Sejak insiden itu, Persiku disebut berada dalam fase bergejolak, dengan isu finansial menyertai keputusan dua pelatih yang meninggalkan kursinya.
Di luar lapangan, tekanan dari suporter juga meninggi. Pada Agustus 2026, Aliansi Suporter Kudus yang terdiri dari SMM, Keluarga Cemara, South Gate, dan beberapa kelompok lain melayangkan enam tuntutan terbuka kepada PT Relasi Sport Muria Indonesia selaku badan hukum klub. Mereka menuntut pengelolaan yang lebih profesional.
Semen Padang Datang dengan Beban Berbeda
Di sisi lain, Semen Padang FC tidak datang ke Bantul dengan kondisi yang sepenuhnya mulus. Kabau Sirah juga belum meraih kemenangan sejak Stefano Cugurra mengambil alih kursi pelatih.
Dua laga di bawah Teco berakhir dengan kekalahan 1-2 dari Persikad Depok dan imbang 1-1 melawan PSMS Medan. Manajemen menargetkan sapu bersih kemenangan di tiga laga sisa putaran pertama, dan laga melawan Persiku adalah yang pertama.
Teco sendiri menegaskan persiapan timnya jauh lebih matang kali ini. Namun, Semen Padang harus kehilangan kiper utama Ikram Alghiffari karena cedera kaki kanan. Teco menyebut kiper pelapis siap mengisi pos tersebut.
Perbedaan beban antara kedua tim terletak pada sumbernya. Semen Padang berjuang untuk meraih kemenangan pertama bagi pelatih barunya. Persiku berjuang untuk sesuatu yang lebih mendasar, keluar dari keterpurukan yang dimulai bahkan sebelum kompetisi bergulir.
Bagi Macan Muria, tiga poin pada Sabtu malam bukan sekadar angka di klasemen, tapi akan menjadi bukti bahwa klub ini masih bisa berdiri di atas lapangan, meski hampir segala hal di sekitarnya sedang runtuh. (ak/*)
