Persiku Kudus, Klub yang ‘Kalah Sebelum Bertanding’

Dari minus satu poin hingga kehilangan kandang sendiri, Macan Muria menjalani musim yang lebih berat di luar lapangan daripada di dalamnya.

Redaksi
A+A-
Reset
Dokumentasi - Pertandingan Persiku Kudus vs PSPS Pekanbaru.

Sumbarpro – Persiku Kudus memulai musim ini dengan situasi yang tidak ideal. Mereka mengalami pengurangan satu poin, stadion yang bukan milik mereka, dan pelatih yang sudah digeser sebelum kompetisi benar-benar berjalan.

Pada Sabtu malam (24/10/2026) pukul 19.00 WIB, tim berjuluk Macan Muria itu akan menjalani laga kandang melawan Semen Padang FC di Stadion Sultan Agung, Bantul. Sebuah pertandingan yang secara administratif tercatat sebagai home game, tetapi secara rasa tidak lagi terasa seperti rumah.

Klub yang Dihukum Sebelum Bola Menggelinding

Hukuman itu datang pada Juni 2026, jauh sebelum pekan pertama dimulai. Manajemen Persiku mengumumkan bahwa tim akan mengawali Pegadaian Championship 2026/2027 dengan minus satu poin.

Penyebabnya bukan pelanggaran di lapangan, melainkan satu aspek dalam Club Licensing Cycle yang berstatus Not Granted atau tidak memenuhi syarat operator kompetisi.

Dalam pernyataan resminya, klub menyebut sanksi itu sebagai bahan evaluasi dan meminta maaf kepada suporter.

Beban itu tidak berdiri sendiri. Stadion Wergu Wetan, markas kebanggaan warga Kudus, sedang menjalani renovasi. Persiku terpaksa mencari kandang sementara.

Pilihan jatuh ke Stadion Sultan Agung di Bantul, Yogyakarta, yang secara geografis berjarak sekitar 75 kilometer dari Kudus. Manajemen menyebut pemilihan itu melalui verifikasi regulasi, keselamatan, dan kelayakan fasilitas. Tetapi bagi suporter, jarak itu tetap terasa.

Enam Laga, Nol Kemenangan, dan para Pelatih yang Pergi

Catatan Persiku musim ini nyaris tidak masuk akal untuk sebuah klub yang masih berkompetisi di kasta kedua. Enam pertandingan, satu imbang, lima kekalahan, dan belum sekali pun menang.

Mereka belum pernah keluar dari nilai negatif. Puncaknya adalah kekalahan 0-6 dari PSMS Medan pada September lalu.

Saat itu, pelatih Kahudi Wahyu Widodo mengakui timnya kehilangan arah.

“Kami datang dengan percaya diri. Kemudian ada satu gol lawan dengan situasi cukup baik, kemudian terlalu cepat gol,” katanya seusai laga.

Ia menyebut para pemain kehilangan kepercayaan diri hingga banyak yang cedera karena tekanan mental.

Situasi itu tidak berujung pada pemecatan, tetapi pada pergeseran. Pada 8 Oktober 2026, Kahudi membantah isu pengunduran diri dan menegaskan dirinya dipindahkan ke posisi Direktur Teknik.

“Saya tidak mundur tapi dijadikan dirtek,” ujarnya.

Posisi pelatih kepala sementara diserahkan kepada Bambang Pujo Sumantri. Lalu berganti ke Agus Yuwono. Dengan demikian, sejak awal musim Persiku sudah tiga kali berganti pelatih.

Masalah terbesar Persiku justru muncul pada akhir September. Mereka dijadwalkan menjamu PSIS Semarang di Stadion Sultan Agung pada 27 September 2026. Namun pertandingan itu batal digelar. Operator kompetisi kemudian menetapkan PSIS menang walkover (WO) 3-0. Penyebabnya adalah pengajuan izin pertandingan dari pihak tuan rumah yang dinilai mepet.

Kekalahan WO itu bukan hanya soal kehilangan tiga poin, namun menjadi rangkuman seluruh persoalan Persiku. Kehilangan kandang, kehilangan waktu, dan pada akhirnya kehilangan pertandingan sebelum bola sempat ditendang.

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690