Sumbarpro — Enam dekade setelah wafatnya, perjuangan visioner Rahmah El Yunusiyah resmi diabadikan sebagai Pahlawan Nasional.
Dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025), Presiden RI Prabowo Subianto menganugerahkan gelar prestisius itu kepada sepuluh tokoh, salah satunya perempuan pelopor pendidikan Islam asal Sumatera Barat ini.
Penganugerahan yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116 Tahun 2025 ini mengukuhkan Rahmah El Yunusiyah (1900–1969) sebagai sosok berjasa besar tidak hanya dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga memajukan pendidikan Islam yang secara eksklusif dikhususkan bagi perempuan.
Pendiri Sekolah Putri Pertama, Inspirasi Al-Azhar
Lahir di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, Rahmah tumbuh dalam lingkungan religius.
Tidak puas dengan sistem sekolah yang mencampur murid laki-laki dan perempuan, dengan tekad kuat ia memutuskan memperdalam ilmu agama langsung kepada ulama Minangkabau, sebuah langkah berani yang jarang dilakukan perempuan masa itu.
Gagasan besarnya terwujud pada 1 November 1923 dengan mendirikan Diniyah Putri Padang Panjang, lembaga pendidikan Islam pertama di Indonesia yang dikhususkan bagi perempuan.
Sekolah ini tak hanya mengajarkan ilmu agama, melainkan juga keterampilan praktis demi kemandirian kaum hawa, menjadikannya tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional.
Kiprahnya bahkan mendapat pengakuan dunia. Pada 1957, dalam kunjungan balasan ke Universitas Al-Azhar, Mesir, Rahmah menerima gelar kehormatan “Syekhah”, gelar yang belum pernah diberikan kepada perempuan sebelumnya.
Inspirasi dari Diniyah Putri juga mendorong Al-Azhar mendirikan Kulliyatul Banat, fakultas khusus perempuan.
Pejuang Revolusi dan Tahanan Belanda
Di samping dedikasinya sebagai pendidik, Rahmah adalah pejuang kemerdekaan.
Ia memimpin Haha No Kai (organisasi perempuan) di masa pendudukan Jepang dan berperan membentuk unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) saat Revolusi Nasional.
Murid-muridnya ia kerahkan untuk membantu logistik, obat-obatan, hingga alat senjata.
Aktivitas perjuangannya ini menyebabkan Rahmah ditangkap oleh Belanda dan sempat ditahan pada 7 Januari 1949.
Setelah kemerdekaan, ia sempat terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Masyumi pada Pemilu 1955, meskipun kemudian memilih fokus pada perjuangan lapangan.
Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia sebelumnya telah menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013.
Kini, perjuangan sang pelopor pendidikan perempuan ini resmi diabadikan sebagai Pahlawan Nasional, meninggalkan warisan abadi melalui Diniyah Putri yang berkembang dari TK hingga perguruan tinggi. (ak)

















