Stunting Masih Jadi ‘PR’ yang Belum Selesai

Oleh: Alfonso Putra (Pemerhati Masalah Sosial)

Redaksi
A+A-
Reset
Ilustrasi stunting

ANGKA stunting di Indonesia memang belum sepenuhnya ‘jinak’, tetapi arah pergerakannya mulai menunjuk kan harapan. Jika pada 2024 prevalensi stunting masih berada di angka 19,8 persen, kini angkanya telah turun menjadi 18,8 persen pada 2025. Penurunan ini mungkin terdengar kecil, hanya satu persen. Namun di balik angka itu, ada ratusan ribu anak yang kini punya pe luang tumbuh lebih sehat, lebih tinggi, dan lebih cerdas dibandingkan sauda ra-saudara mereka beberapa tahun lalu.

Pemerintah tidak tinggal diam. Target nasional telah dipatok secara bertahap, dari 17,5 persen pada 2026, 16,3 persen pada 2027, 15,2 persen pada 2028, hingga 14,2 persen pada 2029 . Target ini bukan sekadar angka di atas kertas. Target ini adalah komitmen untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia, terutama yang lahir di keluarga dengan keterbatasan ekonomi, mendapat modal gizi yang cukup pada seribu hari pertama kehidupannya.

Salah satu program yang paling terasa gaungnya adalah Makan Bergizi Gratis atau MBG. Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu me nyusui, dan balita non-PAUD yang masuk dalam kategori keluarga berisiko stunting.

Hingga awal 2026, MBG telah menjang kau sekitar 60 juta penerima manfaat di se luruh Indonesia. Badan Gizi Nasional bahkan menargetkan angka stunting benar-benar turun signifikan hingga akhir 2026, dengan penanganan khusus bagi anak-anak yang sudah terlanjur stunting. Setiap Satuan Pe layanan Pemenuhan Gizi dilengkapi ahli gizi yang menyusun menu sesuai kebutuhan ma sing-masing anak, termasuk mereka yang memiliki alergi atau kebutuhan khusus.

Namun, memberi makan bergizi satu kali sehari jelas tidak cukup. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa MBG hanya lah satu dari tiga kali makan utama anak. Edu kasi keluarga tetap harus berjalan agar asupan protein hewani dan pola makan seimbang di rumah ikut terjaga . Di sinilah peran Posyandu menjadi krusial. Pemantauan pertumbuhan anak secara rutin memungkinkan deteksi dini ketika berat badan anak tidak naik atau panjang badannya tertinggal. Jika ditemukan tanda-tanda seperti itu, interven si tambahan bisa segera diberikan sebelum kondisi anak memburuk.

Selain melalui makanan, pemerintah juga memperkuat pencegahan dari hulu. Pre valensi anemia pada remaja putri masih sekitar 27 persen, dan kondisi ini menjadi salah satu pintu masuk stunting di masa depan. Karena itu, intervensi gizi kini dimulai sejak masa remaja, dilanjutkan dengan pemberian Multi Micronutrient Supplement bagi ibu ha mil agar pertumbuhan janin berjalan optimal.

Program Cek Kesehatan Gratis yang ber jalan sejak Februari 2025 hingga Februari 2026 juga telah mendeteksi 86.971 anak ba lita yang mengalami stunting, 69.392 anak dengan gizi kurang, dan 65.655 anak beri siko tuberculosis. Deteksi sedini mungkin membuat penanganan tidak lagi terlambat.

Di tingkat komunitas, berbagai inovasi lokal tumbuh subur. Program DASHAT atau Dapur Sehat Atasi Stunting memberdayakan ibu-ibu untuk mengolah makanan bergizi de ngan bahan pangan sekitar, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau GENTING menya sar keluarga miskin sebagai prioritas, deng an bantuan yang tidak hanya berupa makan an tambahan tetapi juga pembangunan jamban sehat dan akses air minum layak.

Di Samarinda, Gerakan Ketua RT Sepuluh Ribu Cegah Stunting berhasil menurun kan prevalensi dari 24,7 persen pada 2020 menjadi 17,1 persen pada 2025, bahkan me lampaui target nasional. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa perubahan memang mungkin terjadi ketika masyarakat bergerak bersama.

Tentu masih ada pekerjaan rumah yang tidak ringan. Sebanyak 8,1 juta keluarga teridentifikasi sebagai keluarga berisiko stun ting, dengan 2,9 juta di antaranya belum me miliki jamban layak dan 1,7 juta tanpa akses air minum utama yang layak.

Kesenjangan antardaerah juga masih lebar. Papua Pegunungan, NTT, Sulawesi Ba rat, dan Papua Selatan menjadi wilayah yang perlu perhatian ekstra.

Selain itu, masalah underweight atau be rat badan kurang menurut umur justru masih meningkat, menjadi tantangan tersendiri yang tidak boleh diabaikan .

Stunting bukanlah takdir yang harus diterima. Stunting adalah persoalan yang bisa dicegah selama semua pihak bergerak pada waktu yang tepat, yaitu seribu hari pertama kehidupan.

Dengan gizi yang cukup, sanitasi yang layak, air bersih, dan pemantauan tumbuh kembang yang konsisten, setiap anak Indo nesia punya kesempatan yang sama untuk tumbuh optimal. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi janji baru, melainkan keberlanjutan dari apa yang sudah berjalan, diperluas hingga ke pelosok, dan dipastikan benar-benar sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan. *

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690