SEBANYAK 342 guru Sekolah Dasar se-Kota Padang mengikuti pembekalan pencegahan perundungan, kekerasan, dan intoleransi.Kegiatan berlangsung selama dua hari di Gedung Youth Center Padang. Tujuannya nenciptakan iklim belajar yang aman dan inklusif.
Pembekalan ini diselaraskan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Para guru diajak memahami cara mendeteksi potensi konflik antarsiswa sejak dini.
Perundungan dan kekerasan di sekolah bukan persoalan sepele. Dampaknya panjang. Anak yang dirundung bisa kehilangan rasa percaya diri. Ia malas sekolah. Prestasinya turun. Bahkan ada yang nekat mengakhiri hidup.
Kekerasan fisik dan verbal juga meninggalkan luka batin yang sulit disembuhkan.
Sementara intoleransi merusak kerukunan. Anak diajari membenci perbedaan. Padahal Indonesia sangat beragam. Sekolah harus menjadi tempat belajar menghargai, bukan tempat menanam kebencian.
Namun, pelatihan seperti ini sering kali mandek dalam implementasinya. Tidak ada tindak lanjut dan evaluasi. Akhirnya, pengetahuan yang didapat menguap begitu saja.
Oleh karena itu, guru harus benar-benar mempraktikkan materi di sekolah masing-masing.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Yopi Krislova memang meminta para peserta menerapkan ilmu yang diperoleh secara bertahap. Tapi, Dinas Pendidikan juga harus memastikan setiap sekolah memiliki prosedur penanganan kasus.
Setiap guru harus tahu ke mana melapor jika melihat perundungan. Setiap siswa harus berani bercerita tanpa takut.
Identitas pelapor harus dilindungi. Korban harus mendapat pendampingan psikologis. Pelaku harus ditindak sesuai aturan. Bukan ‘dimediasi’ dengan alasan kenakalan anak.
Yang juga tidak kalah penting adalah keteladanan. Guru adalah panutan. Jika guru sendiri suka membentak atau bersikap tidak adil, maka pesan tentang sekolah aman akan sia-sia.
Sebab, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar.
Karena itu, guru harus menjadi contoh dalam bertutur kata, bersikap, dan menghargai perbedaan. Jangan ada guru yang memarahi siswa di depan kelas dengan kata-kata kasar dan jangan ada hukuman fisik.
Selain guru, orang tua juga harus dilibatkan. Perundungan sering terjadi karena anak tidak punya tempat curhat yang aman. Di rumah, mereka takut dimarahi. Di sekolah, mereka takut tidak dipercaya.
Sekolah harus membangun komunikasi yang baik dengan orang tua. Adakan pertemuan rutin dan beri ruang bagi orang tua untuk menyampaikan keluhan.
Jangan hanya menghubungi orang tua ketika anak bermasalah. Hubungi juga ketika anak berprestasi atau menunjukkan perubahan positif.
Pemerintah kota juga harus menyiapkan anggaran untuk program ini karena harus berkelanjutan. Harus ada tim pemantau di setiap kecamatan dan konselor di setiap sekolah.
Tak kalah penting, pelu digelar kampanye anti perundungan yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Semua itu butuh biaya. Jangan sampai program mulia ini mati karena tidak ada dana.
Kita berharap 342 guru yang mengikuti pembekalan ini menjadi ujung tombak perubahan. Mereka adalah garda terdepan di sekolah yang setiap hari bertemu anak-anak dan tahu siapa yang sering menyendiri, murung, dan sering diejek.
Jika guru peduli, sekolah akan menjadi tempat yang aman. Jika guru abai, sekolah bisa menjadi ‘neraka kecil’ bagi anak-anak yang lemah.
Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang paling dirindukan. Bukan tempat yang paling ditakuti. Anak-anak adalah masa depan bangsa.
Mari lindungi mereka dan didik mereka dengan kasih sayang. Jangan biarkan perundungan dan kekerasan merenggut masa depan mereka. *
