Sumbarpro — Drama mendebarkan dan magis sepak bola kembali tersaji di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, pada Rabu dinihari WIB (8/7/2026).
Sang juara bertahan, Argentina, nyaris saja mengepak koper pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah dibuat frustrasi dan tertinggal dua gol oleh tim kejutan, Mesir.
Namun, mentalitas juara dan sentuhan magis Lionel Messi di babak kedua berhasil memicu kebangkitan luar biasa guna mengunci kemenangan dramatis 3-2 untuk menyegel tiket perempat final.
Air mata yang menetes di pipi Messi di akhir laga merupakan luapan keharuan terdalam. Di usianya yang telah menginjak 39 tahun dan menobatkan turnamen ini sebagai panggung terakhirnya, ia nyaris melihat mimpi mempertahankan trofi emas runtuh berantakan akibat kegagalan penaltinya sendiri di paruh pertama.
Babak Pertama: Shobeir Jinakkan Penalti Messi
Mesir yang baru pertama kali dalam sejarah lolos ke fase gugur Piala Dunia setelah mendepak Australia lewat drama adu penalti, langsung membuat publik Atlanta terperangah.
Laga baru berjalan 15 menit ketika bek Yasser Ibrahim melompat tinggi untuk menyundul umpan silang Marwan Attia, menaklukkan Emiliano Martinez, dan membawa Mesir unggul 1-0.
Argentina sebenarnya berkesempatan cepat menyamakan kedudukan pada menit ke-21 setelah Nicolas Tagliafico dilanggar di area terlarang.
Namun, Mostafa Shobeir tampil bak pahlawan. Kiper Mesir berusia 24 tahun itu dengan jeli membaca arah bola dan menepis eksekusi penalti Lionel Messi.
Ketangguhan Shobeir di bawah mistar gawang sempat membuat frustrasi lini depan Albiceleste. Sundulan terarah Alexis Mac Allister dan sepakan keras Julian Alvarez semuanya berhasil mentah di tangan Shobeir.
Skor 0-1 bertahan hingga turun minum, menandai pertama kalinya Argentina tertinggal di babak pertama laga Piala Dunia sejak memori kelam kontra Jerman di perempat final edisi 2010.
Babak Kedua: Kejutan Zico Mengguncang Juara Bertahan
Memasuki paruh kedua, kepanikan sempat melanda kubu Argentina. Pada menit ke-58, Mostafa Zico sempat menggetarkan jala gawang Martinez, namun gol tersebut dianulir wasit setelah tinjauan VAR mendeteksi adanya pelanggaran dalam proses serangan.
Meski gol pertamanya dibatalkan, Mesir menolak mengendurkan intensitas. Di menit ke-67, sebuah skema serangan balik cepat yang diinisiasi oleh Haissem Hassan diselesaikan secara dingin oleh Zico melalui sepakan terukur di dalam kotak penalti.
Papan skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan Mesir. Stadion seketika sunyi, dan mimpi laga perpisahan Messi berada di ambang kehancuran.
13 Menit Ajaib: Kembalinya ‘Sang Magician’
Ketika asa Argentina tampak mulai habis, magis Lionel Messi justru menyala. Pada menit 79 Messi mengirimkan umpan silang akurat yang disambut dengan tandukan tajam oleh Cristian Romero. Skor berubah 1-2.
Hanya berselang empat menit, kemelut hebat di depan gawang Mesir disambar Messi lewat tendangan voli keras yang menghujam gawang Shobeir.
Skor imbang 2-2!
Gol tersebut sekaligus menobatkan Messi sebagai pemain pertama dalam sejarah yang sukses mencetak gol dalam enam pertandingan babak gugur (knockout) Piala Dunia secara berturut-turut.
Ketika pertandingan tampaknya akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu, petaka bagi Mesir lahir di masa injury time.
Pada menit ke-90+2, sebuah transisi serangan balik kilat Argentina diakhiri dengan umpan silang Lautaro Martinez yang sukses ditanduk dengan sempurna oleh Enzo Fernandez.
Argentina berbalik unggul 3-2!
Skor tersebut bertahan hingga peluit panjang ditiup wasit.
Tiga tembakan tepat sasaran terakhir Argentina di penghujung laga secara kejam meruntuhkan performa legendaris kiper Mostafa Shobeir yang tampil luar biasa sejak menit awal.
Mantan kapten Republik Irlandia, Roy Keane, menyimpulkan akhir dari drama ini dengan emosional.
Ia menyebut bahwa setelah melihat air mata kesedihan Cristiano Ronaldo karena Portugal tersingkir kemarin malam, dunia kini disuguhkan pemandangan air mata bahagia dari seorang Lionel Messi.
Keduanya membuktikan dedikasi luar biasa yang membuat publik terus mencintai keindahan drama demi drama yang tercipta di lapangan hijau.
Di babak perempat final, Argentina kini tinggal menunggu pemenang dari laga antara Swiss melawan Kolombia untuk menjadi lawan berikutnya. (ak)

















