KATHMANDU, Sumbarpro — Enam hari telah berlalu sejak dinding air, lumpur, es, dan batu menyapu kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026) pagi.
Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat itu terus bertambah, kini menembus angka 750 orang, sementara lebih dari 3.000 jiwa masih dinyatakan hilang.
Otoritas Penanggulangan Bencana Nepal pada Minggu (30/8/2026) melaporkan sedikitnya 734 orang meninggal dunia di Nepal, dengan 2.498 orang masih hilang.
Di sisi Tibet, China, media pemerintah mengonfirmasi 16 orang tewas dan 546 orang hilang.
Total gabungan mencapai 750 tewas dan 3.044 hilang. Angka ini diperkirakan masih akan berubah seiring pencarian yang terus berlangsung.

“Kami sudah lama tidak melihat bencana gunung seperti ini. Ini benar-benar besar dan kami masih berusaha mengatasi tingkat kerusakannya,” ujar Kamal Kishore, Kepala Kantor Pengurangan Risiko Bencana PBB, dalam konferensi pers.
Bencana ini terjadi tanpa didahului hujan deras, membuat warga dan petugas setempat sama-sama terkejut.
Sekitar pukul 08.40 waktu setempat, gelombang air raksasa tiba-tiba meluncur deras melalui Lembah Sungai Lhende Khola, menyapu desa-desa, menghancurkan jembatan, dan mengubur rumah-rumah di bawah timbunan lumpur.
Keshav Prasad Baral, pria berusia 68 tahun, menceritakan detik-detik bencana mengerikan itu.
Saat lumpur dalam jumlah sangat besar menerjang rumahnya, ia berusaha meraih tangan istrinya.
Namun istrinya “terseret arus”.
“Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia sudah tiada,” katanya dengan suara lirih.
Awalnya, pemerintah Nepal menduga gempa bumi berkekuatan 4,4 magnitudo di dekat perbatasan menjadi pemicu.
Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kemudian merevisi penilaian mereka.
Getaran yang terekam bukanlah gempa tektonik, melainkan dampak dari “runtuhnya gletser” (glacial collapse) yang kekuatannya setara dengan gempa magnitudo 5,2.
Citra satelit menunjukkan bahwa sebagian besar bagian bawah gletser di ketinggian sekitar 5.200 meter (17.000 kaki) runtuh dan meluncur turun sekitar 1.200 meter (3.900 kaki) ke dasar lembah, membawa serta batuan dan sedimen.
Longsoran es dan batu itu menghantam Sungai Lhende di Tibet, sekitar 20 kilometer di timur laut perlintasan perbatasan Nepal-China.
Material longsoran sempat menyumbat sungai dan membentuk bendungan alami.
Air terus menumpuk di belakangnya hingga bendungan itu akhirnya jebol, melepaskan gelombang dahsyat ke wilayah hilir.
Ketinggian air Sungai Trishuli dilaporkan naik hingga sembilan meter (27 kaki) hanya dalam waktu 30 menit.
“Banjir bandang tersebut bisa saja terjadi secara langsung akibat longsoran es dan batu yang dipicu oleh runtuhnya gletser,” jelas Basanta Raj Adhikari, pakar kajian bencana dari Universitas Tribhuvan di Nepal.
Perubahan Iklim di Balik Tragedi?
Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa meningkatnya suhu global mempercepat pencairan gletser dan lapisan tanah beku (permafrost) di kawasan Himalaya.
Nepal, yang hanya menyumbang 0,1 persen emisi global, justru menanggung dampak yang jauh lebih berat.
“Meski hanya menyumbang 0,1 persen dari emisi global, rakyat Nepal justru menjadi korban utama dari perubahan iklim,” tegas Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, seraya menyerukan respons global terhadap krisis iklim.
589 WNA Masih Hilang, Warga India Terbanyak
Di antara korban hilang, terdapat 589 warga negara asing.
Selain wisatawan, 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air juga masuk dalam daftar hilang.
India melaporkan 320 warganya masih hilang di Nepal, menjadikan warga India sebagai kelompok warga negara asing terbesar yang belum ditemukan.
Sebanyak 261 warga asing juga hilang di wilayah Tibet, termasuk 18 warga Amerika Serikat.
Turis dari sekitar 30 negara dilaporkan hilang, termasuk warga Kanada dan berbagai negara Eropa.
Hingga Minggu, tim penyelamat telah mengevakuasi 8.186 orang di Nepal, termasuk 227 warga negara asing.
Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi kendala berat. Lebih dari 40 jembatan hancur atau rusak parah, dan lebih dari 40 kilometer jalan hancur total.
Jaringan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak juga terganggu, membuat koordinasi bantuan semakin sulit.
Beberapa komunitas terisolasi hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter.
Cuaca buruk dan ancaman banjir susulan semakin mempersulit upaya pencarian.
Otoritas Nepal bahkan sempat mengimbau tim penyelamat untuk pindah ke lokasi aman setelah muncul informasi mengenai kemungkinan jebolnya bendungan di sisi Tibet.
Sejumlah jenazah korban dilaporkan terbawa arus deras hingga ke wilayah India.
Otoritas India telah menemukan tujuh jenazah dari sungai yang mengalir dari Nepal.
Sebelum dimakamkan, petugas medis mengambil sampel DNA dari setiap jenazah agar pihak keluarga kelak dapat mengidentifikasi anggota mereka dan menggelar ritual pemakaman tradisional.
93.000 Orang Terdampak, Ribuan Keluarga Kehilangan Rumah
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menggambarkan situasi sebagai “katastrofik”.
Sedikitnya 10.000 keluarga kehilangan rumah, dan sekitar 93.000 orang terkena dampaknya.
“Trauma dari peristiwa ini sangat besar,” ujar David Fisher, kepala delegasi IFRC untuk Nepal.
“Ribuan rumah hancur atau mengalami kerusakan parah,” tambahnya.
Badan anak-anak PBB, UNICEF, melaporkan sedikitnya 14 anak dipastikan tewas.
“Sedihnya, kita baru melihat awal dari tragedi ini,” kata juru bicara Ricardo Pires.
“Bagi mereka yang selamat, keadaan darurat ini masih jauh dari selesai. Anak-anak kini menghadapi peningkatan risiko penyakit, kekurangan gizi, kekerasan dan eksploitasi, serta dampak psikologis dari apa yang mereka alami”.
Menteri Keuangan Nepal, Swarnim Wagle, memperkirakan kerugian akibat banjir ini bisa mencapai miliaran dolar.
Nepal telah menyetujui masuknya tim pencarian dan penyelamatan internasional, mendapat tekanan besar dari komunitas global yang warganya juga menjadi korban.
Di tengah kepungan lumpur dan duka, operasi pencarian terus berlanjut.
Berlomba dengan waktu, cuaca, dan harapan yang masih tersisa bagi ribuan keluarga yang menanti kabar dari orang-orang tercinta. (ak/*)



