Jakarta, Sumbarpro — Perempuan Indonesia berada di persimpangan perubahan zaman. Kesempatan untuk bekerja dan berusaha semakin terbuka, tetapi di balik itu masih tersimpan persoalan klasik yang belum tuntas.
Kesenjangan upah, beban domestik, sulitnya akses modal hingga ancaman hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, menilai persoalan perempuan saat ini tidak bisa lagi hanya dilihat dari sisi pemberdayaan ekonomi.
Perubahan teknologi dan pola kerja juga harus menjadi perhatian karena berpotensi mengubah peta pekerjaan yang selama ini banyak diisi perempuan.
Menurut Lisda, sedikitnya terdapat lima persoalan besar yang masih membayangi perempuan Indonesia.

Persoalan tersebut saling berkaitan, mulai dari ketimpangan ekonomi, beban ganda di rumah, keterbatasan akses pembiayaan, hingga tantangan menghadapi otomasi dan kecerdasan buatan (AI).
“Pertama adalah ekonomi dan ketimpangan akses, seperti kesenjangan upah. Saat ini wanita Indonesia dibayar 20-30 persen lebih rendah untuk posisi yang sama,” ujar Lisda dalam keterangannya dikutip Rabu (12/8/2026).
Kesenjangan ekonomi itu, kata dia, tidak berdiri sendiri. Perempuan pekerja masih harus menghadapi persoalan lain berupa beban domestik yang relatif besar.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor atau tempat usaha, mereka kembali berhadapan dengan tanggung jawab mengurus rumah tangga dan keluarga.



