JAKARTA, Sumbarpro – Indonesia tengah menghadapi sebuah paradoks pangan yang membingungkan sekaligus meresahkan. Di saat pemerintah mengklaim telah mencapai swasembada beras dengan surplus mencapai jutaan ton, harga beras di tingkat konsumen justru terus merangkak naik dan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per minggu ketiga September 2026 menunjukkan harga beras medium secara nasional telah mencapai Rp14.644 per kilogram, sementara beras premium menyentuh Rp16.495 per kilogram. Kedua angka ini berada jauh di atas HET Zona 1 yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp13.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp14.900 per kilogram untuk beras premium.
Kenaikan tercatat cukup luas. BPS melaporkan sejumlah kabupaten/kota mengalami kenaikan harga beras lebih dari 3 persen, dengan kenaikan tertinggi terjadi di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang mencapai 47,94 persen.
Yang lebih mencengangkan, laporan NEXT Indonesia Center bertajuk ‘Anomali Surplus Beras’ mengungkap bahwa penyimpangan harga terbesar justru melanda empat provinsi lumbung padi utama nasional, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan. Keempat daerah ini secara kolektif menyumbang sekitar 16,5 juta ton atau hampir separuh dari total produksi beras nasional.
Ironisnya, produksi beras terbilang fantastis. Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian, produksi beras nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya sebesar 31,10 juta ton. Artinya, terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.

Bahkan, stok awal tahun 2026 saja sudah mencapai 12,4 juta ton, yang jika digabungkan dengan proyeksi produksi, total ketersediaan beras nasional mencapai 47,1 juta ton.
Perum Bulog sendiri telah menyerap lebih dari 3,9 juta ton setara beras, atau 99 persen dari target penugasan sebesar 4 juta ton, yang berasal dari 7,7 juta ton gabah kering panen (GKP) dan 35,8 ribu ton beras.
Dengan angka-angka ini, secara logika sederhana, harga beras seharusnya turun atau setidaknya stabil. Namun, faktanya justru sebaliknya.
“Kalau data ini benar, produksi beras itu mungkin yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Secara logika, dengan surplus sekitar 3 juta ton, harga seharusnya turun atau minimal stabil,” ujar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa.



