Beranda / Kanal / Hikmah / Uwais Al-Qarni, Kisah tentang Bakti kepada Ibu yang Mengalahkan Segala Keinginan

Uwais Al-Qarni, Kisah tentang Bakti kepada Ibu yang Mengalahkan Segala Keinginan

Redaksi
A+A-
Reset
Ilustrasi - Kisah-kisah Islami

Sumbarpro

DI sebuah desa kecil bernama Qarn di Yaman, hiduplah seorang pemuda biasa bernama Uwais Al-Qarni. Ia bukan bangsawan, bukan pemimpin, bahkan bukan sahabat Nabi yang dikenal banyak orang.

Ia hanya seorang penggembala kambing yang hidup bersama ibunya yang sudah tua, lumpuh, dan buta.

Ayahnya telah meninggal sejak ia kecil, sehingga seluruh tanggung jawab merawat sang ibu jatuh sepenuhnya di pundaknya.

Uwais memiliki cinta yang sangat besar kepada Rasulullah SAW, meskipun ia belum pernah bertemu beliau.

Ketika mendengar kabar bahwa Nabi terluka dalam Perang Uhud, hatinya terasa hancur. Ia bahkan memukul giginya sendiri sebagai bentuk empati yang mendalam, karena tidak bisa berada di medan tempur saat itu.

Suatu ketika, ia ingin sekali berangkat ke Madinah untuk bertemu Nabi, namun sang ibu mengizinkannya dengan satu syarat, ia harus segera pulang setelah bertemu.

Ketika Uwais tiba di rumah Nabi, yang menyambutnya adalah Aisyah RA. Rasulullah sedang berada di medan perang, dan Uwais pun memilih pulang demi menepati janji kepada ibunya.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690

Di sisi lain, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para sahabatnya tentang seorang lelaki dari Yaman yang akan datang.

Beliau menyebutkan bahwa lelaki itu bernama Uwais, sangat berbakti kepada ibunya, dan doanya mustajab. Nabi berpesan, jika mereka bertemu dengannya, hendaklah mereka memintanya berdoa untuk mereka. Hadis ini diriwayatkan dengan sahih oleh Imam Muslim.

Suatu hari, sang ibu menyampaikan keinginannya yang paling besar. Ia ingin menunaikan ibadah haji sebelum wafat. Permintaan itu menjadi ujian berat bagi Uwais yang hidup dalam kemiskinan.

Namun ia tidak menyerah. Ia membeli seekor anak lembu kecil dan setiap hari melatih tubuhnya dengan menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Latihan itu ia lakukan selama berbulan-bulan hingga tubuhnya kuat.

Ketika musim haji tiba, Uwais pun menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah. Perjalanan itu sangat panjang dan melelahkan, namun ia jalani dengan penuh cinta. Setibanya di Ka’bah, sang ibu menangis haru dan keduanya berdoa bersama.

“Ya Allah, ampunilah semua dosa ibuku,” kata Uwais.

Sang ibu keheranan dan bertanya, “Bagaimana dengan dosamu?”

Uwais menjawab bahwa ia hanya ingin memastikan ibunya diampuni terlebih dahulu.

Setelah peristiwa itu, Uwais kembali ke Yaman dan hidup dalam kesederhanaan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Umar bin Khattab RA menjadi khalifah, ia selalu menanyakan tentang Uwais kepada setiap delegasi yang datang dari Yaman.

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan Uwais dan memintanya berdoa untuknya, sebagaimana pesan Rasulullah SAW dahulu.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah Uwais Al-Qarni ini adalah kemuliaan seseorang tidak diukur dari popularitas atau harta.

Uwais tidak dikenal di bumi, namun namanya disebut dan dipuji langsung oleh Rasulullah SAW. Sebuah kehormatan yang tidak dimiliki banyak orang.

Yang membuatnya istimewa adalah baktinya kepada ibunya, sebuah pengabdian yang ia lakukan tanpa keluh-kesah.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa doa seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.

Semoga kita semua dapat meneladani ketulusan Uwais Al-Qarni dalam berbakti kepada orang tua, dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa mendahulukan ridha orang tua di atas keinginan pribadi. Wallahua’lam. *

Sumber rujukan: Shahih Muslim, riwayat dari Umar bin Khattab RA tentang Uwais Al-Qarni, serta riwayat-riwayat sahih lainnya tentang bakti Uwais kepada ibunya.

Pasang iklan Anda di space ini, hubungi SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini di WhatsApp 081275690690