Sepanjang kariernya, Tandyo pernah menduduki sejumlah posisi penting, di antaranya Komandan Brigif Linud 17/Kujang I (2011-2012), Asisten Operasi Kasdam VII/Wirabuana (2014), Komandan Rindam IX/Udayana (2015), hingga Komandan Resimen Taruna Akmil.
Di Kementerian Pertahanan, ia pernah menjabat Direktur Bela Negara (2018-2019), Direktur Kerjasama Pertahanan (2019-2021), dan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (2021-2023).
Puncak karier Tandyo terjadi saat ia dipercaya menjadi Panglima Kodam IV/Diponegoro pada 2023-2024, lalu diangkat menjadi Wakil KSAD pada Februari 2024, dan Wakil Panglima TNI pada Agustus 2025.
Kepala BNPB Diganti di Tengah OTT KPK
Sementara itu, Kristomei Sianturi dilantik sebagai Kepala BNPB menggantikan Letjen TNI Suharyanto yang dicopot dari jabatannya.
Pencopotan Suharyanto terjadi di tengah pusaran kasus dugaan korupsi yang menimpa BNPB.
Sebelumnya, pada Selasa (13/10/2026), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan BNPB terkait dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa yang menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) kebencanaan.
KPK awalnya mengamankan 14 orang namun belakangan hanya menetapkan lima orang sebagai tersangka. Salah satunya adalah Bima Setiawan, adik kandung Suharyanto yang juga menjabat sebagai Tenaga Ahli Kepala BNPB.

Kristomei Sianturi lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 6 Mei 1976. Ia merupakan alumni SMA Taruna Nusantara tahun 1994 dan lulus Akademi Militer pada 1997 dari kecabangan Infanteri.
Sebelum dilantik sebagai Kepala BNPB, Kristomei menjabat sebagai Panglima Kodam XXI/Radin Inten. Ia juga pernah menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) pada 2023-2024 dan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI pada awal 2025.
Usai dilantik, Kristomei langsung menyerahkan penanganan kasus OTT KPK tersebut kepada aparat penegak hukum.
“Kalau masalah itu, kita serahkan kepada aparat penegak hukum. Kita tidak akan intervensi. Silakan aparat penegak hukum memproses itu sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Kristomei.
