Sumbarpro — Kafilah Sumatera Barat pulang dari Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXXI di Semarang tanpa membawa hasil membanggakan. Sumbar gagal menembus jajaran sepuluh besar.
Ini bukan kali pertama. Sejak 2024 di Samarinda, Sumbar juga terlempar dari sepuluh besar. Padahal pada 2022 di Banjar, Kalimantan Selatan, Sumbar masih berada di peringkat kelima. Ada penurunan yang nyata dan berlangsung terus menerus.
MTQ Nasional tahun ini diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi. Mereka berlomba di delapan cabang, 24 golongan, dan 48 kategori.
Kalimantan Timur keluar sebagai juara umum dengan 288 poin. Jawa Tengah sebagai tuan rumah di peringkat kedua dengan 208 poin. DKI Jakarta ketiga dengan 129 poin.
Sumbar tidak ada di daftar sepuluh besar itu. Prestasi tertinggi Kontingen Tuah Sakato hanya Juara 2 cabang Kaligrafi Digital Putra.

Yang menarik, di ajang MTQ Korpri Nasional, Sumbar justru berhasil mempertahankan juara umum untuk ketiga kalinya berturut-turut. Ini kontras sekali.
Kenapa bisa berbeda?
Ada beberapa kemungkinan. Pertama, persiapan di MTQ Nasional memang kurang matang. Kedua, pembinaan peserta tidak berkelanjutan. Ketiga, seleksi di tingkat provinsi belum menghasilkan peserta terbaik. Keempat, metode pembinaan belum mengikuti perkembangan zaman.
Kalau kita lihat pola tiga edisi terakhir, penurunannya konsisten. Dari peringkat lima tahun 2022 lalu terlempar dari 10 besar di dua edisi MTQ 2024 dan 2026. Ini jelas bukan kebetulan. Ini masalah serius.
Pemerintah daerah harus mengakui ada yang salah dalam pembinaan. Jangan hanya menyalahkan peserta atau hakim. Jangan hanya mengklaim yang penting sudah berpartisipasi. Kompetisi itu soal prestasi. Kalau target sudah dicanangkan, hasilnya harus dievaluasi.
Wakil Gubernur Sumbar yang juga Ketua Umum LPTQ Sumbar sempat optimis lima besar. Sayangnya, target itu tidak tercapai. Ini pukulan berat.
Tapi target yang tidak tercapai justru harus menjadi cambuk. Jangan dipendam. Jangan dicari alasan. Carilah akar masalahnya.
Pembinaan qari dan qariah tidak bisa hanya menjelang MTQ. Harus ada pembinaan rutin sepanjang tahun. Ada pelatih yang mumpuni. Ada fasilitas yang memadai. Ada anggaran yang cukup.
Tak kalah penting ada regenerasi peserta. Jangan bergantung pada nama yang sama dari edisi ke edisi. Peserta muda harus terus disiapkan. Sekolah dan pesantren harus dilibatkan. Para juara daerah harus diberi ruang untuk terus berkembang.
Kita juga perlu belajar dari daerah yang berhasil. Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta konsisten di puncak. Apa yang mereka lakukan? Bagaimana pola pembinaan mereka? Bagaimana seleksi dan pelatihannya?
Kita perlu meniru yang baik. Bukan gengsi untuk mengakui keunggulan daerah lain.
Menteri Agama saat menutup acara mengingatkan bahwa musabaqah berakhir, tapi tugas membumikan nilai-nilai Alquran tidak berakhir. Ini pesan penting. MTQ bukan sekadar ajang lomba, tapi adalah sarana syiar.
Tapi syiar butuh kualitas. Kita jangan hanya sekadar berpartisipasi. Kita harus berani mengejar prestasi. Untuk itu, pembinaan harus serius.
Pemerintah provinsi, LPTQ, Kementerian Agama, dan seluruh pemangku kepentingan harus duduk bersama. Cari tahu apa yang kurang.
Perbaiki metodologi. Tambah anggaran pembinaan. Perbanyak pelatihan. Libatkan ahli. Lakukan evaluasi menyeluruh. Jangan tunggu sampai MTQ 2027 di Jakarta baru sibuk lagi.
Sekarang saatnya bergerak. Prestasi bukan hasil semalam. Prestasi lahir dari kerja keras dan keseriusan.
Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah jangan hanya sekadar slogan.Sumbar punya potensi. Jangan biarkan terus terpuruk. *



