RATUSAN guru dari 104 SMP negeri dan swasta se-Kota Padang mengikuti bimbingan teknis pengembangan konten digital pendidikan di Youth Center, 26-29 Oktober 2026. Para guru digembleng menguasai pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI hingga pembuatan video pembelajaran interaktif. Tujuannya untuk membekali guru agar mampu melaksanakan pembelajaran berbasis digital.
Metode pengajaran monoton dengan ceramah di ruang kelas memang sudah saatnya ditinggalkan. Anak-anak sekarang hidup di era digital. Mereka akrab dengan gawai, media sosial, dan aplikasi. Cara belajar mereka berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika guru tetap mengajar dengan cara lama, siswa akan bosan. Karena itu, pelatihan seperti ini adalah kebutuhan.
Tapi, pelatihan seperti ini sering kali hanya jadi acara seremonial. Tidak ada tindak lanjut, evaluasi, dan pendampingan. Akhirnya, ilmu yang didapat menguap begitu saja. Guru kembali mengajar dengan cara lama. Siswa kembali bosan.
Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Padang harus memastikan pelatihan ini berkelanjutan. Harus ada pendampingan, evaluasi berkala, dan target yang jelas. Misalnya, setiap guru yang mengikuti pelatihan wajib mempraktikkan minimal satu pembelajaran berbasis digital dalam sebulan. Hasilnya dievaluasi. Jika berhasil, diberi penghargaan. Jika tidak, diberi pembinaan.
Selain itu, infrastruktur digital di sekolah harus diperiksa. Jangan sampai guru sudah dilatih AI tetapi di sekolah tidak ada internet. Guru sudah pandai membuat video pembelajaran, tetapi tidak ada proyektor. Guru sudah menguasai platform digital, tetapi lab komputer rusak.
Pelatihan tanpa dukungan sarana prasarana hanya akan membuat batin guru tertekan. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak bisa menerapkannya.
Yang juga tidak kalah penting adalah pengawasan penggunaan AI. AI bisa menjadi alat bantu yang hebat. Tapi bisa juga menjadi jalan pintas untuk curang. Guru harus mengajarkan siswa menggunakan AI secara bijak. Bukan sekadar menyalin jawaban. AI harus diposisikan sebagai alat pendukung berpikir, bukan pengganti nalar.
Guru juga harus mendorong siswa untuk berdiskusi, bertanya, dan berargumen. Kreativitas dan karakter tetap menjadi prioritas. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang malas berpikir karena semua sudah disediakan mesin.
Pada akhirnya, tujuan utama pelatihan ini adalah membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Anak-anak harus senang belajar. Mereka harus merasa bahwa sekolah adalah tempat yang menarik. Guru adalah kunci. Jika guru kreatif, siswa akan bersemangat. Jika guru inovatif, siswa akan berkembang.
Mari jadikan pelatihan ini sebagai titik balik dan gerakan nyata untuk memajukan pendidikan. Buktikan bahwa guru siap menghadapi era digital dan siap bersaing di panggung dunia. Sebab, masa depan generasi penerus bangsa ada di tangan mereka. *
