Rupiah Dekati Rp18.200 per Dolar AS, Harga Barang Impor Terancam Naik

Redaksi
A+A-
Reset
Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS

Sumbarpro – Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp18.184 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026). Posisi ini hanya terpaut tipis dari rekor terlemah sepanjang masa, yakni Rp18.188 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026 lalu.

Sepanjang tahun ini, rupiah sudah anjlok sekitar 9 persen.

Kondisi itu berdampak sangat nyata. Rupiah yang melemah membuat barang-barang dari luar negeri menjadi lebih mahal. Mulai dari bahan baku industri dan pangan seperti gandum, kedelai, obat-obatan, gawai, hingga bahan bakar minyak (BBM). Semua itu pada akhirnya akan membuat harga barang dan jasa di dalam negeri ikut naik.

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ada beberapa penyebab rupiah terpuruk. Penyebab utamanya datang dari luar negeri, tetapi ada juga faktor dari dalam negeri.

Pertama, harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi, di atas 100 dolar AS per barel. Konflik di Timur Tengah yang belum selesai membuat pasokan minyak terganggu. Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, harga yang tinggi membuat kebutuhan dolar meningkat drastis.

“Harga minyak yang tinggi ini secara langsung membebani anggaran negara,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dikutip dari Kompas.com, Rabu (28/10).

Kedua, Amerika Serikat diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya. Ketika suku bunga di AS naik, investor dari seluruh dunia lebih memilih menaruh uangnya di sana karena imbal hasilnya lebih menarik. Akibatnya, dana asing yang tadinya mengalir ke Indonesia perlahan ditarik pulang.

“Ekspektasi kenaikan suku bunga AS memperburuk sentimen pasar keuangan global,” ujar Erwin.

Ketiga, ada kekhawatiran dari dalam negeri. Lembaga pemeringkat pasar saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan peringatan yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia.

Jika status ini turun, investor asing bisa berbondong-bondong keluar. Kekhawatiran inilah yang membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan.

“Arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik menambah tekanan terhadap rupiah,” kata Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi.

Dampak bagi Masyarakat

Pelemahan rupiah akan merambat ke kehidupan sehari-hari. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, masyarakat kelas bawah akan merasakan dampak paling berat.

“Kelompok berpendapatan rendah mengalokasikan sekitar 64,6 persen pengeluarannya untuk makanan. Sementara rata-rata nasional hanya 49,8 persen. Artinya, mereka lebih rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok,” ujar Yusuf.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada makanan impor seperti gandum dan kedelai. Bahan bakar juga terancam naik. Ketika harga minyak dunia melonjak dan rupiah melemah, biaya pengadaan BBM menjadi lebih mahal.

Jika pemerintah tidak mampu menahan subsidi, harga BBM non-subsidi bisa ikut merangkak naik. Ketika BBM naik, ongkos transportasi ikut naik, dan harga barang di pasar pun melesat.

Selain itu, barang-barang elektronik, kendaraan, dan obat-obatan yang bahan bakunya masih diimpor juga akan mengalami kenaikan harga.

“Perusahaan pada awalnya bisa menahan kenaikan biaya dengan mengurangi keuntungan. Namun jika tekanan berlangsung lama, mau tidak mau harga akan dinaikkan ke konsumen,” jelas Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.

Pemerintah dan Bank Indonesia tidak tinggal diam. BI telah melakukan berbagai langkah untuk menahan pelemahan rupiah. Salah satunya dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75 persen. Tujuannya agar investor asing tertarik kembali menanamkan uangnya di Indonesia.

BI juga aktif membeli surat berharga negara (SBN) di pasar. Sepanjang tahun ini, BI telah membeli SBN senilai ratusan triliun rupiah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.  Meski begitu, sejumlah ekonom menilai upaya tersebut belum cukup.

“Intervensi BI bisa mengurangi gejolak, tetapi belum tentu membalikkan tekanan selama risiko investasi di Indonesia masih dianggap tinggi,” ujar Syafruddin Karimi.

Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat diimbau untuk lebih bijak mengelola keuangan. Ekonom menyarankan agar masyarakat tidak panik dan tidak membeli barang secara berlebihan. Prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan pokok dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.

Pemerintah juga diminta memastikan pasokan bahan pokok tetap lancar dan harga tidak melonjak.

“Pengendalian subsidi, efisiensi belanja, dan penyaluran bantuan yang tepat sasaran menjadi kunci,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi dan mata uang.

Hingga berita ini diturunkan, rupiah masih berada di level Rp18.184 per dolar AS. Semua mata tertuju pada keputusan The Fed (bank sentral AS) pekan ini. Jika The Fed menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar.

Namun jika The Fed menahan suku bunga, ada harapan rupiah bisa sedikit menguat. Apa pun keputusannya, masyarakat diminta tetap tenang. (ak/*)

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690