Sulaman Kapalo Samek Pasia Baru: Ketika Warisan Budaya Menjadi Kekuatan Ekonomi dan Diplomasi Dunia

Oleh: Arfino Bijuangsa (Ketua Karang Taruna Kecamatan Sungai Geringging)

Redaksi
A+A-
Reset
Dokumentasi - Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Nita Christanti Azis, menyerahkan Sulaman Kapalo Samek karya perajin Pasia Baru, kepada Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Belgia di Kantor KBRI Brussels, Jumat (2/10/2026).

Setidaknya ada lima agenda yang perlu diperkuat. Pertama, membangun Kampung Sulam Kapalo Samek sebagai pusat produksi, edukasi, promosi, dan wisata budaya yang terintegrasi.

Kedua, meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas melalui pelatihan, pendampingan desain, pengelolaan usaha, serta pemanfaatan teknologi digital.

Ketiga, memperkuat koperasi dan kelembagaan perajin agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam menghadapi mitra usaha.

Keempat, memastikan setiap kemitraan bisnis memberikan kepastian mengenai standar produksi, harga, pembayaran, perlindungan desain, dan pembagian manfaat yang adil.

Kelima, membangun sistem regenerasi perajin melalui pelibatan generasi muda agar keterampilan menyulam tidak terputus oleh perubahan zaman.

Dalam pelaksanaannya, Dekranasda, pemerintah daerah, koperasi, perbankan, pelaku industri kreatif, dan komunitas perajin harus berjalan dalam satu arah.

Nita Azis dapat memainkan peran strategis sebagai penghubung di antara berbagai kepentingan tersebut. Akan tetapi, keberhasilan jangka panjang tidak dapat dibebankan kepada satu figur saja. Ia membutuhkan dukungan kebijakan, anggaran yang tepat sasaran, kemitraan yang sehat, serta partisipasi aktif masyarakat.

Dengan demikian, capaian internasional yang telah diraih dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi kreatif yang kuat, bukan sekadar kebanggaan sesaat.

Penutup: Membawa Nama Daerah, Mengangkat Martabat Perajin

Sulaman Kapalo Samek Pasia Baru memberikan pelajaran bahwa warisan budaya lokal memiliki peluang besar untuk berkembang apabila dipertemukan dengan inovasi, jejaring, dan strategi pemasaran yang tepat.

Peran Nita Azis dalam membawa karya tersebut ke ruang promosi internasional patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya memperluas pengenalan budaya Padang Pariaman. Langkah tersebut membuka peluang agar sulaman tradisional tidak hanya bertahan di kampung asalnya, tetapi juga mendapatkan tempat dalam industri kreatif global.

Namun, pencapaian tertinggi bukanlah ketika nama Sulaman Kapalo Samek disebut di Eropa. Pencapaian tertinggi adalah ketika para perajin di Pasia Baru merasakan perubahan nyata dalam kehidupan mereka.

Ketika pesanan semakin berkelanjutan, pendapatan meningkat, koperasi semakin kuat, anak-anak muda tertarik melanjutkan tradisi, dan perempuan perajin memiliki posisi ekonomi yang lebih baik, pada saat itulah promosi budaya benar-benar menghasilkan pembangunan.

Padang Pariaman memiliki warisan, memiliki keterampilan, dan kini mulai memiliki akses menuju pasar yang lebih luas. Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut agar tidak terhenti di tengah jalan.

Dari Pasia Baru menuju dunia, Sulaman Kapalo Samek harus menjadi lebih dari sekadar simbol kebanggaan daerah. Ia harus menjadi bukti bahwa budaya yang dirawat dengan sungguh-sungguh dapat menggerakkan ekonomi, memberdayakan perempuan, dan mengangkat martabat masyarakatnya.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah warisan budaya bukan semata-mata sejauh mana ia dikenal dunia, melainkan sejauh mana ia mampu menyejahterakan orang-orang yang menjaga dan mewariskannya. *

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690