Banjir Kembali Datang, Jangan Biarkan Warga Hidup dalam Ketakutan

Redaksi
A+A-
Reset
Editorial Media Online Sumbarpro

Sumbarpro

HUJAN deras yang mengguyur Kota Padang pada Sabtu (10/10) kembali memicu banjir bandang. Sedikitnya 672 jiwa terdampak dan 120 rumah terendam di tiga kecamatan. Sejumlah tanggul yang baru diperbaiki pascabencana November 2025 kembali jebol.

Banjir mulai terjadi sekitar pukul 12.52 WIB setelah hujan lebat membuat debit sungai meningkat. Tiga kecamatan yang terdampak adalah Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Enam kelurahan terendam. Kecamatan Kuranji mencatat jumlah warga terdampak paling banyak, yakni 245 jiwa.

Sebanyak 60 rumah terendam, terutama di sekitar Guo dan Lapau Munggu. Di Koto Tangah, 208 jiwa terdampak. Sementara di Nanggalo, 45 jiwa terdampak.

Tiga lokasi yang paling parah adalah Lapau Munggu di Kuranji, Lumin Park, dan Kampung Apa di Koto Tangah. Ketinggian air mencapai 1 meter. Banyak warga terjebak. Tim SAR gabungan mengevakuasi mereka menggunakan perahu karet dan tali-temali.

Sebelas orang terjebak di satu titik. Tujuh di antaranya anak-anak dan balita. Mereka menyelamatkan diri ke atap rumah sembari menunggu pertolongan. Seorang warga bertahan di atap selama lebih dari dua jam. Ia mengatakan tahun lalu air tidak sederas dan setinggi ini. Rasanya sangat menakutkan.

Yang membuat miris, ini bukan banjir pertama. Sejak November 2025, kawasan Lapau Munggu telah empat kali dilanda banjir bandang. Hujan sebentar saja sudah membuat warga takut. Mereka trauma. Setiap kali hujan turun, mereka waswas.

Apakah air akan naik lagi? Apakah rumah akan terendam lagi? Apakah mereka harus mengungsi lagi? Hidup dalam ketakutan seperti ini sungguh tidak adil.

Pasang iklan anda di space ini, hubungi sumbarpro media online portal berita dan informasi terkini di whatsapp 081275690690

Pemerintah sudah melakukan perbaikan pascabencana tahun lalu. Tanggul dibangun. Sungai dinormalisasi. Tapi apa hasilnya? Tanggul yang baru diperbaiki kembali jebol. Sungai masih dangkal akibat sedimentasi.

Kita tidak bisa terus-menerus begini. Setiap tahun banjir datang. Setiap tahun warga menderita. Setiap tahun pemerintah sibuk menangani darurat. Tapi akar masalahnya tidak pernah selesai.

Sedimentasi sungai harus dibersihkan secara rutin. Tanggul harus dibangun dengan kualitas terbaik. Drainase harus berfungsi. Tata ruang harus ditertibkan. Jangan biarkan pembangunan di kawasan resapan terus terjadi. Jangan biarkan alih fungsi lahan merusak lingkungan.

Pemerintah pusat dan daerah harus duduk bersama. Cari solusi jangka panjang. Libatkan ahli hidrologi, geologi, dan tata kota. Libatkan masyarakat. Dengarkan keluhan mereka.

Jangan hanya turun saat banjir datang. Datanglah sebelum banjir. Periksa tanggul. Bersihkan sungai. Perbaiki drainase. Siapkan jalur evakuasi. Pastikan sistem peringatan dini berfungsi. Latih warga menghadapi situasi darurat.

Bantuan darurat memang penting. Evakuasi, posko, dapur umum, air bersih, selimut, dan makanan harus segera disalurkan. Tapi jangan berhenti di situ. Setelah air surut, warga butuh tempat tinggal yang layak. Mereka butuh kepastian bahwa banjir tidak akan datang lagi. Mereka butuh masa depan yang aman. Negara hadir bukan hanya saat bencana. Negara hadir untuk mencegah bencana.

Kita berharap musibah ini menjadi yang terakhir. Tapi harapan saja tidak cukup. Butuh tindakan nyata. Butuh tanggung jawab. Butuh keberpihakan pada rakyat kecil. Jangan biarkan mereka terus menjadi korban. Jangan biarkan mereka hidup dalam ketakutan. Banjir bisa dicegah. Asalkan ada kemauan politik dan kerja keras. *

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690