumi

Museum ini menyimpan sejarah kelam sekaligus heroik. Pada Februari 1942, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dipindahkan dari Banda Neira ke kompleks Sekolah Polisi Sukabumi sebagai tahanan politik.

Keduanya menempati rumah tersebut selama 47 hari, terhitung sejak 3 Februari 1942.

Meskipun berada dalam pengawasan kolonial yang ketat, dari rumah itulah usaha, pemikiran, dan rintisan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia terus dinyalakan.

Sekitar satu bulan setelah Hatta dan Sjahrir berada di Sukabumi, Belanda menyerah kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati pada 7 Maret 1942.

“Rumah ini adalah rumah yang bersejarah karena rumah pengasingan dari Bung Hatta dan Bung Sjahrir sejak tahun 1942, tepatnya tanggal 3 Februari setelah diasingkan dari Banda Neira,” ujar Fadli Zon kepada awak media di lokasi.

Pada tahun 2026, Kementerian Kebudayaan melalui program revitalisasi museum, keraton, dan taman budaya telah menyelesaikan revitalisasi arsitektur fisik serta penataan interior dan kuratorial Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.

Penataan tersebut memperkuat penyajian sejarah kedua tokoh melalui konten yang lebih informatif dan kontekstual.

Pada bangunan utama sisi kanan, museum menyajikan lini masa perjuangan Mohammad Hatta, ruang kerja yang memuat karya tulis dan kliping koran era Jepang hingga kemerdekaan, serta peta perjalanan pengasingan Bung Hatta.

Sementara pada sisi kiri, pengunjung dapat melihat lini masa Sutan Sjahrir, gramofon lagu kesukaan Sjahrir, pajangan radio pemberitaan luar negeri, serta kearsipan surat kabar Daulat Ra’jat.

“Museum harus menjadi ruang pembelajaran yang hidup, tempat masyarakat, terutama generasi muda, dapat berdialog dengan sejarah,” kata Fadli Zon dalam siaran pers Kementerian Kebudayaan.

Peresmian ini dihadiri oleh putri Proklamator Bung Hatta, Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, serta putri Bung Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir.

Meutia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Menteri Kebudayaan yang memandang penting perlindungan aset sejarah bagi pembentukan karakter bangsa.

Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menyambut baik peresmian museum dan menyatakan siap memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk merawat museum agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kepala Setukpa Lemdiklat Polri, Brigjen Pol. Dirin, juga menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan revitalisasi hingga peresmian museum tersebut.

Pemerintah kini tengah mendaftarkan tempat tersebut agar statusnya naik dari cagar budaya tingkat kota menjadi cagar budaya nasional.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat rumah tahanan ini bisa jadi cagar budaya nasional. Sekarang baru cagar budaya di tingkat Kota. Sehingga ini bisa terawat, bisa terjamin selanjutnya,” kata Fadli Zon.

Peresmian Museum Rumah Pengasingan Hatta-Sjahrir menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam melestarikan warisan sejarah bangsa.

Melalui museum ini, generasi muda dapat meneladani semangat perjuangan, keteguhan hati, dan pengorbanan mereka dalam meraih cita-cita kemerdekaan.

“Semoga semakin banyak masyarakat yang mengunjungi museum ini untuk belajar dan meneladani perjuangan para pahlawan kita,” tutup Fadli Zon. (ak/*)

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690