Sumbarpro
BANJIR yang melanda Kota Padang akhir tahun lalu meninggalkan luka mendalam. Rumah terendam, jalan rusak, dan aktivitas warga lumpuh.
Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang kini bergerak maraton. Sebanyak 21 paket fisik penanganan drainase, irigasi, dan sungai dikebut.
Dananya bersumber dari Transfer ke Daerah. Pengerjaan tersebar di Lubuk Minturun, Sungai Guwo, Tabing Banda Gadang, dan Baringin.
Di Lubuk Minturun, progres pekerjaan bahkan melampaui target. Deviasi positif mencapai 40 persen, lebih cepat 10 persen dari rencana 30 persen. Kontraktor berkomitmen menyelesaikan sebelum jatuh tempo 9 November 2026.
Percepatan ini penting karena saluran irigasi Lubuk Minturun adalah urat nadi pengairan sawah dan kolam ikan warga.
Jika saluran lancar, petani tidak kekurangan air. Jika saluran bersih, banjir tidak mudah meluap. Jadi pekerjaan ini menyentuh langsung kehidupan orang banyak.
Tapi kita tidak boleh lengah. Percepatan pengerjaan tidak selalui berbanding lurus dengan penurunan kualitas. Jangan sampai mengejar target waktu, mutu beton dikurangi. Jangan sampai saluran dibangun asal jadi. Jangan sampai drainase baru justru menjadi sarang sampah karena tidak dirawat.

Banyak proyek infrastruktur di daerah yang bagus di awal, tetapi rusak dalam hitungan bulan. Penyebabnya klasik. Pengawasan lemah. Bahan tidak sesuai spesifikasi. Pekerjaan tidak tuntas.
Oleh karena itu, Dinas PUPR harus memastikan setiap paket diawasi ketat. Libatkan konsultan independen. Libatkan masyarakat sekitar. Buka informasi progres kepada publik. Jangan hanya laporan di atas kertas.
Selain 21 paket yang berjalan, ada 4 paket baru yang memanfaatkan sisa efisiensi tender. Paket tambahan ini akan dialokasikan ke Sungai Lareh, Kuranji, dan Lubuk Begalung. Wilayah-wilayah itu juga sering ‘dikunjungi’ banjir. Jadi penambahan paket ini tepat sasaran.
Tapi lagi-lagi, perencanaannya harus matang. Jangan sampai paket baru muncul hanya karena ada sisa uang. Pastikan benar-benar dibutuhkan.
Pastikan tidak tumpang tindih dengan proyek lain. Pastikan drainase yang dibangun terhubung dengan sistem yang sudah ada.
Jangan sampai air dari satu saluran malah dialihkan ke saluran lain yang lebih kecil. Itu sama saja memindahkan masalah.
Yang juga tidak boleh dilupakan adalah perawatan. Drainase dan irigasi bukan proyek sekali jadi. Butuh pembersihan rutin. Butuh perbaikan berkala.
Warga juga harus terlibat. Jangan buang sampah ke saluran. Jangan bangun warung di atas drainase.
Pemerintah harus tegas menertibkan pelanggaran tata ruang. Kalau tidak, proyek miliaran rupiah ini akan sia-sia.
Banjir di Padang punya akar masalah yang kompleks. Mulai dari kerusakan hulu, penyempitan sungai, hingga buruknya perilaku warga.
Maka itu, penanganan harus menyeluruh. Hulu diperbaiki. Hilir ditata. Drainase dirawat. Warga diedukasi. Hanya dengan begitu, banjir bisa benar-benar dikendalikan. *



