Semen Padang FC di Era Teco: Dua Laga, Satu Pola Lama

Redaksi
A+A-
Reset
Logo Semen Padang FC

DUA pertandingan, nol kemenangan, dan dua gol yang bersarang di menit ke-90+. Itulah rapor awal Stefano “Teco” Cugurra di awal kepelatihannya bersama Semen Padang FC.

Di atas kertas, dua laga ini adalah masa transisi yang wajar. Namun, sebenarnya dua pertandingan ini sudah cukup untuk memperlihatkan pola yang mengganggu.

Kabau Sirah bukan kalah karena kualitas lawan semata, melainkan karena kegagalan mengelola momen krusial di penghujung laga.

Debut yang Tercoreng

Laga perdana Teco adalah menghadapi Persikad Depok. Ia langsung menurunkan formasi favoritnya, 4-3-3 defensif, dengan beberapa penyesuaian personel. Di bawah mistar, Ikram Al Giffari tetap dipercaya.

Lini belakang diisi Novri Setiawan yang menjalani debut, berduet dengan Igor Cukovic, Safrudin Tahar (kapten), dan M. Rezaldi Hehanussa.

Di tengah, trio Muhammad Hargianto, David Maulana, dan Muhammad Alwi Slamat diturunkan untuk menjaga keseimbangan.

Sementara itu, Stefano Lilipaly digeser ke sayap kanan, Mierza Firjatullah di sayap kiri, dan Ilija Spasojevic sebagai ujung tombak.

Semen Padang tampil mengejutkan. Bermain di kandang lawan, mereka justru mendominasi penguasaan bola di babak pertama.

Gol pembuka datang pada menit ke-39 lewat tendangan spektakuler Alwi Slamat dari luar kotak penalti. Bola mengenai pemain belakang Persikad dan mengecoh kiper. Keunggulan 1-0 bertahan hingga turun minum.

Masalah mulai muncul di babak kedua. Persikad meningkatkan intensitas. Pada menit ke-63, Fikri Ardiansyah menyamakan kedudukan lewat sundulan.

Teco merespons dengan memasukkan J. Batista menggantikan Spasojevic pada menit ke-70 untuk menambah daya gedor.

Namun, upaya itu sia-sia. Pada menit 90+5, Jhon Mena memanfaatkan skema serangan balik dan mencetak gol kemenangan Persikad. Semen Padang pulang tanpa poin.

Statistik memperlihatkan efisiensi yang timpang. Persikad melepaskan 6 tembakan tepat sasaran dari 12 percobaan, sementara Semen Padang hanya 2 dari 8. Artinya, dominasi bola tidak berbanding lurus dengan ketajaman.

Lebih dari itu, gol kemenangan Persikad lahir dari transisi cepat, sebuah celah yang seharusnya menjadi makanan sehari-hari pelatih defensive seperti Teco.

Dua gol tercipta di babak kedua, termasuk satu gol di masa injury time. Ini harus dijadikan alarm awal tentang konsentrasi dan organisasi bertahan di momen krusial.

‘Menang Semangat’ di Derby Sumatera

Laga kedua dalam derby Sumatera menghadapi PSMS Medan, Teco melakukan satu perubahan personel penting.

Savio Roberto Juliao Figueiredo langsung diturunkan sejak awal, menggantikan David Maulana di lini tengah. Savio berduet dengan Hargianto dan Alwi Slamat.

Lini belakang tetap sama: Novri Setiawan, Igor Cukovic, Safrudin Tahar (kapten), dan Rezaldi Hehanussa.

Di depan, Spasojevic tetap menjadi penyerang tunggal, dengan Mierza sebagai second striker, serta Lilipaly dan Alwi Slamat sebagai penyerang sayap.

Formasi masih 4-3-3, tetapi dengan peran Mierza yang lebih condong ke dalam, hampir menyerupai 4-3-3 dengan false nine.

Laga berjalan ketat. PSMS lebih agresif, sementara Semen Padang mencoba membangun permainan lewat Lilipaly dan Spasojevic. Babak pertama berakhir 0-0.

Memasuki babak kedua, Teco memasukkan Risman Ariyanto Maring menggantikan Muhammad Alwi Slamat untuk meningkatkan daya gedor. Namun, hingga menit ke-90, skor tetap imbang.

Drama terjadi di masa tambahan waktu. Javier Siverio mencetak gol untuk PSMS pada menit 90+4, membawa Ayam Kinantan unggul 1-0.

Ketika publik Stadion Patriot Chandrabhaga mulai pasrah, Risman Ariyanto Maring mencetak gol penyama kedudukan pada menit 90+14, menyelamatkan satu poin bagi Kabau Sirah.

Hasil ini memang lebih baik dari laga pertama. Ada semangat pantang menyerah yang patut diapresiasi. Namun, masalah yang sama masih menghantui.

Semen Padang kembali kebobolan di menit-menit akhir. Kali ini bahkan di menit 90+4, setelah tampil cukup disiplin sepanjang laga.

Gol Risman menyelamatkan muka, tetapi tidak menutupi fakta bahwa organisasi pertahanan di momen krusial masih rapuh.

Selain itu, lini serang belum tajam. Satu-satunya gol tercipta dari situasi dramatis, bukan dari pola serangan yang di-build-up dengan rapi.

Teco Punya ‘Masalah’ yang Sama dengan Nil Maizar

Dua laga di bawah Teco memperlihatkan kontinuitas masalah, bukan solusi. Pertama, konsentrasi di penghujung laga.

Di laga pertama, gol kemenangan lawan tercipta di menit 90+5. Di laga kedua, gol lawan tercipta di menit 90+4.

Ini jelas bukan kebetulan. Ini adalah ‘pola’. Tim kehilangan fokus, atau mungkin kelelahan, di momen-momen paling menentukan.

Kedua, ketajaman lini depan. Semen Padang memiliki Spasojevic, Lilipaly, dan Mierza. Tiga nama itu seharusnya lebih dari cukup untuk mendominasi lini depan di Liga 2.

Namun, dari dua laga, hanya ada satu gol dari permainan terbuka (Alwi Slamat) dan satu gol dramatis di injury time (Risman).

Spasojevic ditarik keluar di laga pertama tanpa gol. Di laga kedua, ia bermain penuh tetapi tidak mencetak gol. Ini mengindikasikan bahwa suplai bola ke penyerang belum optimal, atau kombinasi trio depan belum matang.

Ketiga, transisi bertahan. Teco dikenal sebagai pelatih yang pragmatis dan mengandalkan serangan balik. Namun, di dua laga ini, justru Semen Padang yang beberapa kali menjadi korban serangan balik lawan.

Gol Jhon Mena di laga pertama adalah contoh sempurna. Persikad bertahan, merebut bola, dan melakukan serangan balik cepat. Semen Padang, yang seharusnya nyaman bermain dengan pola seperti itu, justru kesulitan mengantisipasinya.

Situasi di Papan Tengah yang Menyesakkan

Dengan tambahan satu poin dari laga kontra PSMS, Semen Padang kini mengoleksi 7 poin dari 6 pertandingan, tertahan di peringkat keenam Grup A (Barat).

Jarak dengan pemuncak klasemen, PSPS Pekanbaru (15 poin), sudah terpaut delapan angka. Ini bukan jarak yang mustahil dipacu, tetapi jelas bukan jarak yang bisa diabaikan begitu saja.

Liga 2 dengan format triple round robin memang panjang, tetapi momentum sangat berharga. Setiap poin yang hilang di awal musim harus ditebus dengan kerja ekstra di putaran-putaran berikutnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan terhadap Teco akan meningkat. Manajemen memecat Nil Maizar setelah empat laga dengan rapor yang tidak buruk.

Teco, dengan kredibilitas (dan gaji yang mungkin jauh lebih besar), tidak akan mendapat toleransi yang lebih longgar. Jika dalam dua hingga tiga laga ke depan tidak ada kemenangan, kursi panas itu dipastikan akan kembali bergolak.

Jadwal ke depan tidak memberi Teco ruang bernapas. Setelah PSMS, Semen Padang akan menghadapi Persiku Kudus (24 Oktober), Sumsel United (30 Oktober), dan Adhyaksa FC Bekasi (7 November) sebelum bertemu PSIS Semarang pada 21 November.

Persiku saat ini berada di dasar klasemen dengan poin negatif. Kabau Sirah wajib menang. Sumsel United dan Adhyaksa berada di papan tengah bawah, dua laga yang juga harus dimaksimalkan.

Jika Teco mampu meraih enam hingga tujuh poin dari tiga laga itu, posisi Semen Padang bisa kembali kompetitif. Jika tidak, narasi ‘proyek jangka panjang’ yang selama ini didengungkan akan kembali pecah di tengah jalan.

Sejatinya, Teco bukanlah masalah utama. Masalah utamanya adalah ‘budaya instan’ di ruang manajemen.

Teco butuh waktu untuk menanamkan ide-idenya, terutama dalam memperbaiki konsentrasi bertahan dan mempertajam lini depan.

Dua laga memang terlalu dini untuk menghakimi. Tetapi dua laga juga cukup untuk melihat bahwa pekerjaan rumahnya jelas dan mendesak.

Kabau Sirah tidak kekurangan materi. Tim ini kekurangan ketenangan di momen krusial dan kesabaran dari kursi manajemen.

Jika keduanya bisa bermuara di titik temu, promosi ke Super League bukanlah mimpi. Jika tidak, siklus pergantian pelatih akan kembali berputar, dan Liga 2 akan tetap menjadi ‘rumah’ bagi klub kebanggaan urang awak ini untuk waktu yang lebih lama. (ak)

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690