AI di Ruang Kelas, Antara Pintar dan Malas

Oleh: Embun Maghfiroh (Mahasiswi Ilmu Komunikasi)

Redaksi
A+A-
Reset

KECERDASAN artifisial (artifical intelligence/AI) sudah lama bukan barang asing di layar ponsel pelajar Indonesia. Dari merangkum bacaan sampai menyusun draf esai, teknologi ini menjelma jadi teman belajar yang tak pernah mengeluh.

Kemudahan itu nyata, dan angkanya pun bicara. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2026 mencatat 18,2 persen pengguna internet di Tanah Air sudah memanfaatkan AI, dengan Gen Z sebagai kelompok paling aktif.

Di kalangan pelajar, angkanya jauh lebih tinggi. Sebuah forum pendidikan pada Mei 2026 menyebut penggunaan AI di kalangan pelajar Indonesia telah mencapai 95 persen.

Data Programme for International Student Assessment atau PISA 2025 bahkan menunjukkan 53 persen siswa Indonesia memakai chatbot AI untuk belajar setidaknya sekali dalam sepekan, sedikit di atas rata-rata negara OECD yang sebesar 46 persen.

Angka-angka itu bukan kabar buruk. AI memang memberi kemudahan yang sulit ditolak. Sebuah studi kuasi-eksperimen di SMA Xaverius Bandar Lampung terhadap 120 siswa kelas XI menemukan bahwa pemanfaatan AI dalam pembelajaran meningkatkan capaian akademik hingga 35 persen, efisiensi pengerjaan tugas rumah 28 persen, keterlibatan siswa 42 persen, dan kemandirian belajar 50 persen.

Guru pun ikut merasakan manfaatnya. Penelitian terhadap asisten guru berbasis AI di sekolah negeri Lumajang mencatat penghematan dua hingga empat jam per pekan untuk tugas perencanaan dan penilaian.

AI bukan sekadar mainan baru. Teknologi ini benar-benar bisa membantu ruang kelas yang selama ini kekurangan waktu dan tenaga.
Namun di balik semua kemudahan itu, ada bayangan yang perlu diwaspadai.

PISA 2025 mencatat bahwa 39 persen pelajar Indonesia memakai chatbot untuk merangkum teks, 32 persen untuk riset awal, dan 30 persen untuk membuat draf tugas menulis. Hanya 7 persen siswa yang mengaku hampir tidak pernah memakai AI untuk belajar, lebih rendah dari rata-rata OECD yang 13 persen.

Semakin sering AI dipakai tanpa arah, semakin besar pula risiko ketergantungan. Forum pendidikan pada Mei 2026 menyoroti fenomena cognitive offloading, yaitu menurunnya kemampuan berpikir kritis karena siswa terbiasa menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin. Sebagian siswa bahkan mengaku kesulitan belajar mandiri tanpa bantuan teknologi.

Risiko lain yang tak kalah serius adalah plagiarisme. Penelitian di lingkungan perguruan tinggi menemukan bahwa penyalahgunaan AI muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari plagiarisme berbasis AI hingga ketergantungan akademik pada teknologi otomatis.

Jasa joki tugas berbasis AI pun marak, dan fenomena ini dikhawatirkan mengikis orisinalitas ide serta keadilan bagi siswa yang mengerjakan tugas dengan jujur. Pada siswa sekolah dasar, persoalannya bahkan lebih rumit karena mereka belum punya kematangan kognitif untuk membedakan antara bantuan belajar dan plagiarisme.

Pemerintah tidak tinggal diam. Pada 12 Maret 2026, Indonesia resmi menetapkan Surat Keputusan Bersama tujuh menteri tentang pedoman pemanfaatan teknologi digital dan AI di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. SKB ini mengatur peran lintas kementerian dalam tiga ranah yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri, yaitu pendidikan, perlindungan anak, dan tata kelola ekosistem digital.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mendukung kebijakan yang membatasi penggunaan AI instan bagi pelajar SD hingga SMA sebagai langkah antisipatif untuk melindungi proses belajar anak. Regulasi ini menegaskan satu hal penting. AI boleh jadi alat bantu, tetapi AI tidak boleh menggantikan proses berpikir yang justru menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.

Yang dibutuhkan sekarang bukan pelarangan total, melainkan pendampingan yang serius. Guru perlu dibekali kemampuan merancang tugas yang membuat AI menjadi alat bantu, bukan jalan pintas.

Orang tua perlu memahami bahwa kehadiran AI di rumah bukan sekadar soal gawai, tetapi soal kebiasaan belajar anak. Dan pelajar sendiri perlu diajak melihat bahwa bertanya kepada AI bukanlah tujuan akhir. Bertanya kepada AI adalah langkah awal untuk kemudian berpikir, menimbang, dan menyimpulkan sendiri.

AI sudah menjadi bagian dari keseharian pelajar Indonesia. Angka 95 persen bukan lagi ramalan, melainkan kenyataan yang sudah terjadi. Tugas bersama sekarang adalah memastikan bahwa angka itu tidak berubah menjadi angka ketergantungan yang membuat generasi muda kehilangan kemampuan berpikir kritisnya.

AI seharusnya membuat pelajar lebih pintar, bukan membuat pelajar lebih malas. *

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690