PADANG, Sumbarpro — Nilai ekspor asal Provinsi Sumatera Barat pada September 2026 mencapai US$357,81 juta. Angka ini melonjak 96,14 persen dibandingkan September 2025.
Meski nilai impor juga melesat 115,05 persen menjadi US$115,44 juta, neraca perdagangan Sumatera Barat pada bulan tersebut tetap mencatatkan surplus US$242,37 juta.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026, ekspor Sumatera Barat menembus US$2.648,83 juta atau naik 26,20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Golongan lemak dan minyak hewan atau nabati (HS 15) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$2.297,15 juta atau tumbuh 31,44 persen.
Peningkatan signifikan juga terjadi pada komoditas berbagai produk kimia (HS 38) yang naik 44,24 persen menjadi US$97,93 juta.
Sebaliknya, ekspor golongan garam, belerang, dan kapur (HS 25) mengalami penurunan terbesar, yaitu turun 40,92 persen menjadi US$22,42 juta.
Dari sisi tujuan negara, India masih menjadi pasar utama dengan nilai ekspor US$581,86 juta, disusul Pakistan US$471,99 juta, dan Tiongkok US$424,11 juta.
Tiga negara itu berkontribusi sebesar 55,80 persen terhadap total ekspor. Sektor industri pengolahan mendominasi struktur ekspor dengan kontribusi mencapai 97,30 persen.
Kenaikan ekspor yang tajam berbanding lurus dengan lonjakan impor. Nilai impor Sumatera Barat pada September 2026 tercatat US$115,44 juta, naik 69,67 persen dibanding Agustus 2026.
Sepanjang Januari hingga September 2026, total impor mencapai US$899,92 juta atau naik 115,05 persen.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat, Nurul Hasanudin menyatakan, peningkatan impor secara kumulatif disumbang oleh naiknya impor bahan bakar mineral sebesar US$445,93 juta atau 107,50 persen.
“Golongan bahan bakar mineral mengalami peningkatan nilai impor tertinggi menjadi US$762,92 juta atau naik 148,86 persen,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis Senin (2/11/2026).
Lima negara pemasok barang impor terbesar selama Januari hingga September 2026 adalah Singapura dengan nilai US$521,98 juta atau 58,00 persen, Malaysia US$248,04 juta atau 27,56 persen, Argentina US$36,84 juta, Kanada US$26,95 juta, dan Brasil US$18,52 juta.
Sebagian besar aktivitas bongkar muat ekspor dan impor ini terpusat melalui Pelabuhan Teluk Bayur. (ak/*)
