Sumbarpro — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (27/10/2026), melanjutkan tekanan yang terjadi pada sesi sebelumnya seiring masih berlanjutnya arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.
Rupiah pada perdagangan pagi dibuka melemah 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp18.140 per dolar AS, dari penutupan Senin (26/10/2026) di Rp18.135.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia untuk pembukaan Selasa belum diperbarui. Kurs referensi terakhir pada Senin (26/10/2026) tercatat Rp18.116 per dolar AS, melemah 0,26 persen dari posisi Jumat (23/10/2026) di Rp18.069.
Angka JISDOR ini menjadi referensi resmi BI untuk transaksi valas di pasar domestik.
Data dari berbagai sumber lain menunjukkan pergerakan serupa di awal sesi. Refinitiv mencatat Rp18.120 per dolar AS, melemah 0,06 persen dari penutupan sebelumnya di Rp18.110. Kontan menunjukkan Rp18.137 per dolar AS, melemah tipis 0,01 persen.
Pelemahan rupiah pada sesi ini lebih banyak didorong oleh faktor domestik. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut premi risiko Indonesia sedang meningkat, tercermin dari arus keluar dana asing yang masih berlanjut setelah gejolak terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), bahkan ketika indeks dolar AS justru melemah dan yuan menguat ke level tertinggi dalam empat tahun.
Aksi jual bersih investor asing di pasar saham tercatat mencapai Rp1,14 triliun pada sesi pertama Senin, seiring IHSG yang turun sekitar 1 persen.
Arus keluar dana asing meningkatkan permintaan terhadap valuta asing dan memperbesar tekanan terhadap nilai tukar.
Dari sisi eksternal, harga minyak mentah Brent turun 0,8 persen menjadi US$115,81 per barel pada penutupan Senin, meski masih bertahan di level tinggi di tengah ketegangan Timur Tengah dan serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih, harga energi yang masih mahal tetap menjadi risiko bagi kebutuhan dolar AS untuk impor.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bank sentral tetap berada di pasar untuk memantau pergerakan rupiah dan menelusuri faktor yang mendasarinya, seraya menyebut nilai tukar dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran valuta asing.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. (ak/*)
