Sumbarpro — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat sore (30/10/2026), tertekan sentimen risiko global dan ketidakpastian ekonomi domestik menjelang rilis data inflasi Oktober pekan depan.
Rupiah di pasar spot ditutup melemah 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp18.147 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp18.137.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama mencatat posisi Rp18.138 per dolar AS, melemah 0,05 persen secara harian. Angka JISDOR ini menjadi referensi resmi BI untuk transaksi valas di pasar domestik.
Data dari berbagai sumber lain menunjukkan pergerakan yang bervariasi di akhir sesi. Databoks mencatat Rp18.143,4 per dolar AS hingga pukul 16.46 WIB.
Bloomberg Technoz menunjukkan Rp18.127 per dolar AS, menguat tipis 0,03 persen setelah sempat melemah ke Rp18.150 pada sesi intraday.
CNBC Indonesia dengan data Refinitiv mencatat Rp18.120 per dolar AS, menguat 0,03 persen dari penutupan Kamis di Rp18.125.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang justru menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,58 persen, diikuti rupee India 0,23 persen dan peso Filipina 0,17 persen.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut salah satu sentimen eksternal datang dari laporan The Wall Street Journal bahwa kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, memberikan penjelasan kepada Presiden Donald Trump mengenai opsi militer terhadap Iran.
Laporan itu menyinggung pembahasan blokade yang terus dilakukan AS serta kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar, dengan Trump mengisyaratkan kemungkinan serangan baru setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Dari dalam negeri, pasar mencermati respons Bank Indonesia terhadap kekhawatiran pelemahan rupiah hingga kisaran Rp20.000-Rp21.000 per dolar AS yang sebelumnya disampaikan Hashim Djojohadikusumo.
Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan menjaga stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas bank sentral dan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik dibandingkan negara-negara sebanding.
Untuk sepekan ke depan, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dengan rentang pergerakan Rp18.000 hingga Rp18.300 per dolar AS, dipengaruhi sentimen risk-off, aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik, serta kenaikan harga minyak dunia. (ak/*)
