“Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” kata Al Amrad.
Sosok Surakman, Tulang Punggung Keluarga
Di balik identitasnya sebagai ABK, Surakman dikenal sebagai sosok tulang punggung keluarga. Ia selama ini membantu dan merawat sang kakak yang mengalami tuna netra sejak usia 4 tahun.
Surakman juga dikenal sebagai pekerja yang berpengalaman dan telah lama menjadi ABK speedboat.
Surakman dikenal sudah hidup di wilayah laut sejak kecil. Ia menjadi nelayan sejak duduk di bangku SD.

Sebagai kru kapal Arupadhatu 1, Surakman juga telah ratusan kali berlayar menuju Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon.
Penemuan jenazah Surakman menjadi titik terang pertama dalam tragedi hilangnya KM Arupadhatu 1. Namun, tujuh orang lainnya yang terdiri dari lima jurnalis dan dua kru kapal masih belum ditemukan.
Kronologi Hilangnya Arupadhatu 1
KM Arupadhatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026. Kapal cepat tersebut membawa lima jurnalis yang hendak meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, ditambah tiga kru kapal.
Lima jurnalis yang berada di kapal tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas (Antara), Arie Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas). Adapun tiga kru kapal terdiri dari Warta selaku kapten kapal, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu perjalanan.
Sekitar pukul 14.30 WIB, kapal dilaporkan hilang kontak dengan pihak darat. Hingga saat ini, keberadaan fisik kapal Arupadhatu 1 belum pernah ditemukan.
Polda Banten pun belum bisa memastikan kondisi kapal, apakah tenggelam, terbakar, atau mengalami nasib lain.
“Kapal itu tenggelam, terbakar, hilang dan sebagainya saya tidak menjawab itu, yang pasti sampai dengan sekarang kapalnya tidak ditemukan,” kata Kapolda Banten. (edt/*)



