Mewaspadai Ancaman Lahar Hujan di Hilir Arosuka

Redaksi
A+A-
Reset
Editorial Media Online Sumbarpro

Sumbarpro

BADAN Geologi baru saja mengingatkan sesuatu yang bikin bulu kuduk berdiri. Kawasan Arosuka di Kabupaten Solok berpotensi diterjang lahar hujan, bahaya sekunder yang datang setelah galodo 21 September lalu. Ini hasil kajian tim yang turun langsung ke lapangan.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, wilayah hilir Arosuka tersusun dari endapan vulkanik muda, batu apung, tuf, dan lahar yang belum padat sempurna.

Batuan berpori tinggi ini gampang jenuh air. Saat hujan deras turun, material di hulu yang masih longgar bisa tergerus dan mengalir ke bawah.

Apalagi bentuk lembah sungainya V terjal, secara alami memusatkan debit air ke satu titik di hilir. Bahkan, beda tinggi hulu dan hilir mencapai 1.325 meter. Energi gravitasinya jelas bukan main.

Bayangkan saja, air yang mengalir dari ketinggian segitu punya kekuatan yang sanggup menyapu apa saja di jalurnya.

Peristiwa 21 September lalu sebenarnya sudah memberi pelajaran. Material longsor berupa tanah, batu vulkanik, sampai bongkah andesit ukuran 2-3 meter membendung alur sungai.

Bendungan alami itu jebol dan menyapu kawasan hilir hingga radius 8 kilometer.

Pasang iklan anda di space ini, hubungi sumbarpro media online portal berita dan informasi terkini di whatsapp 081275690690

Sekarang material sisa di lereng atas masih menunggu. Kapan bergeraknya, tergantung hujan. Kalau curah hujan melebihi kapasitas tanah menyerap air, bukan tidak mungkin lahar hujan susulan terjadi.

Masyarakat di bantaran sungai sudah diminta siaga. Tapi siaga saja tidak cukup kalau tidak ada tempat berlindung yang jelas, jalur evakuasi yang terpasang, dan latihan rutin yang melibatkan warga.

Pemerintah daerah sudah bergerak ke arah relokasi. Bupati Solok Jon Firman Pandu menyusun skema pemindahan kawasan terpadu, terutama untuk kompleks perkantoran yang berdiri di alur sungai lama.

Harus diakui, langkah ini berat, butuh waktu, butuh anggaran. Tapi keselamatan warga tidak bisa ditawar.

Yang perlu dijaga, relokasi jangan hanya memindahkan bangunan, tapi juga memastikan warga punya mata pencaharian baru. Kalau tidak, mereka akan kembali lagi ke tempat lama karena terpaksa.

Sementara menunggu relokasi tuntas, ada hal-hal kecil yang bisa segera dikerjakan. Pasang papan peringatan di titik rawan, bersihkan alur sungai dari material sisa, dan libatkan tokoh nagari untuk sosialisasi.

Jangan tunggu hujan datang baru kita ‘kalimpasiangan’. Sebab, alam sudah memberi isyarat. *

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690