Hingga saat ini, sumber pasti kontaminasi kedua bakteri tersebut belum dapat dipastikan. Rudy menduga ada beberapa kemungkinan yang tengah ditelusuri.
“Bisa dari wadahnya, bisa dari proses penyimpanannya,” kata Rudy.
Dugaan mengarah pada proses penanganan makanan yang tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP). Sebelumnya, sejumlah siswa melaporkan bahwa ayam yang disajikan sudah berwarna hitam dan mulai berbau.
Dari enam sampel yang diuji, hanya nasi putih dan ayam tepung yang dinyatakan tidak memenuhi syarat. Empat komponen lainnya dinyatakan aman atau memenuhi standar, yaitu tahu, saus blackpepper (lada hitam), sayur buncis dan jagung, serta semangka kuning.
Dalam kasus ini, jumlah korban tercatat sebanyak 127 orang berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Kota Pariaman. Sejumlah korban sempat mengalami kondisi yang cukup serius. Tiga siswa terpaksa dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang karena mengalami penurunan tekanan darah dan denyut nadi yang melemah.

Menindaklanjuti temuan BBPOM, Pemerintah Kota Pariaman resmi menutup sementara operasional SPPG Pasir Pauh sesuai aturan Badan Gizi Nasional (BGN). Penutupan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada risiko lanjutan bagi penerima manfaat lainnya.
Dinas Kesehatan Kota Pariaman juga akan meninjau kembali Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang dimiliki SPPG Pasir Pauh. Evaluasi mencakup aspek kebersihan dapur, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan.
“Kami akan tinjau SLHS-nya kembali. Dan SPPG Pasir sementara ditutup dan akan dievaluasi,” tegas Rudy.
Selain itu, Pemko Pariaman juga melakukan evaluasi terhadap seluruh SPPG yang beroperasi di wilayahnya untuk memastikan tidak ada dapur lain yang mengalami masalah serupa. (edt/*)



