KABAR baik datang dari Dinas Pariwisata Kota Padang. Kualitas sanitasi dan kebersihan toilet di rumah makan serta restoran mulai dibenahi secara menyeluruh. Pembenahan ini untuk mendongkrak kenyamanan pelancong sekaligus memperkuat citra Padang sebagai kota tujuan wisata yang higienis.
Langkah ini patut diapresiasi. Toilet bersih memang sering dianggap sepele, padahal perannya sangat vital di sektor pariwisata.
Panitia akan mendata 1.554 titik toilet. Penilaian lapangan berlangsung 25 hari, dari 5 hingga 30 November, melibatkan 60 petugas dari kalangan mahasiswa. Ada sepuluh indikator kebersihan yang diuji sebelum pemenang diumumkan pertengahan Desember.
Makna kegiatan ini jelas. Padang sedang berjuang menjadi bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO di bidang gastronomi. Wali Kota Padang, Fadly Amran menegaskan bahwa kebersihan dapur dan toilet termasuk syarat yang harus dipenuhi.
Setiap tamu yang datang harus mendapat pengalaman kuliner yang nyaman dan bersih. Jika toilet kotor, citra itu bisa hancur. Penghargaan ini adalah cara cerdas untuk memacu pengelola rumah makan dan restoran agar serius menjaga sanitasi. Kita dukung sepenuhnya.
Namun, ada satu hal yang agak mengganggu. Namanya. ‘Toilet Award 2026’. Sebuah penghargaan bergengsi, tetapi dikemas dengan kata yang terasa kurang pantas. Toilet adalah fasilitas yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia.
Kata itu memang lazim dipakai sehari-hari. Tetapi ketika diangkat menjadi nama sebuah acara resmi, apalagi penghargaan tingkat kota, rasanya ada yang janggal. Bagi sebagian orang, kata toilet bisa memicu senyum atau bahkan lelucon. Ini bukan soal lebay. Ini soal citra. Penghargaan yang seharusnya mulia bisa kehilangan wibawa karena namanya dianggap kurang serius.
Kita perlu belajar dari pengalaman. Di Banda Aceh, seorang pejabat pernah ragu menggelar acara serupa karena takut menjadi bahan lelucon publik. Keraguan itu wajar. Kata toilet sering diasosiasikan dengan hal yang kotor dan lucu. Padahal yang ingin dicapai justru sebaliknya, yaitu kebersihan dan kenyamanan. Jadi, mengapa harus memakai kata yang justru melemahkan pesan itu?
Kita bisa mencari nama dan istilah yang lebih elegan. Misalnya, ‘Anugerah Sanitasi Bersih’, ‘Penghargaan Toilet Prima’, atau ‘Anugerah Toilet Bersih’. Istilah itu lebih halus daripada sekadar ‘Toilet Award’.
Atau jika ingin menggunakan tren istilah asing, bisa ‘The Sanitation Excellence Award’, atau ‘The Pristine Restroom Award’. Banyak lagi istilah lain yang bisa dicari dan lebih soft-spoken daripada ‘Toilet Award’.
Nama yang baik akan membuat acara ini terasa lebih bermartabat, tidak akan jadi bahan tertawaan atau lelocun diam-diam.
Tentu, nama hanyalah kulit. Isi tetap yang utama. Kita tetap mengapresiasi inisiatif Dinas Pariwisata Kota Padang. Menilai 1.554 toilet, melibatkan mahasiswa, dan menguji sepuluh indikator kebersihan bukan pekerjaan kecil. Ini adalah investasi jangka panjang untuk pariwisata Padang.
Jika berhasil, bukan hanya penghargaan yang didapat. Wisatawan akan datang lagi. Mereka akan bercerita tentang kota yang bersih. Mereka akan merekomendasikan Padang kepada teman dan keluarga. Ekonomi lokal ikut bergerak. Reputasi sebagai kota gastronomi dunia semakin kokoh.
Karena itu, mari kawal acara ini sampai tuntas. Pastikan penilaian berjalan jujur dan transparan. Jangan ada permainan. Jangan ada suap dan titipan pemenang. Penghargaan yang diraih dengan cara curang hanya akan merusak tujuan mulia.
Sebaliknya, jika penilaian dilakukan dengan benar, penghargaan ini akan menjadi motivasi nyata. Pengelola rumah makan akan berlomba-lomba menjaga kebersihan. Toilet di Padang akan menjadi yang terbaik di Sumatera Barat dan mungkin juga di Indonesia.
Kepada panitia, pertimbangkanlah nama yang lebih pantas. Sesuatu yang hebat layak mendapat nama yang hebat. Bukan nama yang membuat orang tersenyum geli. Mari jadikan penghargaan ini sebagai kebanggaan Padang. *
