AGAM, Sumbarpro – Peristiwa keracunan massal kembali terjadi di Kabupaten Agam. Ratusan warga di Kecamatan Palupuh mengalami gangguan kesehatan diduga setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Total korban yang tercatat mencapai 334 orang, terdiri dari 273 siswa SD, 19 guru SD, 40 siswa SMP, dan 2 guru SMP. Mereka berasal dari sejumlah sekolah, seperti SDN 08 Nan Limo, SMPN 1 Palupuh, dan SMPN 2 Palupuh.
Selain siswa dan guru, korban juga meliputi ibu menyusui dan anak balita.
Keluhan kesehatan mulai dirasakan pada Selasa (1/9/2926). Gejala yang dialami beragam, mulai dari sakit perut, mual, muntah-muntah, pusing, hingga diare dan demam panas.
Sebanyak 146 korban mendapatkan pertolongan di Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Palupuh. Dua orang korban dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi untuk perawatan lebih lanjut, yaitu RSUD Bukittinggi dan RST Bukittinggi.

Sebagian besar korban yang mendapat penanganan di puskesmas telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
Hingga Rabu sore (2/9/2026), tidak ada lagi pasien yang menjalani observasi di puskesmas, kecuali dua orang yang masih dirawat di rumah sakit.
Dinas Kesehatan Kabupaten Agam menurunkan tim untuk memantau proses penanganan dan membuka posko pemantauan perkembangan korban.
Wini, seorang ibu rumah tangga warga Jorong Mudiak Palupuh, menyaksikan ketiga anaknya jatuh sakit secara bersamaan. Anak bungsunya yang masih balita berusia 3,5 tahun mengalami muntah, mencret, dan demam tinggi.
Wini mengungkapkan, saat makanan disajikan, tidak ada keanehan pada rasa maupun aroma. Ketiga anaknya justru menyantap makanan dengan lahap hingga habis.
Wali Nagari Koto Rantang, Novri Agus Parta Wijaya, juga merasakan dampak langsung. Istrinya yang baru melahirkan dan putranya yang berusia 3,5 tahun ikut keracunan setelah mengonsumsi MBG dari posyandu.
Menurut Novri, lebih dari 100 warganya terkena keracunan. Akibatnya, masyarakat merasa trauma.
“Kini masyarakat trauma,” katanya.
Dapur SPPG Ditutup Sementara
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi memerintahkan penutupan sementara dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai makanan tersebut.
“Dapurnya ditutup. Harus ditutup, diamankan dulu, kemudian diperiksa, baru nanti dilanjutkan,” tegasnya.
Penutupan ini dilakukan untuk meminimalisasi dampak dan mempermudah proses investigasi oleh Dinas Kesehatan. Gubernur juga menyebut kejadian ini sebagai evaluasi keras bagi seluruh pengelola dapur MBG di Sumbar.
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan masih dalam penyelidikan. Seluruh korban diketahui mengonsumsi makanan yang berasal dari satu dapur SPPG yang sama di Pasia Laweh.
Menu MBG yang dibagikan terdiri dari telur puyuh, sayuran seperti timun, tomat, dan selada, serta tempe.
Pemerintah Kabupaten Agam bergerak cepat. Wakil Bupati Muhammad Iqbal bersama jajaran Forkopimda langsung turun ke lokasi.
Langkah pertama yang diambil adalah menghentikan operasional dapur SPPG Pasia Laweh yang diduga menjadi sumber makanan.
Kepala Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian mengatakan, pihaknya bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengambil sampel makanan dan feses korban untuk diuji di laboratorium.
Hasil pemeriksaan masih ditunggu untuk memastikan apakah ada kaitan antara makanan yang dikonsumsi dengan keluhan kesehatan yang dialami.
“Kita juga membuka posko untuk memantau perkembangan penanganan korban keracunan,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Rosva Deswira, mengungkapkan bahwa telur puyuh menjadi salah satu bahan yang dicurigai.
“Memang ada indikasi telur puyuh, tetapi kami belum bisa memastikan,” ujarnya.
Menurutnya, hasil pasti baru bisa diketahui setelah pemeriksaan laboratorium selesai.
Rosva juga mengingatkan bahwa bahan pangan hewani seperti telur sangat rentan rusak dan harus segera dikonsumsi.
“Setelah dimasak pun harus dimakan dalam rentang lima jam,” katanya.
Namun, Bupati Agam Benni Warlis masih bersikap hati-hati.
“Belum bisa dipastikan MBG. Kami masih menunggu hasil laboratorium,” katanya.
Terulangnya Tragedi 2025
Ini bukan pertama kalinya Agam dilanda musibah serupa. Pada Oktober 2025, kasus serupa terjadi di Kecamatan Lubuk Basung dan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Saat itu, menu nasi goreng, telur, tahu, dan tempe diduga menjadi penyebab keracunan yang menimpa 122 orang, mayoritas anak-anak.
Kasus berawal ketika 2.699 porsi nasi goreng MBG didistribusikan ke 27 sekolah di Agam oleh SPPG Kampuang Tangah. Para siswa menyantap menu tersebut sekitar pukul 10.00 WIB.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 14.00 WIB, mulai muncul keluhan mual dan sakit perut.
Jumlah korban terus bertambah dari hari ke hari. Pada hari pertama (1/10/2025) jumlah korban sekitar 35 orang, hari kedua Kamis (2/10/2025) menjadi 110 orang, dan hari ketiga Jumat (3/10/2025) mencapai 122 orang.
Korban didominasi oleh siswa TK dan SD, serta 6 guru dan 2 orang tua siswa yang ikut mencicipi makanan yang dibawa pulang anak-anak.
Sama seperti kejadian sekarang, saat itu para korban baru merasakan gejala beberapa jam setelah menyantap makanan.
Kasus 2025 juga mengungkap kelemahan dalam pengelolaan program. Tujuh dapur SPPG di Agam ternyata belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). (edt*)



