Sumbarpro
KOTA Padang sedang belajar hal baru. Bukan soal kuliner, bukan soal wisata. Kali ini soal ikan.
Wakil Wali Kota Maigus Nasir baru saja membuka sosialisasi budidaya ikan tematik sistem RAS dan Mina Padi di Balai Kota Aie Pacah.
Yang hadir bukan kalangan nelayan atau pembudidaya senior, tapi para camat dan lurah se-Kota Padang. Artinya, program ini memang disiapkan turun sampai ke tingkat paling bawah
Alasannya masuk akal. Penduduk Padang terus bertambah. Program Makan Bergizi Gratis juga berjalan. Kebutuhan protein hewani dari ikan otomatis naik.
Sementara produksi perikanan air tawar belum mencukupi, apalagi setelah banjir bandang 2025 lalu yang membuat sebagian kolam dan sawah tidak lagi produktif seperti sebelumnya.
Sistem RAS atau Recirculating Aquaculture System menawarkan jalan pintas yang cerdas. Tidak butuh lahan luas, tidak butuh air melimpah.
Ikan bisa dibudidayakan di ruang sempit dengan air yang terus berputar dan disaring.

Sementara Mina Padi menggabungkan budidaya ikan dan tanaman padi di satu petak sawah. Ikan dapat makan dari sisa tanaman, kotorannya jadi pupuk alami, dan hasil panen padi tidak berkurang.
Sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Itulah Mina Padi.
Tapi sosialisasi baru langkah awal. Pekerjaan sesungguhnya dimulai pada camat dan lurah. Pendataan calon penerima bantuan harus akurat.
Jangan sampai yang dapat bantuan adalah yang dekat dengan kekuasaan, bukan yang benar-benar butuh.
Jangan sampai lokasi yang dipilih justru rawan banjir lagi.
Jangan sampai bantuan benih datang, tapi tidak ada yang mendampingi cara merawatnya.
Budidaya ikan itu bukan pekerjaan sambilan yang bisa ditinggal begitu saja. Butuh pakan teratur, kualitas air yang dijaga, dan pemahaman soal penyakit ikan.
Kalau bantuan hanya berupa benih dan kolam, tanpa ilmu dan pendampingan, hasilnya bisa diprediksi. Ikan mati, kolam menganggur, program jalan di tempat.
Soal pasar juga jangan dilupakan. Kalau ikan sudah panen, siapa yang membeli. Apakah rumah makan, pasar, atau justru program Makan Bergizi Gratis sendiri yang menyerap hasilnya.
Kalau tidak ada kepastian pembeli, harga bisa jatuh dan pembudidaya kecil yang paling terdampak.
Satu hal lagi yang tak kalah penting, libatkan generasi muda. Anak-anak muda Padang banyak yang paham teknologi.
Sistem RAS ini sebenarnya cocok untuk mereka. Bisa dipadukan dengan sensor sederhana, pencatatan digital, bahkan penjualan online.
Kalau program ini bisa menarik minat mereka, bukan tidak mungkin budidaya ikan jadi lahan baru yang menjanjikan, bukan sekadar pekerjaan sampingan orang tua.
Pada akhirnya, semua kembali ke satu hal. Kalau camat dan lurah serius mendata, kalau dinas rajin mendampingi, dan kalau masyarakat mau belajar, bukan tidak mungkin Padang tidak hanya kenyang ikan, tapi juga jadi contoh daerah lain. *
