Sumbarpro – Tekanan terhadap daya beli masyarakat tidak lagi soal barang sekunder, tapi sudah merambat ke dapur rumah tangga, menggerus saldo rekening, dan memaksa sebagian orang memilih antara menghabiskan simpanan atau berutang untuk sekadar bertahan hidup.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan, masih dalam kisaran target pemerintah dan Bank Indonesia.
Namun, angka itu tidak menangkap beban yang dirasakan banyak keluarga. Inflasi pangan bergejolak pada September 2026 mencapai 5,03 persen secara tahunan, dipicu kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.
Persoalannya bukan semata harga yang naik, melainkan pendapatan yang tidak ikut naik. Rata-rata upah buruh pada Mei 2026 tercatat Rp3,39 juta per bulan, naik dari Rp3,29 juta pada Februari 2026.
Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut kenaikan nominal itu belum berarti apa-apa karena upah riil cenderung stagnan.
“Walaupun secara nominal terus meningkat, walaupun lambat meningkatnya, tingkat upah riilnya ini stagnan, bahkan dalam beberapa waktu itu mengalami penurunan,” kata Faisal, dikutip dari beritasatu.com.
Ketika pendapatan tidak bertambah, sementara kebutuhan pokok terus naik, tabungan menjadi pos pertama yang dikorbankan.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 mencatat porsi pendapatan yang dipakai untuk konsumsi naik dari 72,7 persen menjadi 74,2 persen dalam satu bulan.
Artinya, dari setiap Rp1 juta yang diterima, sekitar Rp742 ribu habis untuk belanja sehari-hari. Hanya sekitar Rp158 ribu yang tersisa untuk ditabung.
Angka itu mempertegas tren yang oleh sebagian ekonom disebut sebagai fenomena ‘mantab’, singkatan dari makan tabungan.
Data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menunjukkan rata-rata saldo rekening kelompok masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta menyusut dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026. Dalam delapan tahun, nilainya turun sekitar 45 persen.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai fenomena makan tabungan sudah bergeser ke tahap berikutnya dalam satu dua tahun terakhir.
Mereka yang tabungannya habis tidak berhenti berbelanja. Mereka beralih ke utang.
“Masyarakat terus menghabiskan tabungan. Bagi masyarakat yang sudah tidak mempunyai tabungan, tentu mereka berutang,” kata Nailul, melansir pemberitaan kompas.com.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung gambaran itu. Total utang pinjaman online dan paylater masyarakat mencapai Rp150,8 triliun per Juli 2026, terdiri dari paylater perbankan sebesar Rp31,56 triliun dan sisanya dari pinjol serta pembiayaan lainnya.
Jumlah rekening ‘beli sekarang bayar nanti’ atau buy now pay later (BNPL) tercatat 33,57 juta. Penyaluran paylater oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 36,57 persen secara tahunan pada Agustus 2026.
Pilihan berutang lewat pinjol dan paylater memang terasa mudah. Namun, risikonya tidak kecil. Tingkat wanprestasi 90 hari pinjaman daring tercatat 4,32 persen pada periode yang sama, naik dari bulan sebelumnya.
Perencana keuangan independen Andy Nugroho mengingatkan masyarakat rawan terjerat skema gali lubang tutup lubang.
“Untuk memenuhi kebutuhannya ia berutang ke pihak A. Lalu untuk membayar utang ke pihak A maka ia berutang ke pihak B. Demikian terus seperti itu,” ujarnya.
Di tengah himpitan itu, sebagian masyarakat memilih menurunkan standar hidup secara sadar. Fenomena yang ramai disebut ‘downgrade lifestyle’ ini terlihat dari perubahan pola belanja.
