PADANG, Sumbarpro – Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy, perwira tinggi spesialis intelijen yang resmi memimpin Polda Sumatera Barat pada 4 Juli 2026, harus mengakhiri masa jabatannya hanya dalam hitungan bulan.
Pada 2 Oktober 2026, sebuah surat telegram Kapolri menegaskan bahwa tongkat komando Polda Sumbar berpindah tangan lagi. Kali ini kepada Irjen Pol Jawari.
Namun, dalam waktu singkat itu, Djati meninggalkan jejak yang cukup kuat untuk dikenang. Dua peristiwa besar menandai masa kepemimpinannya. Ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang dan bencana galodo yang menerjang Kabupaten Solok.
Di kedua momentum itu, Djati tidak sekadar duduk menerima laporan, ia turun langsung ke lapangan.
Insiden Bom di MAN 3 Padang
Selasa siang (14/7/2026), sekitar pukul 11.00 WIB, sebuah ledakan mengguncang Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Padang di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah.
Suara ledakan terdengar dari dalam kompleks sekolah saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung.
Ledakan itu diduga berasal dari bom rakitan yang dibawa seorang siswa. Tim Gegana Polda Sumatera Barat bersama Tim Inafis langsung mendatangi lokasi untuk melakukan sterilisasi dan olah tempat kejadian perkara. Ruang kelas yang diduga menjadi lokasi ledakan dipasangi garis polisi.
Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy bersama Kapolresta Padang Kombes Pol Apriwibowo turun langsung ke lokasi. Keduanya meninjau TKP dan memantau pemeriksaan terhadap siswa yang diamankan di ruang kepala sekolah.

Penanganan kasus ini melibatkan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri. Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa barang yang diduga bom rakitan pertama kali ditemukan oleh petugas keamanan sekolah.
“Dari pemeriksaan awal, petugas mengamankan sejumlah barang, antara lain kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, baut, dan beberapa barang lainnya,” jelasnya.
Pelajar berinisial R (17 tahun) diamankan karena diduga sebagai pemilik barang-barang tersebut. Ia mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada 2025.
Motifnya melakukan aksi itu karena mengaku sering di-bully oleh teman sekelasnya.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini. Seluruh siswa dipulangkan sebagai langkah pengamanan.
Kehadiran Kapolda di lokasi ledakan menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius menangani insiden yang menyentuh dunia pendidikan.
Di tengah kepanikan warga sekolah dan orang tua, kehadiran langsung orang nomor satu di Polda Sumbar setidaknya memberikan rasa aman bahwa situasi sedang ditangani secara profesional.
Galodo Solok
Belum kering air mata akibat banjir bandang akhir November 2025, Sumatera Barat kembali diuji. Senin malam (21/9/2026), sekitar pukul 20.00 WIB, banjir bandang atau galodo disertai tanah longsor menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok.
Material lumpur, batu, kayu, dan tanah menutup sejumlah akses jalan hingga menerjang Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok.
Jalur utama yang menghubungkan Kota Padang dengan Kabupaten Solok terputus. Dua warga meninggal dan delapan lainnya mengalami luka-luka.
Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy merespons cepat. Malam itu juga, personel Polri dikerahkan ke lokasi. Keesokan harinya, Selasa (22/9/2026), ia turun langsung ke lokasi bencana untuk memastikan pencarian korban dan pembukaan akses berjalan maksimal.
“Jajaran Polda Sumbar harus memberikan penanganan yang maksimal atas bencana ini. Prioritas utamanya adalah keselamatan dan keamanan warga,” tegas Djati saat meninjau lokasi.
