10 Tahun Terbaring Usai Operasi Usus Buntu, Gustina Akhirnya Dirujuk ke RSUP M. Djamil

Redaksi
A+A-
Reset
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, saat menjenguk Gustina Putri Ningsih yang terbaring di rumahnya di Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. (Ist.)

PADANG, Sumbarpro – Selama sepuluh tahun terakhir, ruang tamu sebuah rumah sederhana di Komplek Asabri Blok B1, Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, menjadi saksi bisu perjuangan sebuah keluarga.

Di sana, Gustina Putri Ningsih (26 tahun) terbaring tak berdaya. Perempuan kelahiran 2 Agustus 2000 itu tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa bergerak, dan bergantung pada bantuan oksigen serta perawatan keluarganya sejak menjalani operasi usus buntu pada 2016 silam.

Namun, titik terang akhirnya datang. Setelah bertahun-tahun terisolasi dalam keterbatasan ekonomi, Putri kini mendapat penanganan medis intensif di RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Kisah ini mencuat ke publik setelah adik Putri, Gustian Rasyid Syaka (11 tahun), memberanikan diri menghampiri Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, Kamis (29/10/2026). Saat itu, Andre tengah meninjau bedah rumah di kawasan Padang Sarai.

Dengan bahasa Minang yang polos, Rasyid memohon agar Andre mau melihat kondisi kakaknya.

“Pak, acok kalua tivi suko nolong orang, caliak lah kakak wak, sakik alah talatak 10 tahun, Pak,” ujar Rasyid.

Permintaan itu langsung ditanggapi. Andre mendatangi rumah keluarga Putri dan terkejut melihat kondisi perempuan yang akrab disapa Putri itu. Ia menemukan Putri terbaring lemah dengan selang oksigen, sementara kondisi rumah sangat sederhana.

Pada kesempatan itu, Andre langsung memberikan bantuan uang tunai Rp10 juta dan berjanji memfasilitasi pengobatan Putri ke rumah sakit.

Peristiwa nahas itu bermula pada 2016. Kala itu, Putri yang masih duduk di kelas II SMA Pertiwi Padang mengeluhkan sakit perut hebat hingga pingsan di sekolah. Ia didiagnosis menderita usus buntu dan dilarikan ke RSUD Rasidin Padang untuk menjalani operasi pengangkatan usus buntu.

Namun, seusai operasi, kondisi Putri justru memburuk. Ia mengalami kejang-kejang dan tidak kunjung sadarkan diri.

“Setelah operasi usus buntu, adik saya tidak sadarkan diri sampai sekarang,” kata pihak keluarga.

Selama sepuluh tahun, keluarga Putri merawatnya secara mandiri di rumah. Ibunya, Kartina (53 tahun), menjadi tulang punggung perawatan sehari-hari. Keterbatasan biaya membuat mereka tidak mampu membawa Putri ke rumah sakit secara rutin.

Beruntung, Puskesmas Anak Air dan RSUD dr. Rasidin Padang terus memberikan pendampingan. Tim medis dari RSUD dr. Rasidin datang setiap pekan untuk memeriksa kondisi Putri, memberikan susu, mengganti popok, dan memenuhi kebutuhan perawatan lainnya. Dinas Kesehatan juga menyalurkan bantuan obat-obatan dan tabung oksigen.

“Kami bersama perangkat kelurahan, RT, RW, dan tenaga kesehatan sudah beberapa kali mengunjungi Gustina. Selama ini, dia masih dalam kondisi sadar, tetapi tidak bisa berkomunikasi atau berbicara,” kata Bhabinkamtibmas Padang Sarai, Aiptu Budi Santoso.

Meski sadar, Putri tidak mampu merespons apa pun. Matanya terbuka, tetapi tubuhnya sepenuhnya lumpuh.

Servis Kursi dan Sofa di Kota Padang - Pasang Iklan dan Artikel di SUMBARPRO media online portal berita dan informasi terkini hubungi WhatsApp 081275690690