ADA warisan budaya yang selama puluhan tahun tumbuh dalam kesederhanaan, dikerjakan dengan ketekunan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, tidak semua warisan tersebut mendapatkan ruang yang layak untuk berkembang menjadi kekuatan ekonomi. Sulaman Kapalo Samek dari Pasia Baru, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, adalah salah satu karya budaya yang kini mulai membuktikan bahwa tradisi lokal memiliki potensi besar untuk berbicara di panggung dunia.
Di balik keindahan setiap helai benang dan kerumitan motifnya, terdapat kisah tentang perempuan, ketekunan, identitas, dan perjuangan mempertahankan tradisi. Sulaman Kapalo Samek bukan sekadar produk kerajinan. Ia merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Pasia Baru yang menyimpan nilai sejarah sekaligus potensi ekonomi bagi generasi mendatang.
Kini, perjalanan sulaman tersebut memasuki babak baru. Dari kampung perajin di Padang Pariaman, Sulaman Kapalo Samek mulai diperkenalkan ke Eropa, mendapatkan ruang promosi di Belanda, dan membuka peluang kemitraan produksi melalui ajang perdagangan internasional.
Perjalanan ini patut diapresiasi. Namun, lebih dari sekadar kebanggaan atas keberhasilan menembus pasar global, ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab bersama: sejauh mana keberhasilan ini mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin yang selama ini menjadi penjaga warisan budaya tersebut?
Nita Azis dan Peran Strategis Membuka Jalan bagi Perajin
Dalam perjalanan memperkenalkan Sulaman Kapalo Samek ke tingkat nasional dan internasional, peran Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, patut mendapat perhatian.
Membawa kerajinan lokal ke panggung internasional bukanlah pekerjaan yang cukup dilakukan dengan memamerkan produk. Dibutuhkan upaya membangun jejaring, mempertemukan perajin dengan mitra usaha, memperkenalkan nilai budaya kepada pasar yang lebih luas, serta menciptakan peluang agar produk tradisional mampu bersaing di tengah perkembangan industri kreatif modern.
Dalam konteks inilah peran Nita Azis menjadi penting.
Keterlibatannya membawa Sulaman Kapalo Samek ke berbagai kegiatan promosi, termasuk Indonesia Creative Week Belgium 2026 dan pertemuan promosi budaya di Den Haag, Belanda, menunjukkan adanya upaya memperluas ruang pengenalan produk unggulan Padang Pariaman.
Penyerahan karya Sulaman Kapalo Samek kepada Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag, Mariska Dwianti Dhanutirto, pada 6 Oktober 2026, menjadi salah satu langkah untuk memperkuat diplomasi budaya sekaligus membuka peluang promosi yang lebih berkelanjutan di Eropa.
Rencana penempatan karya tersebut di Indonesia House Amsterdam juga menjadi peluang penting untuk memperkenalkan identitas budaya Pasia Baru kepada masyarakat internasional.
Langkah seperti ini memiliki makna strategis. Produk kerajinan daerah tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke sentra produksi, tetapi mulai dibawa menuju ruang-ruang promosi yang memungkinkan pertemuan dengan pasar, pelaku industri kreatif, dan calon mitra bisnis.
Dalam pembangunan ekonomi kreatif daerah, kemampuan membuka akses merupakan modal penting. Sebab, banyak perajin memiliki keterampilan luar biasa, tetapi tidak selalu memiliki jaringan, sumber daya, dan kesempatan untuk memasarkan hasil karyanya secara luas.
Di sinilah kepemimpinan kelembagaan diuji: bukan hanya dalam menjaga eksistensi kerajinan, melainkan juga dalam membuka pintu yang sebelumnya sulit dijangkau oleh para perajin.
Dari Pasia Baru Menuju Pasar Global
Salah satu perkembangan yang menarik adalah keberhasilan Sulaman Kapalo Samek meraih Juara I Kategori Tekstil pada ajang KriyaNusa 2026 di Jakarta.
Prestasi tersebut memperkuat posisi Sulaman Kapalo Samek sebagai salah satu produk kriya unggulan Padang Pariaman. Pengakuan di tingkat nasional dapat menjadi modal untuk membangun kepercayaan pasar sekaligus meningkatkan daya tarik produk di mata calon mitra usaha.
Perjalanan itu kemudian berlanjut melalui Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Dalam kegiatan business matching dengan PT Miumosa Artha Mandiri, Sulaman Kapalo Samek memperoleh kesepakatan kontrak produksi senilai USD 22.000 atau sekitar Rp400 juta, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam publikasi kegiatan tersebut.
Kesepakatan ini membuka peluang pengembangan sulaman tradisional ke dalam produk fesyen kontemporer dengan merek Miumosa.
Artinya, Sulaman Kapalo Samek berpeluang memasuki ruang industri kreatif yang lebih luas. Karya yang sebelumnya dikenal sebagai kerajinan tradisional dapat dikembangkan menjadi bagian dari produk fesyen premium, seperti tas, sepatu, dan aksesori.
Inilah salah satu jalan agar warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
