SELAMA puluhan tahun, bertani sering dianggap sebagai pilihan terakhir. Profesi ini dinilai kotor, berat, dan jauh dari kata bergengsi. Stigma itu masih terasa hingga sekarang. Sebagian anak muda bahkan mengaku malu jika harus pulang ke sawah setelah menyandang gelar sarjana. Padahal, di balik citra lama itu, pertanian menyimpan peluang yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan banyak orang.
Kekhawatiran tentang regenerasi petani memang bukan isapan jempol. Data BPS menunjukkan bahwa 55,5 persen petani Indonesia berusia di atas 50 tahun, dan 23,1 persen di antaranya sudah berusia di atas 60 tahun. Petani milenial berusia 19 hingga 39 tahun hanya sekitar 6,18 juta orang, atau 21,93 persen dari total petani. Lebih dari itu, banyak petani tua tidak ingin anaknya meneruskan profesinya karena keuntungan yang kecil dan biaya produksi yang terus naik.
Namun, gambaran suram itu mulai berubah. Pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai program digulirkan untuk membuka jalan bagi anak muda dan sarjana agar mau terjun ke sektor pertanian. Ada Brigade Pangan yang melibatkan anak muda dalam pengelolaan kawasan pertanian skala luas. Ada pula program Satu Rumah Satu Sarjana yang mendorong lahirnya intelektual muda di dunia agribisnis, seperti yang berjalan di Kalimantan Tengah. Di Tabalong, pemerintah daerah bahkan meluncurkan program beasiswa bagi 1.000 sarjana pertanian bekerja sama dengan IPB University.
Yang lebih menarik, insentif bagi sarjana yang memilih bertani juga mulai dibicarakan serius. Wacana pemerintah untuk menggaji sarjana pertanian hingga Rp10 juta per bulan jika mereka benar-benar terjun menjadi petani atau konsultan pertanian disambut positif banyak pihak. Angka itu bukan janji kosong. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ada 416 ribu petani milenial yang telah terlibat, dan sebagian di antaranya mampu meraih pendapatan hingga Rp20 juta per bulan. Bahkan ada yang mencatat omzet Rp24 juta dari kebunnya di Kalimantan Timur.
Kisah sukses seperti ini penting untuk terus disuarakan. Sebab, masalah utama bukanlah anak muda tidak mau bertani, melainkan jalan masuknya yang sering kali tidak jelas. Banyak yang ingin mencoba, tetapi terganjal akses lahan, pembiayaan awal, dan pasar yang belum tentu terbuka. Ketika seorang sarjana pertanian lulus, tercatat hanya sekitar 0,8 persen yang benar-benar berminat terjun menanam padi, dan 33,53 persen lulusan pertanian justru bekerja di luar bidangnya. Ini bukan karena mereka tidak cinta pertanian, tetapi karena ekosistemnya belum cukup ramah untuk dimasuki dari nol.
Pertanian Indonesia sendiri bukan sektor kecil. Kontribusinya terhadap PDB mencapai 13,1 persen pada 2025, menjadikannya salah satu penopang utama ekonomi nasional. Sektor ini juga masih menyerap lebih dari 42 juta tenaga kerja. Dengan angka sebesar itu, pertanian seharusnya menjadi ruang yang paling menjanjikan, bukan ruang yang ditinggalkan.
Mengubah stigma memang butuh waktu. Tetapi angka-angka mulai berbicara. Petani milenial yang jumlahnya terus bertambah, program beasiswa sarjana pertanian, dan insentif yang semakin nyata adalah bukti bahwa arahnya sudah berubah. Pertanian hari ini bukan lagi sekadar mencangkul di bawah terik matahari. Pertanian adalah teknologi, logistik, pemasaran digital, dan pengolahan hasil. Ketika anak muda melihat bahwa bertani bisa menghasilkan, bukan hanya secara materi tetapi juga kebanggaan, maka profesi ini akan kembali dilirik.
Pertanian bukan pekerjaan yang pantas dilewatkan. Pertanian adalah masa depan yang layak diperjuangkan. *
