Beranda / Peristiwa / Jenazah Tanpa Identitas di Enggano Teridentifikasi sebagai ABK KM Arupadhatu 1

Jenazah Tanpa Identitas di Enggano Teridentifikasi sebagai ABK KM Arupadhatu 1

Redaksi
A+A-
Reset
Surakman ABK KM Arupadhatu 1

BANTEN, Sumbarpro — Sesosok jenazah laki-laki tanpa identitas yang ditemukan terdampar di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Sabtu lalu (12/9/2026), akhirnya membuka tabir misteri hilangnya kapal cepat KM Arupadhatu 1.

Setelah melalui proses identifikasi ilmiah yang penuh liku, jenazah tersebut dipastikan merupakan Surakman (60 tahun), Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua kru lainnya di perairan Selat Sunda sejak Senin (7/9/2026).

Kepastian identitas Surakman diperoleh melalui pencocokan DNA yang dilakukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri.

Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki, mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium Bidang Laboratorium DNA Rotek Dokkes Polri pada 21 September 2026 menyatakan sampel DNA jenazah identik dengan Surakman.

“Jenazah Mr X teridentifikasi sebagai Surakman,” kata Hengki dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Rabu (23/9/2026).

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

Proses identifikasi jenazah Surakman tidak berjalan mulus. Kapolda Banten mengakui bahwa tim menghadapi kendala signifikan karena kondisi fisik jenazah yang sudah mengalami kerusakan akibat terlalu lama berada di dalam air.

Jenazah Surakman pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan yang hendak melaut sekitar pukul 17.30 WIB.

Saat ditemukan, jasad korban dalam posisi terlentang dan hanya mengenakan celana pendek hitam, dengan tinggi sekitar 163 sentimeter.

Karena tidak ada warga yang mengenali korban sebagai anggota keluarganya, jenazah tersebut sempat dimakamkan pada malam yang sama.

Setelah proses identifikasi DNA membuahkan hasil, jenazah kemudian digali kembali dari makamnya.

Kepala Bidang Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, menyampaikan bahwa jenazah ditemukan bertepatan dengan hari kelima operasi pencarian delapan korban hilang Arupadhatu 1.

“Jenazah ditemukan di Pulau Enggano, pada Sabtu 12 September lalu. Hari itu bertepatan dengan hari kelima saat pencarian seluruh korban dilakukan,” katanya.

Operasi Pencarian Tidak Dibuka Kembali

Teridentifikasinya jenazah Surakman sebagai ABK KM Arupadhatu 1 ternyata tidak serta-merta membuat Basarnas membuka kembali operasi pencarian terhadap tujuh korban lainnya yang masih hilang.

Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menegaskan bahwa pihaknya belum berencana membuka kembali operasi gabungan.

“Masalah pencarian ulang dan tidak, seperti yang kami sampaikan tadi. Secara aturan pencarian terlaksana selama 7 hari dan sudah diperpanjang 3 hari,” ujar Amrad.

Menurutnya, jenazah di Pulau Enggano ditemukan pada hari kelima operasi SAR, dan setelah itu tidak ditemukan lagi objek lain dalam operasi SAR gabungan hingga masa pencarian berakhir pada 17 September 2026.

“Selama masa perpanjangan tiga hari tersebut, tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda korban lain,” ujarnnya.

Amrad menjelaskan, operasi pencarian gabungan dihentikan karena tim SAR menilai pencarian sudah tidak efektif setelah berlangsung selama 10 hari.

Meski demikian, ia memastikan pihaknya akan terus memantau objek-objek yang berada di perairan Selat Sunda melalui aktivitas kapal yang melintas.

Operasi SAR melibatkan 523 personel gabungan yang melakukan penyisiran ke pulau-perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, dengan luasan area pencarian mencapai lebih dari 16.000 nautical mile.

Meskipun operasi pencarian resmi telah ditutup, Basarnas tetap melakukan koordinasi lintas wilayah dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung, termasuk melibatkan kelompok nelayan lokal di sekitar perairan yang menjadi lokasi penemuan jasad korban.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690