“Pergantian Kapolri adalah sebuah kewajaran untuk sebuah organisasi sebesar Polri,” katanya.
Namun, ia juga menyoroti prosesnya yang dinilai tidak didahului uji publik.
“Ini memang menjadi kejutan karena sebelumnya-sebelumnya di pemilihan Kapolri pasti ada semacam uji publik atau tahapan yang terbuka,” ujarnya.
Tantangan yang Menanti
Suyudi Ario Seto mewarisi sejumlah pekerjaan rumah besar. Bambang Rukminto menilai PR terbesar Polri saat ini adalah penegakan hukum yang masih tebang pilih dan rawan konflik kepentingan.
“PR paling besar di Polri saat ini terkait dengan penegakan hukum yang masih tebang pilih dan rawan konflik kepentingan,” kata Bambang.
Selain itu, reformasi kultural di tubuh Polri yang belum tuntas juga menjadi tantangan. Perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), turut mengubah cara masyarakat memperoleh dan menilai informasi.
“Kapolri berikutnya memiliki tantangan sangat besar bagi organisasi, selain reformasi kultural yang belum tuntas juga percepatan perkembangan teknologi terutama AI,” ujar Bambang.

Organisasi masyarakat sipil juga menuntut Suyudi menuntaskan reformasi. MUDA menilai institusi kepolisian masih dihadapkan pada kultur kekerasan, mafia hukum, dan dugaan politisasi aparat.
Apa yang Diharapkan?
Suyudi Ario Seto kini memegang tongkat komando Polri. Ia berjanji akan membawa Polri lebih dekat kepada masyarakat, dengan mengedepankan pelayanan publik dan penegakan hukum yang adil.
“Kami berupaya untuk bisa lebih dekat kepada masyarakat sesuai dengan apa yang menjadi program kerja kami: Polisi Bersama Masyarakat,” tuturnya.
Namun, janji-janji di atas podium harus dibuktikan di lapangan. Publik akan menilai bukan dari slogan, melainkan dari tindakan.
Apakah Suyudi mampu menjawab sembilan kegelisahan utama rakyat terhadap polisi?
Apakah ia berani membenahi hukum yang tebang pilih?
Apakah ia akan menjaga Polri dari politik praktis?
Waktu yang akan menjawab. Dan bagi Suyudi, tidak ada masa tenggang. Kritik sudah menanti sejak hari pertama ia dilantik. (ak/*)
