JAKARTA, Sumbarpro – Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Pelantikan ini berlangsung sehari setelah reshuffle kabinet yang mengganti Kapolri dan sejumlah menteri. Komposisi Wantimpres diisi sederet nama terkenal, mulai dari sosok yang dikenal kritikus, pengusaha, hingga mantan Ketua MK.
Pelantikan digelar sekitar pukul 15.30 WIB. Presiden Prabowo tiba didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Keputusan Presiden, dan pengucapan sumpah jabatan yang dipandu Kepala Negara.
Sebanyak 26 anggota Wantimpres dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026. Bersamaan dengan itu, Presiden melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI dan Fadli Tri Hartono sebagai Wakil Kepala Bakom berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 106/P Tahun 2026.
Kursi penasihat Istana telah kosong hampir dua tahun. Selama dua tahun pertama pemerintahannya, Prabowo tidak mengangkat satu pun anggota Wantimpres. Lembaga yang dibentuk pada 2006 ini baru kembali resmi diisi pada Jumat sore kemarin.
Komposisi Wantimpres kali ini menggabungkan wajah lama dari pemerintahan sebelumnya dengan tokoh baru yang selama ini di luar lingkaran kekuasaan. Pimpinan Wantimpres terdiri dari Pratikno sebagai Ketua merangkap anggota, Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota.
Pratikno baru saja dicopot dari jabatan Menko PMK dalam reshuffle sehari sebelumnya. Hatta Rajasa adalah politikus senior PAN yang pernah menjabat sejumlah posisi menteri di era Megawati dan SBY. Muhammad Qodari sebelumnya menjabat Kepala Bakom, kini digantikan Syahganda.
Anggota Wantimpres lainnya adalah Shinta Nuriyah Wahid, Muhammad Quraish Shihab, Agum Gumelar, Chairul Tanjung, Said Aqil Siradj, Anwar Iskandar, Yahya Cholil Staquf, Yusuf Wanandi, Budi Gunawan, Bambang Soesatyo, dan Salim Segaf Aljufri.
Berikutnya, Soekarwo, Dato Sri Tahir, Rocky Gerung, Ida Bagus Purwalaksana, Philip Kuncoro Wijaya, Budi Tanuwibowo, Anwar Usman, Muhammad Hatta, Jusuf Hamka, Margarito Kamis, Zaki Manuputty, dan Ignasius Jonan.

Dua nama terakhir tidak hadir dalam prosesi pelantikan. Namun Pratikno menyatakan keduanya tetap secara hukum terdaftar sebagai anggota resmi Wantimpres yang bertugas memberikan pertimbangan kepada presiden.
Salah satu yang jadi sorotan adalah sosok Rocky Gerung yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai kritikus keras pemerintah. Kehadirannya dalam jajaran penasihat presiden menjadi salah satu kejutan terbesar.
Anwar Usman, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang diberhentikan akibat pelanggaran etika dalam perkara yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden, juga masuk dalam daftar anggota.
Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, dan Chairul Tanjung, pendiri CT Corp, mewakili kalangan pengusaha besar. Kehadiran mereka menegaskan Wantimpres kali ini tidak hanya diisi tokoh politik dan agama, tetapi juga kekuatan ekonomi nasional.
Dari kalangan tokoh agama, hadir Muhammad Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, Yahya Cholil Staquf, dan Shinta Nuriyah Wahid. Dua mantan pemimpin Nahdlatul Ulama turut memperkuat komposisi ini.
Di saat yang sama, Presiden Prabowo melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Bakom RI dan Fadli Tri Hartono sebagai Wakil Kepala. Syahganda menggantikan Muhammad Qodari yang beralih ke posisi Sekretaris Wantimpres.
Syahganda bukan nama asing di dunia aktivisme. Ia pernah dikenal sebagai aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia dalam demonstrasi menolak Omnibus Law. Setelah dilantik, ia menyampaikan Presiden meminta komunikasi dijadikan alat persatuan nasional.
Analis Centre for Strategic and International Studies, Arya Fernandes, menilai susunan baru Wantimpres dapat menjadi bagian dari upaya Prabowo memperkuat basis politik pemerintahannya. Namun, ia mengingatkan pekerjaan rumah terbesar justru memastikan Wantimpres benar-benar berperan dalam merumuskan kebijakan strategis, bukan sekadar kumpulan nama besar.
“Pekerjaan rumah besarnya adalah memastikan bahwa dewan penasihat ini benar-benar berperan dalam merumuskan kebijakan strategis,” kata Arya.
Pengamat lain menyoroti komposisi Wantimpres yang diisi berbagai latar belakang, dari politisi, pengusaha, tokoh agama, aktivis, pengamat politik, hingga pakar hukum. Ada yang menilai Prabowo ingin merangkul pihak di dalam maupun di luar kabinet melalui Wantimpres.
Pelantikan Wantimpres pada Jumat ini tidak bisa dilepaskan dari reshuffle kabinet besar-besaran sehari sebelumnya. Pada Kamis (1/10), Presiden Prabowo melantik 18 pejabat dalam perombakan gelombang ketujuh di Istana Negara. (ak/*)
