Sumbarpro— Di balik perbukitan hijau Nagari Saruaso, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, berdiri sebuah situs bersejarah yang memikat pandangan sekaligus membangkitkan imajinasi. Kawasan makam kuno Talago Gunung kini menjadi salah satu peninggalan masa lalu yang penting secara arkeologis, sekaligus menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi sejarah.
Situs Talago Gunung berada di puncak kecil dengan panorama langsung menghadap Gunung Marapi dan hamparan Nagari Pariangan di kejauhan. Di bawah naungan pepohonan besar, puluhan batu nisan tua berjejer rapi—sebagian besar berbentuk menhir, berdiri tegak di tanah lembap berlumut. Keberadaan batu-batu ini menandakan adanya peradaban tua yang pernah berkembang di lereng Bukit Barisan bagian tengah.
Kini kawasan makam telah dipagari besi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sumatera Barat untuk mencegah kerusakan. Di luar pagar, sebuah warung kecil milik warga setempat juga menjadi tempat Ahmad Dahlan (56), atau akrab disapa Ujang, beristirahat sambil mengawasi area situs setiap hari.
“Tempat ini dikeramatkan oleh penduduk sekitar,” ujar Ujang, Rabu (8/10), saat ditemui Sumbarpro.net di kompleks Makam Talago Gunung.

Ujang mengaku menjaga situs tersebut atas penugasan dari BPK Sumbar. Baginya, Talago Gunung bukan sekadar peninggalan kuno, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat sekitar.
“Masyarakat sini masih sering berziarah pada hari atau bulan tertentu, mungkin itu yang menjadi alasan mengapa kawasan makam ini tetap terpelihara dan jarang disentuh tangan jahil,” bisiknya.
Dari pengamatan redaksi sumbarpro, daya tarik utama situs ini terletak pada sebuah nisan batu setinggi sekitar 3,5 meter — jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan nisan lainnya di sekitarnya. Bentuknya menyerupai pucuk tanaman pakis dengan ukiran halus pada permukaannya. Namun, ketika ditanya, juru pelihara makam tersebut mengaku tidak mengetahui asal-usulnya.

Di tempat berbeda, Kasubag Umum BPK Sumbar, Romi Hidayat, yang ditemui pada Selasa (14/10) di kantornya, menjelaskan bahwa nisan-nisan tua di kawasan Makam Kuno Talago Gunung belum diidentifikasi secara menyeluruh.
“Bila dilihat sekilas dari bentuk dan pahatannya, menhir tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga ke-15 Masehi, sezaman dengan Prasasti Batu Basurek Saruaso II yang disinyalir berasal dari tahun 1297 Masehi,” ujarnya.
“Namun, itu baru dugaan, karena untuk memastikannya kami harus melakukan ekskavasi terhadap situs tersebut,” tambahnya.
Menurut Romi, arkeolog lulusan Universitas Udayana, Bali, lokasi situs yang menghadap langsung ke arah Gunung Marapi itu menarik secara arkeologis karena selaras dengan teori God of Mountain — keyakinan kuno yang menempatkan gunung sebagai simbol kesucian dan pusat spiritual masyarakat masa lalu. Meski memiliki nilai sejarah tinggi, situs ini belum sepenuhnya tergarap dari sisi promosi maupun penelitian.
Dari data sementara yang dikumpulkan BPK Sumbar, disimpulkan bahwa Makam Talago Gunung disinyalir sebagai kompleks pemakaman Islam kuno dengan nisan bertipe menhir, karena posisi batu-batu nisannya mengarah utara–selatan. Ada pula yang meyakini bahwa salah satu yang dimakamkan di sana merupakan tokoh penting Kaum Paderi yang gugur dalam perlawanan terhadap Belanda sekitar tahun 1838 Masehi. Namun, sebagian batu nisan lainnya diduga berusia lebih tua karena terdapat indikasi perpaduan antara tradisi megalitik dan pengaruh Islam awal.
Ditegaskan Romi, menurut catatan sejarah masa lampau yang kerap terbukti kebenarannya, semakin tinggi letak serta ukuran batu menhir pada sebuah makam, semakin tinggi pula strata sosial orang yang dimakamkan.
“Bisa saja, sosok yang disemayamkan disitu adalah seorang raja, pemuka adat, atau tokoh penting pada masanya, “tutur Romi.
Sementara itu menurut Zul Afwan, Pamong Budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar, yang ditemui pada Rabu (15/10) dikantornya, mengakui bahwa pihaknya belum memiliki data arkeologis lengkap mengenai situs Talago Gunung. Untuk informasi tentang Cagar budaya kami masih mengacu pada data dari BPK Sumbar yang menyebutkan komplek makam kuno adalah komplek pemakaman kaum padri.
“bisa jadi, semua makam yang ada di situs tersebut adalah pusara kaum paderi, karena bentuk pemakaman Islam pada masa lalu memang berupa menhir,“ ungkap zul.
Ditambahkannya untuk mengetahui siapa sebenarnya yang dimakamkan di sana dan pada masa apa, secara teknis kami terbatas peralatan dan tenaga ahli arkeologi. Tapi kami berharap dengan kolaborasi bersama BPK Wilayah III Sumbar, situs ini bisa menjadi lokasi wisata sejarah dan edukatif bagi pelajar maupun wisatawan. Keindahan lanskap dan nilai sejarah Talago Gunung menjadikannya kandidat kuat sebagai destinasi wisata sejarah di Tanah Datar, melengkapi daya tarik budaya lain seperti Prasasti Basurek Saruaso dan Nagari Tuo Pariangan. Namun tanpa dukungan penelitian, pelestarian, dan promosi, potensi itu bisa kembali tenggelam. Dari data yang dihimpun oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar, secara infrastruktur akses menuju lokasi kini terbilang mudah. Jalan beraspal bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat hingga ke pintu masuk situs. Denah situs berbentuk segitiga dengan luas sekitar 197 meter persegi, berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Sebagian nisan berukuran antara 1 hingga 2 meter, dengan pahatan motif geometris dan suluran yang masih tampak jelas.
“Talago Gunung bisa menjadi laboratorium sejarah hidup, Kita tinggal menyatukan perhatian agar warisan ini tak hanya dijaga, tapi juga dikenal.”tutup zul.
Di bawah kabut tipis lereng Bukit Barisan, batu-batu makam Talago Gunung masih berdiri tegak — bukan sekadar tanda kematian, melainkan penanda perjalanan panjang sejarah Minangkabau yang menunggu untuk diceritakan kembali.(don)

















