GUSTINA Putri Ningsih (26 tahun) terbaring sakit selama sepuluh tahun. Ia tidak mampu beraktivitas sejak menjalani operasi usus buntu di RSUD Rasidin Padang pada tahun 2016 silam. Keluarganya terpaksa merawatnya di rumah karena terkendala biaya.
Setiap minggu, petugas RSUD Rasidin datang untuk mengganti oksigen dan memberikan obat. Tapi itu saja. Tidak ada penanganan intensif. Tidak ada rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap. Sampai akhirnya, Jumat siang (30/10), Putri baru dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Apa yang mengubah nasibnya? Bukan kebijakan pemerintah. Bukan program kesehatan yang sistematis. Tapi sebuah ‘kebetulan’.
Anggota DPR RI, Andre Rosiade tengah meninjau program bedah rumah di Padang Sarai. Seorang anak datang menghampirinya dan meminta agar ia menjenguk Putri. Andre datang ke rumah Putri. Kurang dari 24 jam, ambulans RSUD Rasidin langsung membawa Putri ke RSUP M. Djamil.
Kita bersyukur Putri akhirnya mendapat penanganan yang layak. Tapi sangat banyak pertanyaan yang muncul. Kenapa harus menunggu sepuluh tahun? Kenapa harus menunggu ‘kebetulan’ ada pejabat? Kenapa bukan sistem kesehatan yang bergerak lebih dulu?
Keluarga Putri sudah berusaha. Mereka merawatnya dengan kasih sayang. Petugas RSUD Rasidin juga rutin datang. Tapi itu tidak cukup. Pasien dengan kondisi seperti Putri butuh penanganan spesialis. Butuh rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap dan tentunya biaya yang tidak sedikit. Dan semua itu tidak bisa ditanggung keluarga miskin.
Ini adalah cermin kegagalan pelayanan kesehatan. Mengapa keluarga Putri tetap terkendala biaya? Apakah mereka tidak memiliki BPJS? Atau ada masalah dalam klaim? Atau mungkin ada persoalan komunikasi antara rumah sakit dan keluarga?
Kita belum tahu pasti. Tapi yang jelas, ada yang salah dalam sistem. Jangan sampai rakyat harus bergantung pada sebuah ‘kebetulan’. Jangan sampai mereka harus menunggu ada pejabat yang ‘kebetulan’ lewat. Negara harus hadir secara sistematis.
Kita mendesak Pemko Padang, Dinas Kesehatan, dan RSUP M. Djamil untuk tidak hanya mengobati Putri. Tapi juga menyelidiki mengapa kasus ini bisa terjadi.
Periksa apakah pihak kelurahan dan kecamatan sudah tahu tentang kondisi yang dialami Putri. Periksa apakah ada kelalaian dalam proses rujukan. Periksa apakah BPJS berfungsi sebagaimana mestinya.
Jika ada masalah administratif, perbaiki. Jika ada aturan yang menghambat, ubah. Jangan biarkan kasus serupa terulang. Banyak ‘Putri-Putri’ lain di luar sana yang mungkin juga terbaring tanpa penanganan layak. Mereka mungkin tidak seberuntung Putri yang kebetulan Andre Rosiade berkunjung ke kawasan itu.
Selain itu, pemerintah harus memperkuat layanan di tingkat bawah. Lurah dan camat harus peka dengan kondisi di wilayahnya. Begitu juga RSUD Rasidin seharusnya mampu merujuk pasien kritis tanpa harus menunggu ada orang penting. Dokter di puskesmas dan rumah sakit daerah harus proaktif. Jangan hanya memberikan obat rutin. Jika pasien tidak kunjung membaik, segera rujuk.
Kita juga mengapresiasi kepedulian Andre Rosiade. Tapi ia tidak bisa menjangkau semua warga. Kita butuh sistem yang bekerja untuk semua orang. Setiap warga negara berhak mendapat layanan kesehatan yang layak. Tanpa terkecuali. Tanpa harus menunggu sepuluh tahun.
Mari kita doakan Putri segera sembuh. Tapi mari juga kita jadikan kasus ini sebagai pelajaran. Jangan biarkan ada ‘Putri-Putri’ lain yang terlantar. *
